Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) mengalokasikan investasi yang berfokus pada penguatan cyber security dan sistem monitoring transaksi real time dalam mendukung transformasi digital.
Kendati tidak memerinci nilai investasi yang telah digelontorkan, perseroan memastikan fokus utama pengembangan infrastruktur digital berada pada aspek keamanan dan perlindungan data nasabah.
Direktur Kepatuhan Compliance, Legal, dan Sekretaris Perusahaan Maybank Indonesia Yessika Effendi mengatakan bahwa transformasi digital yang dilakukan oleh perseroan tidak hanya mengedepankan solusi layanan perbankan kepada nasabah, tetapi juga membangun ekosistem yang dapat memegang prinsip-prinsip dari sisi keamanan, kepatuhan, hingga perlindungan data nasabah.
“Investasi kami berfokus di cyber security dan monitoring system. Kami memastikan data protection framework berjalan dengan baik, termasuk transaction monitoring yang semakin proaktif dan real time dengan memanfaatkan data analytics dan AI, data analytics dan AI,” ujarnya, Minggu (7/6/2026).
Dia menambahkan, dengan adanya Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) menjadi momentum penting bagi industri perbankan untuk meningkatkan governance dalam pengelolaan data nasabah dan transaksi digital.
“Dengan adanya UU PDP ini, bukan hanya soal kepatuhan terhadap regulasi, tetapi bagaimana kami membangun tata kelola yang lebih baik dalam mengelola data pribadi nasabah, menjaga akses data, hingga memastikan pengelolaan consent management berjalan optimal.”
Perseroan mengaku telah melakukan berbagai persiapan bahkan sebelum regulasi tersebut resmi diterapkan. Salah satunya dengan membentuk tim khusus yang fokus menangani implementasi perlindungan data pribadi di seluruh lini operasional perusahaan.
Tim tersebut bertugas menelaah detail kebutuhan regulasi, memperkuat tata kelola internal, sekaligus memastikan infrastruktur digital yang dimiliki mampu menjaga keamanan data nasabah secara menyeluruh.
Dia juga menjabarkan sejumlah langkah perlindungan data nasabah melalui penguatan tata kelola, sistem keamanan digital, hingga edukasi literasi keuangan secara rutin di tengah meningkatnya ancaman kejahatan siber dan maraknya modus penipuan digital berbasis AI hingga deepfake.
Menurut dia, penggunaan teknologi AI tidak hanya digunakan untuk meningkatkan layanan digital, tetapi juga mendeteksi potensi fraud secara lebih cepat dan akurat. Langkah ini dinilai penting mengingat modus kejahatan digital terus berkembang, mulai dari phishing, impersonasi, hingga social engineering yang memanfaatkan aspek psikologis korban.
Yessica mengungkapkan bahwa salah satu modus yang paling sering terjadi saat ini adalah penipuan melalui telepon atau tautan palsu yang dibuat menyerupai kanal resmi bank. Pelaku biasanya menciptakan situasi panik agar korban secara tidak sadar memberikan data pribadi atau mengklik tautan tertentu.
“Pelaku sekarang sangat meyakinkan. Bahkan nomor telepon atau logo yang digunakan bisa menyerupai call center resmi bank. Karena itu nasabah harus selalu melakukan verifikasi melalui channel resmi,” terangnya.
Perseroan menegaskan bahwa pihak bank tidak pernah meminta data pribadi nasabah melalui sambungan telepon, WhatsApp, maupun tautan tidak resmi. Seluruh proses verifikasi data hanya dilakukan melalui kanal resmi bank atau secara langsung di kantor cabang.
Selain memperkuat sistem keamanan internal, Maybank juga aktif memberikan edukasi kepada nasabah dan masyarakat terkait modus-modus penipuan digital. Edukasi tersebut dilakukan secara rutin melalui media sosial, website, hingga berbagai kanal komunikasi perusahaan.
