Bisnis.com, JAKARTA — Harga beras dunia kembali menguat pada Mei 2026 seiring mengetatnya pasokan di sejumlah negara eksportir utama dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko cuaca yang dapat memengaruhi produksi pada musim tanam mendatang.
Data Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan Indeks Harga Beras FAO rata-rata mencapai 104,8 poin pada Mei 2026. Angka tersebut naik 2,7% dibandingkan April. Meski demikian, indeks tersebut masih 1,4% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan terjadi di seluruh segmen utama perdagangan beras global. Penguatan tertinggi tercatat pada beras ketan dan beras Indica yang masing-masing naik 3,1% dan 3,0% secara bulanan.
Sementara itu, harga beras wangi meningkat sekitar 2,2%, sedangkan harga beras Japonica naik lebih moderat sebesar 0,5%.
FAO menyebut, kenaikan harga beras Indica didorong meningkatnya biaya produksi akibat kenaikan harga berbagai input pertanian. Namun, pergerakan harga berbeda-beda di setiap negara eksportir utama.
Vietnam mencatat kenaikan harga paling tajam dengan harga beras mencapai level tertinggi dalam 16 bulan terakhir. Kondisi tersebut dipicu oleh terbatasnya ketersediaan pasokan baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.
Baca Juga
- Kementan Antisipasi Kenaikan Harga Beras
- Harga Beras Premium dan Medium Kompak Naik, Ini Respons Kementan
- Harga Pangan Hari Ini 3 Juni: Beras hingga Cabai Melandai
Di Thailand, harga beras juga menguat signifikan. Menurut FAO, meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi kemunculan fenomena El Nino memperkuat sentimen pasar karena berisiko mengganggu produksi lokal. Permintaan yang tetap tinggi dari negara-negara Asia Tenggara turut menopang kenaikan harga.
Sebaliknya, pasar beras di India dan Pakistan cenderung lebih stabil. Aktivitas perdagangan yang relatif terbatas membuat harga beras putih di kedua negara bergerak datar atau sedikit melemah sepanjang Mei.
FAO melaporkan tekanan lebih besar terjadi pada segmen beras parboiled India. Pasar merespons kekhawatiran terhadap prospek ekspor ke kawasan Afrika Barat yang merupakan salah satu tujuan utama pengiriman beras India.
Sentimen negatif tersebut diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupee terhadap dolar AS serta kebijakan pengetatan impor beras oleh Benin dan larangan impor beras yang diberlakukan Burkina Faso.
Di kawasan Amerika, harga beras US N.2,4% relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi pasar yang cenderung seimbang membuat harga tidak mengalami perubahan berarti.
Sementara itu, harga beras di Brazil dan Uruguay bertahan mendekati level April berkat penjualan yang tetap stabil ke pasar regional.
Stabilitas harga di kedua negara anggota Mercosur (Pasar Bersama Selatan) tersebut terjadi meskipun panen musim 2026/2027 telah selesai.
Di Brasil, kondisi tersebut berlangsung di tengah penguatan nilai tukar real terhadap dolar AS yang berpotensi mengurangi daya saing ekspor.
Kenaikan harga beras dunia pada Mei menunjukkan pasar mulai merespons risiko pasokan yang berkembang di sejumlah wilayah produsen utama.
Ketatnya stok di Asia serta meningkatnya ketidakpastian cuaca diperkirakan akan menjadi faktor utama yang memengaruhi arah harga beras global dalam beberapa bulan mendatang.





