REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) semakin meluas di sektor kesehatan. Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk mendukung diagnosis dan pengolahan data, tetapi juga mulai diterapkan untuk meningkatkan efisiensi layanan dan pengalaman pasien.
Salah satu tantangan yang masih dihadapi layanan kesehatan di Indonesia adalah akses yang terbatas serta lamanya proses administrasi. Digitalisasi dinilai menjadi salah satu cara untuk mempercepat layanan sekaligus meningkatkan kapasitas operasional fasilitas kesehatan.
- Tekan Emisi, Distribusi Produk Kesehatan Mulai Adopsi Kendaraan Listrik
- Jangan Ragu Makan Daging Kambing! Ini Manfaatnya untuk Kesehatan
Founder dan CEO FDC Dental Clinic, drg. Ita Lestari, MARS, mengatakan pemanfaatan AI membantu mempercepat proses pemesanan layanan kesehatan gigi yang sebelumnya dapat memakan waktu hingga satu jam.
“Di tengah masalah akses yang masih rendah bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan gigi di Indonesia, FDC berusaha untuk memberikan pengalaman layanan yang lebih cepat, mudah, dan nyaman bagi masyarakat,” ujar Ita dalam siaran pers, Senin (8/6/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}Menurut Ita, sebelumnya proses pemesanan jadwal pasien dilakukan melalui sistem chatbot yang masih dikelola secara manual. Seiring bertambahnya jumlah pasien, antrean permintaan layanan terus meningkat sehingga waktu tunggu menjadi lebih panjang.
Untuk mengatasi hal tersebut, FDC mengembangkan sistem pemesanan berbasis Vertex AI dan Gemini dari Google Cloud. Melalui sistem itu, proses pemesanan yang sebelumnya membutuhkan waktu hingga satu jam dapat diselesaikan dalam sekitar 15 detik.
“Dengan sistem ini, pasien bisa merasakan pengalaman lebih nyaman melalui aplikasi, memilih klinik yang diinginkan, dan menyelesaikan pembayaran uang muka hanya dalam hitungan detik. Teknologi AI juga memungkinkan interaksi yang lebih humanis disesuaikan dengan kearifan lokal, seperti berbagai bahasa dan budaya masyarakat Indonesia,” kata Ita.
Chief Technology Officer FDC, M. Reza Avesena, mengatakan penerapan AI juga berdampak pada efisiensi operasional perusahaan.
“Transformasi digital ini juga memiliki pengaruh besar pada efisiensi operasional perusahaan. Jika sebelumnya satu agen hanya dapat menangani satu klinik, kini satu agen dapat mendukung operasional hingga 30 klinik sekaligus,” ujar Reza.
Selain layanan pelanggan, AI juga dimanfaatkan untuk mempercepat proses rekrutmen tenaga kerja. Menurut Reza, teknologi tersebut membantu tim sumber daya manusia menyeleksi ratusan curriculum vitae (CV) dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan proses manual.
Pemanfaatan teknologi komputasi awan juga disebut membantu perusahaan menekan biaya infrastruktur hingga 35 persen sekaligus menjaga stabilitas sistem di tengah peningkatan jumlah pengguna.
Saat ini FDC mengoperasikan 68 klinik di berbagai kota di Indonesia dan melayani lebih dari 60 ribu pasien setiap bulan. Perusahaan juga mencatat telah memiliki lebih dari 1,5 juta pengguna pada platform digitalnya.
Penerapan AI di sektor kesehatan diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan layanan yang cepat, efisien, dan mudah diakses masyarakat. Namun, pemanfaatannya tetap membutuhkan kesiapan infrastruktur digital, tata kelola data, serta sumber daya manusia yang memadai agar manfaat teknologi dapat dirasakan secara optimal.




