PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memastikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) tetap terjaga di tengah tantangan kenaikan suku bunga dan tantangan likuiditas.
Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, mengatakan perseroan menargetkan NPL terus ditekan hingga di bawah 2,5 persen hingga akhir 2026. Hal ini dilakukan melalui penguatan kualitas kredit baru, optimalisasi early warning system, serta strategi penagihan dan penyelesaian kredit yang semakin berbasis risiko.
"Ke depan, BTN optimistis rasio NPL Perseroan dapat terus ditekan secara bertahap sejalan dengan strategi pertumbuhan kredit yang lebih selektif, penguatan kualitas kredit baru, serta percepatan penyelesaian portofolio lama," ujar Setiyo dalam keterangannya, Senin (7/6).
Pada kuartal I 2026, NPL BTN secara keseluruhan sekitar 3,1 persen, membaik dibandingkan sekitar 3,3 persen pada kuartal I2025.
Rasio NPL Kredit Pemilikan Rumah (KPR) BTN turun menjadi sekitar 2,8 persen pada kuartal I 2026, dari sekitar 3,0 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Secara umum kualitas kredit konsumer BTN terkendali dan terus membaik di tengah pertumbuhan kredit dan dinamika ekonomi masyarakat.
"BTN meyakini transformasi proses kredit yang sedang dijalankan akan semakin memperkuat daya tahan bisnis perseroan sekaligus mengukuhkan posisi BTN sebagai pemimpin pasar pembiayaan perumahan nasional dengan kualitas pertumbuhan yang lebih sehat, kokoh, dan berkelanjutan," jelasnya.
Setiyo menjelaskan berbagai upaya perseroan untuk menekan NPL. Salah satunya melakukan perbaikan kualitas aset dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari penguatan proses underwriting, peningkatan kualitas verifikasi, digitalisasi proses kredit, pemanfaatan data analytics, hingga penguatan pengelolaan portofolio pasca-pencairan kredit.
“BTN tidak hanya berfokus pada pertumbuhan kredit, tetapi juga memastikan kualitas pertumbuhan tersebut tetap terjaga secara optimal. Karena itu, kami terus memperkuat proses bisnis dari hulu hingga hilir agar pertumbuhan kredit yang dicapai menjadi lebih sehat, aman, dan berkelanjutan,” ujar Setiyo.
Selain itu, perseroan juga mengimplementasikan loan factory, yaitu pusat pemrosesan kredit terintegrasi yang mengonsolidasikan proses kredit konsumer secara nasional melalui pemanfaatan teknologi digital, data analytics, decision engine, dan workflow automation.
Transformasi tersebut memperkuat standardisasi proses kredit, meningkatkan kualitas verifikasi dan analisis, serta mempercepat proses pengambilan keputusan kredit. BTN memastikan akan menjaga kualitas kredit baru secara lebih konsisten, sekaligus meningkatkan efisiensi layanan kepada masyarakat.
Implementasi loan factory juga mendorong efisiensi operasional secara signifikan. Waktu pemrosesan kredit yang sebelumnya berkisar 10–14 hari berhasil dipangkas menjadi sekitar 4–7 hari. Tingkat straight-through processing juga meningkat menuju kisaran 70 persen, sementara tingkat rework atau proses ulang berhasil ditekan hingga di bawah 15 persen.
BTN juga memperkuat pengelolaan portofolio melalui pendekatan Cluster Collection, yaitu model penanganan kredit berbasis segmentasi risiko, karakteristik debitur, serta perilaku pembayaran. Melalui pendekatan ini, proses monitoring, restrukturisasi, penagihan, hingga pemulihan kredit dapat dilakukan secara lebih fokus, cepat, dan efektif.
“Perbaikan kualitas aset yang kami capai saat ini merupakan hasil dari transformasi menyeluruh, baik pada proses akuisisi kredit baru maupun pengelolaan portofolio eksisting. Kami akan terus memperkuat disiplin risiko, tata kelola, dan pemantauan portofolio agar kualitas kredit tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi yang berkembang,” tambah Setiyo.




