Mata Lia Asmara Juwita berkaca-kaca. Kenangannya berputar kembali pada kejadian tiga bulan lalu. Dalam musyawarah keluarganya, perempuan berkacamata itu ditunjuk menggantikan ayah mereka yang wafat, empat tahun silam, untuk menunaikan haji tahun ini.
Lia memiliki dua kakak yang lebih tua. Awalnya merekalah yang ditunjuk untuk menggantikan Sang Ayah menunaikan ibadah haji.
”Seharusnya bukan saya yang berangkat, melainkan kakak-kakak saya. Namun, karena Allah memanggil saya, dengan hanya dua bulan (persiapan) saya datang ke sini, saya merasakan panggilan Allah. Saya benar-benar bersyukur, saya menangis, Pak,” tuturnya saat ditemui di Hotel Manazel Al-Hoor, tempat tinggalnya di Mekkah, Arab Saudi, Minggu (7/6/2026) pagi.
Pagi itu, Lia dan rekan-rekannya sesama jemaah Kloter 18 Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG 18) tengah bersiap menempuh perjalanan ke kota Madinah.
Mereka adalah kloter pertama yang diberangkatkan ke ”Kota Nabi”. Meski bukan bagian dari ibadah haji, ziarah ke Madinah tak terpisahkan dalam perjalanan jemaah haji Indonesia ke Tanah Suci.
Pemberangkatan jemaah gelombang II berlangsung hingga 21 Juni 2026. Mereka berada di Madinah sekitar delapan hari. Dari kota itu, mereka dipulangkan ke Indonesia secara bertahap hingga 30 Juni. Pada 1 Juli, seluruh jemaah haji Indonesia sudah tiba di Tanah Air.
Persiapan pemberangkatan jemaah, menurut Kepala Sektor 7 Ronald Paul Sinyal yang mengoordinasi layanan di Hotel Manazel Al-Hoor, telah dimulai sejak malam sebelumnya.
Koper-koper jemaah dikelompokkan berdasarkan rombongan bus. Jemaah juga baru diminta turun dan keluar dari kamar masing-masing setelah bus-bus mereka tiba di depan hotel.
Saat ditemui, Lia bersama rekan-rekannya, yaitu Suniyati Muhidin Marto Jimin, Tarisha Rahmanda, dan Wayin Pramudya, sedang mengunggah aplikasi Nusuk untuk mendaftar masuk ke Raudhah.
Adapun Raudhah merupakan tempat suci di dalam Masjid Nabawi di Madinah. Lokasinya antara makam Nabi Muhammad SAW dan mimbar. Raudhah adalah salah satu tempat sakral dan salah satu lokasi paling mustajab untuk berdoa.
”Saya benar-benar menangis, terharu bahwa Allah memanggil saya dalam waktu dua bulan,” lanjut Lia.
”Saya menikmati dan bersyukur, ternyata seperti ini yang sering saya lihat di TV. Kini saya yang datang, hanya dua bulan (persiapan) karena Allah memanggil saya. Benar-benar terharu karena saya sebenarnya tidak mendaftar (haji),” tuturnya.
Saya gemetar melihat Kabah dan menangis. Begitu pula saat di Arafah, Muzdalifah, dan di Mina. (Lia Asmara Juwita)
”Saya gemetar melihat Kabah dan menangis. Begitu pula saat di Arafah, Muzdalifah, dan di Mina. Saya terharu. Saya tidak bisa berkata-kata lagi karena saya tidak ada persiapan. Alhamdulillah, semua lancar. Kami bertujuh melempar jumrah, tidak pernah nyasar dan bisa kembali ke tenda (di Mina),” kenang Lia mengingat penziarahannya sebulan di Mekkah.
Dalam beberapa jam kemudian, Lia dan jemaah Kloter JKG 18 akan tiba di kota Madinah. Kota suci yang sering juga disebut Kota Nabi. Daya magnet kota itu apa lagi kalau bulan Masjid Nabawi. Di masjid inilah ada makam Nabi Muhammad SAW dan Raudhah.
