Sepanjang 2022-2025, pertumbuhan penjualan mobil listrik lebih kencang dibandingkan dengan mobil bensin. Di tiga kategori, mobil listrik menempati posisi lima besar dan menggeser mobil jenis lain.
Temuan ini hasil analisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas terhadap data penjualan mobil dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sepanjang 2022-2025. Ada enam kategori yang dilihat, yakni mobil sedan berkapasitas mesin kurang dari 1.500 cc, sedan 1.501-3.000 cc, low cost green car (LCGC), mobil berpenggerak dua roda atau 4x2 kurang dari 1.500 cc, mobil 4x2 1.500-3.000 cc, serta mobil 4x4 kurang dari 1.500 cc.
Jenis kendaraan yang dikaji terdiri dari mobil bensin dan mobil hibrida, serta mobil listrik. Di antara ketiga jenis mobil itu, penjualan mobil listrik meroket dengan rata-rata kenaikan 122 persen per tahun selama 2022-2025. Penjualan mobil listrik di enam kategori melonjak dari 10.445 unit terjual pada 2022 menjadi 101.926 unit pada 2025. Tren kenaikannya pun stabil.
Lonjakan penjualan mobil listrik itu salah satunya karena konsumen ingin menghemat biaya. Viani (28), warga Tangerang Selatan, Banten, misalnya, mengganti mobil bensin 1.197 cc dengan mobil listrik pada akhir 2025.
Setelah menggunakan mobil listrik selama enam bulan, ia menghemat biaya dari Rp 150.000 per hari menjadi Rp 5.000 per hari untuk menempuh perjalanan dari rumah di Tangerang Selatan menuju kantor di Jakarta Pusat. ”Sebelumnya mobil bensin itu terkenal paling irit bensin, tapi mobil listrik ternyata lebih hemat,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Dari penjualan enam kategori mobil yang dikaji pada 2025, tiga kelompok di antaranya menunjukkan larisnya mobil listrik. Tiga kelompok itu terdiri dari mobil sedan kurang dari 1.500 cc, mobil 4x4 kurang dari 1.500 cc, dan LCGC.
Di antara 10 besar penjualan mobil sedan kurang dari 1.500 cc, tiga posisi teratas diduduki mobil listrik. BYD Seal Premium menempati posisi puncak dengan total penjualan 741 unit, disusul BYD Seal Performance (454 unit). dan Hyundai Ioniq 6 (191 unit). Formasi kedua BYD Seal itu bertahan sejak 2024.
Kelompok penjualan mobil 4x4 kurang dari 1.500 cc lebih dinamis. Pada 2025, ranking tiga teratas diisi Chery iCar 03 AWD yang terjual 4.395 unit, BYD Sealion 7 Performance (2.289 unit), dan Suzuki Jimny 5 Doors (1.331 unit). Setahun sebelumnya, Chery iCar 03 AWD duduk di peringkat ketiga dengan penjualan 290 unit, sedangkan Suzuki Jimny 5 Doors (2.124 unit) di posisi teratas.
Vice Country Director Chery Business Unit Budi Darmawan mengungkapkan, penjualan mobil listrik dan hibrida produk Chery sedang naik tajam. Tahun lalu, lebih dari 50 persen penjualan merupakan produk mobil hibrida dan mobil listrik. Saat ini, Chery Indonesia menawarkan pilihan mobil lengkap mulai dari mobil ICE, mobil hibrida, dan mobil listrik.
”Tahun ini, tren EV dan hibrida dengan nama Chery Super Hibrida (CSH) naik signifikan. Penjualan EV lebih menonjol kenaikannya, sedangkan mobil hibrida kenaikannya tidak setinggi EV,” ujar Budi, Jumat (22/5/2026).
Pada penjualan kategori LCGC, mobil listrik belum menduduki peringkat teratas. Tiga besar mobil LCGC terlaris pada 2025 terdiri dari Daihatsu Sigra yang terjual 34.452 unit—sekaligus juara bertahan sejak 2022, Toyota Calya (31.378 unit), dan Honda Brio (30.196 unit).
