Bursa saham Asia kompak melemah pada perdagangan Senin (8/6/2026) setelah investor melakukan aksi ambil untung pada saham-saham teknologi
IDXChannel - Bursa saham Asia kompak melemah pada perdagangan Senin (8/6/2026) setelah investor melakukan aksi ambil untung pada saham-saham teknologi yang sebelumnya memimpin reli kecerdasan buatan (AI).
Di saat bersamaan, kenaikan harga minyak akibat memanasnya konflik di Timur Tengah turut menambah tekanan terhadap sentimen pasar.
Koreksi terdalam terjadi di Korea Selatan. Indeks KOSPI yang didominasi saham teknologi sempat memicu penghentian perdagangan selama 20 menit sebelum akhirnya merosot lebih dari 6,8 persen.
Penurunan tersebut membuat indeks acuan Korea Selatan terkoreksi sekitar 14 persen dari rekor tertingginya yang dicapai pekan lalu.
Tekanan juga menjalar ke pasar Asia lainnya. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 4,11 persen pada awal perdagangan, Shanghai Composite China melemah 0,84 persen, Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,86 persen, sementara Straits Times Index (STI) Singapura turun 1,41 persen.
Aksi jual dipicu oleh meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang dirilis Jumat lalu jauh lebih kuat dari perkiraan.
Pada perdagangan Jumat lalu, indeks Nasdaq anjlok 4,2 persen, memimpin pelemahan Wall Street.
Kepala Investasi Lucerne Asset Management Marc Velan menilai, seperti dikutip Reuters, koreksi yang terjadi lebih mencerminkan pelepasan posisi dan pengurangan eksposur pada saham-saham yang telah mencatat kenaikan tajam, ketimbang perubahan pandangan terhadap prospek jangka panjang sektor AI.
“Nama-nama teknologi Korea Selatan merupakan salah satu yang berkinerja terbaik secara global dan dimiliki secara luas investor. Ketika ekspektasi suku bunga berubah setelah data tenaga kerja AS, saham-saham tersebut menjadi sumber likuiditas yang paling mudah dijual,” ujarnya.
Kenaikan ekspektasi suku bunga juga mendorong lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury tenor dua tahun naik lebih dari 11 basis poin pada Jumat dan kembali menguat menjadi sekitar 4,18 persen pada Senin.
Di sisi lain, meningkatnya ketegangan geopolitik setelah serangan Israel ke Beirut mendorong harga minyak dan dolar AS menguat, menambah kekhawatiran investor terhadap prospek inflasi global.
Kepala Strategi Makro Pasar BNY Bob Savage mengatakan narasi bahwa AI akan terus menjadi pendorong utama pasar mulai mengalami ujian.
Menurut dia, investor kini menilai apakah koreksi saat ini hanya jeda sehat setelah reli saham selama sembilan pekan atau justru menjadi sinyal terbentuknya puncak pasar.
Fokus pasar pekan ini juga tertuju pada pencatatan saham SpaceX yang dijadwalkan melakukan penetapan harga pada Kamis dan mulai diperdagangkan pada Jumat.
Selain itu, investor akan mencermati data inflasi konsumen AS yang dirilis Rabu serta sejumlah pertemuan bank sentral utama di Kanada dan Eropa. (Aldo Fernando)