”(Di Raudhah), doanya buat Bapak. Saya akan meminta (kepada Allah) supaya dia masuk surga dan kami bisa berkumpul bersamanya,” ujar Lia berkaca-kaca.
Ketua Kloter JKG 18 Almadi Sakiman Mad Reja mengatakan, kloternya beranggotakan 435 anggota jemaah. Sebelumnya, ada 441 anggota jemaah di kloter itu. Sebelum mereka berangkat ke Madinah, dua anggota jemaah bergabung ke kloter lebih awal, satu anggota jemaah wafat, dan tiga anggota jemaah lain masih dirawat di rumah sakit di Mekkah.
”Kami akan sering berziarah ke makam Rasul dan banyak bershalawat. (Tempat itu) tempat yang bagus untuk banyak berdoa,” ujar Almadi.
Agenda lain yang sudah dirancangnya adalah shalat Arbain (shalat berjemaah di Masjid Nabawi 40 waktu shalat tanpa putus), serta mengunjungi situs-situs suci dan bersejarah lainnya, seperti Masjid Quba dan Jabal Uhud.
Bagi Wayin Pramudya, perjalanan ke Madinah adalah penziarahan untuk melepas kerinduan pada sosok Nabi Muhammad. Ia sudah menyusun agenda selama delapan hari di kota itu, antara lain sering berziarah ke makam Nabi Muhammad dan membaca shalawat sebanyak mungkin.
Makam Nabi Muhammad berlokasi di sisi kiri mimbar dan tempat imam. Setiap sehabis shalat jemaah lima waktu, jemaah pria biasanya berziarah ke makam itu dengan berjalan pelan, melambaikan tangan, sambil mengucapkan salam pada Nabi dan dua sahabat yang dimakamkan di sebelahnya: Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Pada momen itulah, jemaah akan merasa kedekatan—seperti tanpa jarak—dengan sosok Nabi Muhammad. ”Kami sangat merindukan (Rasulullah), sosok Nabi yang kami harapkan syafaatnya di hari kiamat kelak,” kata Wayin.
”(Kami ingin sekali) bisa berziarah ke makam Nabi, tauladan kami, yang kami rindukan. Harapan kami, saat berdoa di Raudhah nanti, kami diakui sebagai umat Rasulullah SAW. Kalau sudah diakui sebagai umat Rasulullah, insya Allah kami akan masuk surga bersama-sama (beliau),” lanjutnya.
”Amal ibadah kami belum tentu bisa (membawa kami masuk surga) tanpa pertolongan Nabi Muhammad SAW,” ujar Wayin menjelaskan pentingnya syafaat Nabi di kalangan umat Muslim.
Bagi jemaah haji, perjalanan dari Mekkah ke Madinah bukan sekadar penziarahan biasa. Perjalanan ini semacam napak tilas hijrahnya Nabi Muhammad.
Perjalanan ke Madinah menjadi bahan refleksi mengenang perjuangan Nabi Muhammad, untuk dijadikan sumber inspirasi dalam mengarungi kehidupan saat ini dengan segala persoalannya.
”Dulu Nabi (Muhammad) berjalan kaki (antara Mekkah dan Madinah) di bawah cuaca panas. Saat dulu Nabi berhaji, tidak ada tenda seperti sekarang yang ada AC-nya, kasur, bantal, dan selimut. Bahkan, (dari cerita nenek) saat nenek saya naik haji, tendanya tidak seperti yang ada sekarang,” tutur Tarisha Rahmanda.
Mengenang semua itu, dengan segala keterbatasan—misalnya saat di Mina—Tarisha dan Suniyati mengaku bersyukur mampu menyelesaikan semua ibadah haji. ”Kami bersyukur telah melewati ibadah di Mekkah. Kami banyak belajar sabar, terutama (saat ibadah) di Armuzna,” ujar Suniyati merujuk ibadah puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Kami bersyukur telah melewati ibadah di Mekkah. Kami banyak belajar sabar, terutama (saat ibadah) di Armuzna. (Suniyati)
”Lebih banyak bersyukur, tidak sering mengeluh, semua akan nikmat perjalanan itu,” lanjut Suniyati. ”Kalau kita bersyukur, kita akan diberi banyak kemudahan.”
