Marjane Satrapi adalah salah satu suara paling penting yang lahir dari Iran. Ia adalah penulis, ilustrator, dan sineas kelahiran Rasht, Iran, yang kemudian menetap di Prancis. Namanya dikenal luas melalui Persepolis, novel grafis autobiografis yang menceritakan masa kecil dan remajanya di tengah Revolusi Islam Iran dan perang Iran-Irak. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa, diadaptasi menjadi film animasi yang meraih berbagai penghargaan internasional, dan hingga kini dianggap sebagai salah satu karya paling berpengaruh dalam sejarah novel grafis modern.
Salah satu kekuatan utama dari buku Persepolis adalah kemampuan Satrapi untuk menggambarkan sejarah dengan sudut pandang yang personal dan sangat manusiawi. Melalui Persepolis, Satrapi mengajak pembacanya untuk melihat melalui perspektif seorang anak perempuan yang dipaksa memahami larangan, perang, pengasingan, dan kebebasan sebelum benar-benar mengerti apa arti semua kata itu.
Satrapi menunjukkan bahwa revolusi tidak hanya terjadi di jalan raya, parlemen, kantor ulama, markas tentara, atau ruang pengadilan. Revolusi juga terjadi ketika seorang anak harus belajar membaca ekspresi orang tuanya sebelum bertanya terlalu banyak. Revolusi terjadi ketika pakaian berubah menjadi instrumen negara. Revolusi terjadi ketika musik, pesta, rokok, poster, sepatu, dan rambut menjadi perkara politik.
Satrapi tidak membiarkan pembaca Barat merasa terlalu mudah menjadi hakim atas apa yang terjadi di negaranya. Ia juga tidak membiarkan pembaca Muslim atau pembaca dari dunia pascakolonial berlindung di balik romantisasi tradisi. Satrapi menulis dari tempat yang lebih jujur. Ia mencintai Iran tanpa harus mencintai negara yang mengawasinya. Ia memahami tradisi tanpa harus tunduk pada tradisi yang membungkamnya. Ia merayakan kebebasan tanpa berpura-pura bahwa Eropa adalah surga.
Satrapi tumbuh di tengah Revolusi Islam Iran. Masa kecilnya berada di bawah bayang-bayang runtuhnya monarki, naiknya rezim baru, perang Iran-Irak, sensor, penangkapan, dan kekerasan politik.
Namun yang membuat Persepolis menjadi salah satu bacaan penting bukanlah sekadar peristiwa-peristiwa besar itu—yang membuatnya menjadi penting adalah sudut pandangnya. Pembaca melihat sejarah dari mata seorang anak perempuan yang belum kehilangan kemampuan bertanya. Ia ingin menjadi nabi. Ia mengidolakan pahlawan revolusi. Ia marah kepada Tuhan. Ia bingung melihat orang dewasa berbicara tentang keadilan sambil hidup dalam ketakutan.
Pertanyaan anak-anak dalam Persepolis sering kali lebih berbahaya daripada pidato orang dewasa. Anak kecil belum pandai menyembunyikan kontradiksi. Ia bertanya: Mengapa orang yang dulu melawan penindasan kemudian menciptakan penindasan baru? Ia bertanya: Mengapa tubuh perempuan menjadi medan pembuktian moral sebuah rezim? Ia bertanya: Mengapa kematian seseorang bisa disebut pengorbanan oleh negara, tetapi tetap terasa sebagai kehilangan oleh keluarga?
Dalam politik, kita sering menggunakan kata-kata besar: revolusi, ideologi, kedaulatan, keamanan nasional, modernitas, imperialisme. Satrapi mengembalikan semua kata itu ke ukuran manusia. Ia menunjukkan bahwa “keamanan nasional” bisa berarti patroli moral di jalan.
“Ideologi” bisa berarti seorang perempuan dipaksa menyesuaikan cara berjalan. “Perang” bisa berarti rudal jatuh dekat rumah. “Pengasingan” bisa berarti seorang remaja di Eropa merasa terlalu Iran untuk diterima orang Eropa dan terlalu berubah untuk kembali sepenuhnya menjadi Iran.
Bagian ketika Marji yang beranjak remaja harus pindah dan tinggal di Eropa dalam Persepolis sama pentingnya dengan bagian ketika Marji kecil tinggal di Iran. Satrapi tidak menulis kisah pembebasan yang mudah. Ia memang keluar dari represi negara teokratis, tetapi ia masuk ke kesepian lain. Kebebasan di Eropa tidak otomatis menyembuhkan luka politik. Ia harus berhadapan dengan rasisme, prasangka, kemiskinan emosional, dan rasa asing yang sulit diterjemahkan. Ia belajar bahwa menjadi bebas tidak selalu berarti merasa pulang.
Itulah salah satu kejujuran terbesar Satrapi. Ia tidak menjual ilusi bahwa Barat adalah jawaban akhir. Ia juga tidak menjadikan Timur sebagai ruang nostalgia yang bersih. Satrapi adalah perempuan Iran, tetapi bukan hanya itu. Ia adalah eksil, seniman, anak keluarga progresif, saksi represi, penikmat musik punk, pembaca sejarah, perempuan yang marah, dan manusia yang rapuh. Ia tidak meminta pembaca memilih satu label untuknya.
Wafatnya Marjane Satrapi pada 4 Juni 2026 meninggalkan kehilangan yang tidak hanya dirasakan dunia sastra dan seni visual. Ia meninggalkan ruang kosong dalam percakapan global tentang kebebasan. Namun, Persepolis membuat kepergiannya tidak menjadi sunyi. Buku itu tetap berbicara. Ia berbicara kepada pembaca yang belum lahir ketika Revolusi Iran terjadi. Ia berbicara kepada perempuan yang tubuhnya masih diperebutkan oleh negara, agama, keluarga, dan pasar. Ia berbicara kepada siapa pun yang pernah merasa identitasnya terlalu rumit untuk dijelaskan dalam satu kalimat.
Kita perlu membaca Persepolis hari ini tidak hanya untuk mengenang Satrapi. Kita perlu membacanya karena dunia masih terlalu sering membicarakan rakyat sebagai angka. Korban perang menjadi statistik. Pengungsi menjadi beban kebijakan. Perempuan di bawah rezim represif menjadi simbol, bukan subjek. Satrapi menolak penghapusan semacam itu. Ia mengembalikan nama, wajah, humor, rasa takut, dan kemarahan kepada mereka yang biasanya diringkas menjadi “dampak konflik”.
Persepolis akhirnya bukan hanya cerita tentang Iran. Ia adalah cerita tentang bagaimana manusia bertahan ketika sejarah memaksanya tumbuh terlalu cepat. Ia adalah cerita tentang rumah yang hilang, tubuh yang diawasi, kebebasan yang tidak pernah gratis, dan ingatan yang menolak tunduk.
Marjane Satrapi telah pergi. Namun Marji—anak perempuan kecil dalam Persepolis itu—masih menatap kita dari halaman-halaman hitam-putihnya. Tatapannya tidak meminta belas kasihan. Ia meminta sesuatu yang lebih sulit: keberanian untuk melihat politik dari kehidupan manusia yang paling konkret.
Dari sana, barangkali, kita belajar bahwa sejarah yang besar selalu meninggalkan jejaknya pada hal-hal kecil: pada rambut yang ditutup paksa, pada musik yang disembunyikan, pada keluarga yang berbisik, pada anak yang bertanya mengapa dunia orang dewasa sering begitu kejam.




