Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pengolahan dan ekspor produk udang, PT Indo American Seafoods Tbk. (ISEA), menargetkan pertumbuhan omzet sebesar 20% hingga 30% pada 2026 seiring dengan upaya memperluas penetrasi pasar ekspor.
Dengan potensi pertumbuhan pendapatan dan laba bersih, ISEA pun membuka peluang untuk membagikan dividen kepada pemegang saham.
Direktur ISEA Ibnu Surya Ramadhan mengatakan perseroan membidik pertumbuhan pendapatan sekitar 20% hingga 30% pada 2026. Pertumbuhan tersebut diharapkan berkelanjutan dalam tiga tahun ke depan.
“Target pertumbuhan ISEA pada 2026 kurang lebih di 20%-30% dari omzet tahun 2025,” ujarnya dalam Paparan Publik, Senin (8/6/2026).
Pada kuartal I/2026, penjualan ISEA mencapai Rp181,19 miliar, tumbuh 69,95% dari sebelumnya Rp106,61 miliar. Perseroan pun membukukan laba Rp2,16 miliar dibandingkan dengan rugi bersih Rp5,36 miliar pada kuartal I/2025.
Untuk mencapai target tersebut, perseroan akan meningkatkan aktivitas pemasaran dan promosi di negara-negara konsumen utama produk seafood, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Taiwan, dan China. Selain menjaga hubungan dengan pembeli yang telah ada, ISEA juga berupaya memperluas akses ke pasar Eropa.
Baca Juga
- Dharma Samudera (DSFI) Incar Rp625 Miliar, Perluas Pasar Seafood
- Indo American Seafoods (ISEA) Incar Pendapatan Rp508,9 Miliar, Tepis Efek Tarif Trump
- Usai IPO, Indo American Seafood (ISEA) Bidik Pasar Eropa dan China
Menurut Ibnu, penambahan sertifikasi internasional menjadi salah satu strategi yang ditempuh guna meningkatkan daya saing produk dan membuka peluang pasar baru di kawasan tersebut.
“Kami akan lebih sering melakukan workshop ke beberapa negara konsumen, yakni Amerika Serikat, termasuk menjaga buyer yang sudah ada, Jepang, Taiwan, dan China. Selain itu juga membuka peluang ke Eropa melalui penambahan sertifikasi,” katanya.
Meski optimistis terhadap prospek pertumbuhan, perseroan tetap mencermati dinamika geopolitik global yang berpotensi memengaruhi perdagangan internasional dan permintaan ekspor.
Sepanjang 2025, ISEA membukukan kinerja yang meningkat signifikan. Pendapatan perseroan tercatat mencapai Rp564,2 miliar, melonjak lebih dari 70% dibandingkan Rp322,6 miliar pada tahun sebelumnya.
Laba bersih juga naik tajam menjadi Rp5,27 miliar dari Rp348 juta, didorong oleh peningkatan laba kotor menjadi Rp111,9 miliar dibandingkan Rp75,8 miliar pada periode sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset perseroan meningkat menjadi sekitar Rp439,9 miliar. Pada saat yang sama, liabilitas tetap terjaga dan ekuitas naik menjadi sekitar Rp184,6 miliar, mencerminkan struktur permodalan yang semakin kuat.
Dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri seafood, ISEA melayani pasar ekspor utama di Amerika Serikat dan Jepang. Perseroan mengandalkan model bisnis terintegrasi yang mencakup pengadaan bahan baku, pengolahan, penyimpanan dingin (cold storage), hingga distribusi ekspor kepada pelanggan.
Model usaha tersebut memungkinkan perseroan menjaga kualitas produk secara konsisten, mengendalikan pasokan bahan baku, meningkatkan efisiensi operasional, serta mengurangi risiko dalam rantai pasok. Strategi integrasi itu menjadi salah satu keunggulan kompetitif utama ISEA dalam memperkuat posisi di industri pengolahan dan ekspor seafood.
TANTANGANDirektur Utama ISEA Ibnu Syena Alfitra mengatakan secara umum ada tantangan ekspor seafood Indonesia karena meningkatnya persaingan di pasar global. Hal itu terutama setelah India kembali agresif memasok produk ke Amerika Serikat.
Menurutnya, kesetaraan tarif membuat produk asal India kembali bersaing langsung dengan eksportir Indonesia di pasar AS.
“India masuk lagi kembali ke Amerika karena tarifnya disamakan dengan kita. Jadi kompetisi untuk memasok ke Amerika mulai bersaing kembali,” ujarnya.
Di tengah persaingan tersebut, ISEA belum berencana melakukan ekspansi besar pada 2026. Perseroan memilih fokus melakukan renovasi dan peningkatan produktivitas tambak guna menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku serta mempertahankan margin keuntungan.
Menurut Ibnu Syena, strategi tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan mengandalkan pasokan dari pihak ketiga yang berisiko meningkatkan biaya bahan baku dan harga pokok produksi (HPP).
“Lebih baik meningkatkan produktivitas dari tambak kita sendiri,” katanya.
Sejalan dengan fokus penguatan operasional, perseroan memutuskan tidak membagikan dividen dari laba tahun buku 2025. Namun, manajemen membuka peluang untuk mulai memberikan imbal hasil kepada pemegang saham apabila kinerja keuangan pada 2026 menunjukkan perbaikan yang signifikan.
“Untuk 2025 kami tidak membagikan dividen. Namun, jika laba bersih lebih bagus dari tahun ini, kami usahakan untuk membuatnya lebih baik,” ujar Ibnu Syena.