Suniyati mengapresiasi layanan yang diberikan para petugas haji di Mekkah. Ia berharap memperoleh hal serupa di Madinah. Dengan sikap syukur itu, ia praktis tidak banyak mengalami kendala selama di Mekkah.
Sedemikian nikmat perjalanan spiritual di kota suci, Suniyati dan Tarisha merasa waktu berlalu begitu cepat. ”Rasanya baru kemarin sampai (di Mekkah), kini sudah harus pergi. Sedih sekali meninggalkan kota Mekkah. Saat tawaf wada, kami bersedih sekali,” tutur Tarisha.
Seperti yang dirasakan hampir semua jemaah haji, kerinduan untuk kembali ke Mekkah mengiringi kepergian mereka ke Madinah.
”Semoga Allah mengundang kami lagi dalam keadaan yang lebih baik, dengan cara yang lebih baik, dengan fisik yang lebih kuat lagi, supaya kami bisa melaksanakan ibadah haji lagi,” ujar Tarisha.
Saat meninggalkan Mekkah, jemaah Kloter JKG 18 dilepas oleh Kepala Daerah Kerja Mekkah Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Ihsan Faisal. Ia secara simbolik mengalungkan sorban pada salah satu perwakilan jemaah.
”Hari pertama ini, kami berangkatkan 14 kloter. Pemberangkatan dari Mekkah ini berlangsung sejak pagi hingga pukul 18.00. Tidak ada perjalanan malam,” kata Ihsan.
Berbeda dengan di Mekkah, di Madinah—karena jaraknya yang dekat—jemaah bisa berjalan kaki dari hotel mereka ke Masjid Nabawi. Meski demikian, Ihsan mengingatkan jemaah untuk mengingat nama hotel dan sektor mereka tinggal.
”Berbeda dengan hotel-hotel di Mekkah (yang diberi nomor), hotel-hotel di Madinah tidak ada nomornya. Jika jemaah lupa lokasi hotelnya, bisa menyampaikan nama hotel dan sektornya kepada petugas,” jelas Ihsan.
Dua hari sebelumnya, Jumat (5/6/2026), terjadi insiden kebakaran kecil di salah satu ruangan depan gedung Tower 7 Hotel Al-Hidayah, kawasan Al Aziziyah, tempat tinggal sebagian jemaah haji Indonesia. Menurut Ihsan, hari itu pukul 18.00 waktu setempat muncul kepulan asap dari ruangan karyawan di bagian depan gedung tersebut.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan PPIH Arab Saudi, jelas Ihsan, asap berasal dari kebakaran yang dipicu oleh meledaknya baterai skuter yang tengah dicas. ”Mungkin karena overheat, baterai tersebut meledak sehingga keluar api dan membakar di barang-barang yang ada di kamar tersebut,” ujarnya.
Asap sempat menyebar sehingga jemaah haji Indonesia di Tower 6, 7, dan 8 dievakuasi melalui tangga. Api dipadamkan oleh tiga unit mobil pemadam kebakaran, sekitar 30 menit kemudian. Jemaah pun sudah kembali ke kamar masing-masing sekitar pukul 20.00.
Kompleks Hotel Al-Hidayah terdiri atas 10 tower dan menjadi salah satu hotel tempat tinggal lebih dari 20.000 anggota jemaah haji Indonesia dari Embarkasi Padang, Banjarmasin, dan Jakarta-Banten. Saat insiden terjadi, sebagian jemaah di hotel tersebut telah pulang ke Tanah Air.
Ihsan mengatakan, seorang karyawan hotel terluka bakar pada kakinya dan tak satu anggota jemaah Indonesia terluka dalam insiden itu.