“Literasi dan edukasi menjadi sangat penting karena fraud sekarang tidak hanya menyasar nasabah bank, tetapi juga masyarakat luas dengan memanfaatkan kebocoran data pribadi,” katanya.
Maybank Tergabung dalam Indonesia Anti Scam Centre
Di sisi lain, Maybank juga telah tergabung dalam Indonesia Anti Scam Centre (IASC) yang terkoordinasi bersama Otoritas Jasa Keuangan. Melalui sistem tersebut, proses pelaporan transaksi fraud dapat dilakukan lebih cepat sehingga aliran dana hasil kejahatan bisa segera ditelusuri dan diblokir.
“Karena transaksi digital sangat cepat, maka laporan juga harus cepat dilakukan agar dana tidak langsung berpindah atau hilang,” jelasnya.
Maybank menilai tantangan perlindungan data ke depan akan semakin kompleks, terutama dengan perkembangan AI dan teknologi deepfake yang terus meningkat. Untuk itu, perusahaan memastikan sistem cyber security akan terus diperbarui secara berkala melalui penetration test, vulnerability testing, dan audit keamanan rutin sesuai standar regulator dan praktik terbaik industri.
Tak hanya itu, perusahaan juga memberikan perhatian khusus terhadap perlindungan data biometrik nasabah yang dinilai sangat sensitif. Pengamanan dilakukan melalui sistem enkripsi, pembatasan akses berlapis, serta monitoring ketat terhadap penggunaan data.
“Cyber security itu harus ongoing. Teknologi berkembang, maka sistem perlindungan juga harus terus diperbarui,” tuturnya.
Adapun berdasarkan kinerja keuangan konsolidasian yang berakhir pada 31 Desember 2025, Bank Maybank membukukan Laba Sebelum Pajak (PBT) sebesar Rp2,22 triliun, meningkat 38,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba Setelah Pajak dan Kepentingan Nonpengendali (PATAMI) naik 48,5% menjadi Rp1,66 triliun, didukung oleh biaya provisi yang terus menurun dan pengelolaan biaya yang lebih baik.
Pendapatan Bunga Bersih (NII) meningkat 1,6% YoY, didukung penerapan risk based pricing yang disiplin, serta bergesernya komposisi funding ke pendanaan yang lebih efisien. Marjin Bunga Bersih (NIM) tercatat sebesar 4,3% pada 2025. Pendapatan Nonbunga (NOII) juga tumbuh 8,1%, terutama ditopang oleh pendapatan Global Markets yang membaik menjadi sebesar Rp441 miliar, serta pendapatan yang dikontribusikan dari asset recovery dan wealth management. Dengan demikian, Bank mencatat Gross Operating Income/GOI sebesar Rp9,55 triliun, naik 3,1% YoY.
Beban overhead terkendali dengan peningkatan hanya sebesar 2,4% dibandingkan 8,5% tahun sebelumnya. Hal ini tercapai berkat upaya berkelanjutan dalam mengoptimalkan biaya operasional Bank. Rasio efisiensi operasional (BOPO) tercatat sebesar 86,3%.
Sementara itu, Laba Operasional Sebelum Provisi (PPOP) tumbuh 4,8% YoY menjadi Rp3,10 triliun. Beban pencadangan turun 28,7% dibandingkan tahun sebelumnya, sehubungan dengan pengelolaan kredit yang prudent serta impairment charges yang lebih rendah pada tahun 2025.
Sepanjang 2025, perseroan mengimplementasikan strategi transformasi tiga tahun M25+ Bank, yang berfokus pada penguatan fundamental bisnis, peningkatan kapabilitas organisasi, serta pencapaian pertumbuhan yang berkelanjutan.
Melalui lima pilar bisnis yang dijalankan secara terintegrasi, strategi M25+ telah memperkuat struktur operasional dan model bisnis Bank, serta membangun landasan yang lebih solid untuk menjaga ketahanan dan mendukung penciptaan nilai jangka panjang.