Namun, pada kelompok LCGC, BYD Atto 1 dengan total penjualan 22.582 unit berhasil menempati ranking keempat, menyalip Toyota Agya (15.910 unit) dan Daihatsu Ayla (10.750 unit). Padahal, pada tahun sebelumnya kedua merek mobil bensin itu berada di peringkat keempat dan kelima.
Setelah mengamati pengalaman kakaknya menggunakan mobil bensin dalam kelompok LCGC, Nita Sari (27) mantap membeli BYD Atto 1 seharga sekitar Rp 230 juta pada April 2026 sebagai mobil pertamanya. Menurut dia, mobil listrik lebih irit mengisi tenaga. ”Cici saya malas keluar rumah dengan mobil karena takut boros bensin,” ucap Nita.
Sebelumnya mobil bensin itu terkenal paling irit bensin, tapi mobil listrik ternyata lebih hemat.
Melonjaknya penjualan mobil listrik terjadi di tengah lesunya industri otomotif secara umum. Dari enam kategori yang dikaji, penjualan total mobil cenderung turun dari 754.801 unit pada 2022 menjadi 587.990 unit pada 2025. Secara spesifik, mobil hibrida rata-rata tumbuh 204 persen per tahun sepanjang 2022-2025. Meski demikian, pertumbuhan penjualan tahunan pada 2024 dan 2025 cenderung melambat.
Pada 2023, penjualan mobil hibrida melesat dari 5.091 unit pada tahun sebelumnya menjadi 34.895 unit. Namun, pada 2024 dan 2025 penjualan mobil hibrida berturut-turut 41.178 unit dan 44.269 unit. Di sisi lain, rata-rata penjualan mobil bensin malah anjlok 15 persen per tahun. Pada 2022 jumlahnya 739.265 unit, sedangkan tiga tahun berselang menjadi 441.756 unit.
Public Relation and Motorsport Manager PT Toyota Astra Motor Philardi Ogi menyebutkan, kenaikan harga bahan bakar minyak, khususnya diesel, hingga 60 persen menekan penjualan mobil bermesin diesel, termasuk mobil bensin. ”Dengan kondisi Indonesia saat ini, Toyota melihat mobil hibrida menjadi salah satu elektrifikasi bahan bakar yang dapat diadopsi luas karena efisiensi bahan bakar dan emisi lebih rendah,” tuturnya.
Di tengah penurunan penjualan semua jenis mobil selama 2022-2025, pangsa mobil listrik meluas dari 1,4 persen menjadi 17,3 persen. Proporsi mobil hibrida juga naik dari 0,7 persen menjadi 7,5 persen, sedangkan pangsa mobil bensin merosot dari 97,9 persen menjadi 75,1 persen.
Menurut Kepala Tim Kerja Kendaraan Listrik Berbasis Baterai Direktorat Industri Maritim Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian Patia Junjungan Monangdo, perubahan proporsi itu disebabkan kecenderungan penggantian dari mobil bensin ke mobil listrik. ”Model mobil listrik yang diproduksi makin banyak dan makin kompetitif,” katanya, Rabu (20/5/2026).
Menurut Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara, melonjaknya populasi mobil listrik disebabkan insentif nonfiskal, seperti terbebasnya mobil listrik dari kebijakan ganjil genap. Kukuh melihat, banyak warga menjadikan mobil listrik sebagai mobil kedua agar terbebas dari kebijakan ini.
Harga mobil listrik yang kian terjangkau juga jadi daya tarik lain. ”Warga kita 80 persen beli mobil yang harganya di bawah Rp 300 juta. Kemudian muncul sejumlah mobil listrik dengan harga di bawah kisaran itu. Makanya, ada peningkatan penjualan EV tahun lalu,” ucapnya.
Di sisi lain, pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, berpendapat, pergeseran preferensi warga ke mobil listrik dengan harga terjangkau memang terjadi, tetapi tidak menjadi faktor dominan. Menurut Yannes, akar utama melemahnya pasar mobil berbahan bakar minyak adalah tekanan ekonomi. ”Kombinasi inflasi, biaya hidup yang tinggi, serta kredit yang relatif ketat membuat konsumen menunda pembelian mobil baru,” tambahnya.





