Gerakan Matahati Gelar Operasi Katarak Gratis untuk 1.010 Warga di Berbagai Daerah

grid.id
2 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Masalah gangguan penglihatan, khususnya katarak, masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Sebagian besar penderita yang berada di daerah pelosok memiliki keterbatasan akses ke fasilitas medis serta belum terjangkau jaminan kesehatan.

Menjawab tantangan tersebut, Gerakan Matahati Peduli Kesehatan Mata kembali hadir melalui aksi nyata. Berkolaborasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), serta didukung oleh Yayasan Lions Indonesia dan Lions Clubs International, gerakan ini resmi meluncurkan program bakti sosial operasi katarak gratis bagi 1.010 mata di berbagai wilayah Indonesia.

Langkah kemanusiaan ini diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan sekaligus memperingati 101 tahun kelahiran Pandji Wisaksana (1925–2022). Beliau adalah seorang pengusaha nasional sekaligus tokoh filantropi yang sepanjang hidupnya dikenal aktif menyuarakan isu kesehatan mata, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

Mengusung tema “Warisan Kasih yang Terus Hidup”, program ini memprioritaskan masyarakat prasejahtera di berbagai daerah sasaran, seperti Sambas, Pontianak, Pangkalpinang, Tanjungpandan dan Belitung Timur, Halmahera Timur, Padang, Batam, Muara Bungo, Gorontalo, hingga Jakarta.

Gerakan Matahati bagaikan pelita kecil di tengah gelap kebutaan yang ternyata amat pekat. Data tentang kebutaan di dunia, dan terutama di Indonesia, membuat banyak pihak prihatin. Keprihatinan itulah yang menggerakkan beberapa orang untuk berbuat nyata.

Di antara beberapa orang itu, Pandji Wisaksana adalah yang utama. Beliau bergerak mendekati berbagai pihak hingga akhirnya bersama-sama sepakat mendirikan Gerakan Matahati.

Cikal bakal gerakan ini bermula dari diskusi mendalam pada awal tahun 2008 antara Pandji Wisaksana dengan beberapa dokter spesialis mata di Jakarta Eye Center (JEC) Menteng, Jakarta. Saat itu, para dokter mengemukakan berbagai hambatan dalam menekan angka kebutaan di Indonesia.

"Beberapa dokter yang terlibat dalam diskusi tersebut antara lain Istiantoro Soekardi, Dawam M Purba, Bondan Hariono, Tjahjono D Gondhowiardjo, Johan A Hutauruk, Setiyo Budi dan Gitalisa Andayani Andriono," kata ketua pelaksana program, Wandi S Brata, saat ditemui di Gedung Pusat Pelayanan Masyarakat Lions (PPMLI), Jakarta Utara, Senin (8/6/2026).

Salah satu kendala utama yang dihadapi kala itu adalah minimnya jumlah dokter spesialis mata di Indonesia. Secara nasional, satu dokter mata rata-rata harus melayani lebih dari 170.000 penduduk. Angka ini sangat jauh dari standar ideal yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu satu dokter spesialis mata untuk 20.000 penduduk.

"Selain jumlah yang terbatas, distribusi dokter mata juga tidak merata. Sebagian besar tenaga medis spesialis mata terkonsentrasi di kota-kota besar, terutama di Pulau Jawa, sehingga masyarakat di daerah terpencil kesulitan mendapatkan layanan kesehatan mata," jelas Wandi.

Atas dasar kepedulian tersebut, gerakan ini resmi dimulai melalui Kick Off yang dilakukan oleh Menteri Kesehatan RI kala itu, DR. Dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K), pada Sabtu-Minggu, 2 sampai 3 Agustus 2008, bertempat di Mangga Dua Square, Jakarta. Acara tersebut diisi dengan seminar kesehatan mata, deklarasi Matahati, serta pelaksanaan operasi katarak gratis bagi warga kurang mampu.

 

Lahirnya Gerakan Matahati juga tidak lepas dari dukungan pendiri Kompas Gramedia, mendiang Jakob Oetama. Persahabatan erat antara Pandji Wisaksana dan Jakob Oetama menjadi jembatan sinergi kemanusiaan ini, di mana Kompas Gramedia turut mengambil peran penting dalam hal publikasi.

Wandi menegaskan kehadirannya dalam acara kemanusiaan ini adalah untuk mewakili Kompas Gramedia dalam melanjutkan sinergi mulia tersebut.

"Jadi pak Jakob dan pak Panji ini mereka bersahabat, targetnya ada beberapa daerah di kota di Jawa maupun di luar Jawa," ucap Wandi.

Program bakti sosial ini direncanakan berlangsung secara bertahap hingga akhir tahun 2026. Agenda terdekat dijadwalkan akan berlangsung di Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 27-28 Juni 2026.

Putra dari almarhum Pandji Wisaksana, Stephen Pandji, menjelaskan bahwa gerakan ini merupakan bentuk penghormatan nyata untuk sang ayah. Beliau memaparkan bahwa kolaborasi ini berjalan

"Bersama dengan PERDAMI dan bagian publication-nya adalah dari Kompas Gramedia, melakukan 1.010 operasi katarak mata gratis, sehubungan dengan pada tahun ini almarhum papa saya, Bapak Pandji Wisaksana, akan berulang tahun 101 tahun pada tanggal 27 Juni 1925," ucap Stephen.

Ketika ditanya mengenai masa depan dari gerakan sosial ini, Stephen menegaskan komitmennya untuk terus menjaga keberlangsungan program tersebut.

"Ya, ini akan merupakan suatu project yang sustainable, berkelanjutan, karena kami ingin meneruskan legacy dari papa kami yang sangat peduli mengenai kesehatan mata dan akan melakukan segala sesuatu yang terbaik untuk mencegah kebutaan," tandasnya.(*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ruko Elektronik di Bintaro Tangsel Terbakar, Api Hanguskan 90 Persen Bangunan
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Terasa Sampai Sulut, BMKG Sebut Gempa Magnitudo 7,7 di Mindanao-Filipina Akibat Subduksi Lempeng
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
KAI Layani 21,56 Juta Ton Batu Bara pada Januari hingga Mei 2026, Dukung Kelancaran Logistik Nasional
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Merdeka Gold (EMAS) Temukan Sumber Daya 445.000 Ons Emas
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Jejak Digital Sarwendah Terbongkar! Sikap Manja ke Ruben Onsu Disorot
• 14 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.