Grid.ID – Dokter Tirta membuat pengakuan yang mencengangkan. Dokter lulusan Universitas Gajah Mada itu ingin memamerkan otot perutnya saat meninggal kelak.
Sebagai tenaga medis sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta dikenal cukup vokal menyuarakan pentingnya olahraga. Caranya mengedukasi kerapkali menjadi sorotan karena penggunaan diksi yang dan ekpresi yang nyeleneh.
Seperti ketika mengkampanyekan pola hidup sehat tanpa rokok, dr. Tirta menginspirasi dengan cara yang tak biasa. Dia mengaku memperhatikan kesehatannya karena ingin meninggal dalam kondisi tubuh yang fit.
“Setidaknya kalau saya mati nanti, saya pengennya mati, misalnya liat, ‘Oh dokter Tirta six pack’. Jadi pas manggul jenazah saya nggak marah-marah ‘wah gembrot tenan iki wong’. Terus nanti keluar asep-asep itemnya kayak azab, wah saya nggak mau itu,” ujar dr. Tirta saat kampanye sehat tanpa rokok di hotel JW Marriott, Jakarta.
“Saya mau orang lihat saya, pas saya dimandiin, saya tuh six pack. Karena kita gak tau, mungkin subuh besok saya mati, atau detik ini saya kesamber geledek terus mati. Jadi setidaknya ketika pun saya mati, saya mati dalam keadaan fit badannya.”
Pola hidup sehat yang sering disuarakan dr. Tirta itu nyatanya berawal dari pengalaman pribadinya sebagai perokok aktif. Karenanya, Dokter bernama lengkap Tirta Mandira Hudhi itu paham betul bagaimana karakteristik perokok yang keras kepala.
Menurutnya, sulit menghadapi perokok yang keras kepala jika melakukan pendekatan medis. Alih-alih berdebat, cara yang lebih efektif adalah merespons dengan santai.
“Nah itu yang mungkin temen-temen harus tau, bahwa orang itu kalo ngadepin perokok keras kepala, itu cukup dengan jawaban ‘Ya’. “
“Jadi saya gak perlu kasih jurnal cukup dengan, ya, sip. Customer potential, top. Terus marah sendiri juga mereka. Jadi biasakan dengan kata ‘jempol’ dan ‘oke’ atau ‘ye’, maka mereka akan ribet sendiri,” kata dr. Tirta mencontohkan dengan ekspresinya yang datar.
Pengalaman sebagai mantan perokok membuat dr. Tirta memahami bahwa perubahan gaya hidup sehat tidak selalu bisa dipaksakan. Menurutnya, kesadaran untuk berhenti merokok pada akhirnya harus muncul dari diri masing-masing. (*)
Artikel Asli




