Menangis saat Diuji Bukan Tanda Lemah, Buya Yahya Ungkap 3 Hikmah Besar di Balik Musibah

viva.co.id
13 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Ketika menghadapi masalah hidup yang berat, tidak sedikit orang yang merasa sedih hingga meneteskan air mata. Sebagian bahkan bertanya-tanya, apakah menangis saat tertimpa musibah menunjukkan kurangnya keimanan? Pertanyaan inilah yang dijawab oleh Buya Yahya dalam sebuah kajian yang banyak menarik perhatian masyarakat.

Menurut Buya Yahya, kehidupan di dunia sejatinya adalah tempat ujian. Setiap manusia akan menghadapi berbagai bentuk cobaan, baik yang terlihat menyenangkan maupun yang terasa menyakitkan. Karena itu, seseorang tidak seharusnya menganggap ujian hanya hadir dalam bentuk kesedihan atau musibah.

Baca Juga :
Umrah Berkali-kali Bisa Hapus Dosa? Buya Yahya Ungkap Fakta Penting yang Sering Disalahpahami
Kebiasaan Minta Sorban hingga Cincin Kiai demi Berkah Disebut Buya Yahya Akhlak yang Keliru

Buya Yahya menjelaskan bahwa kekayaan, jabatan, dan berbagai kenikmatan dunia juga merupakan ujian dari Allah SWT. Melalui berbagai nikmat tersebut, manusia diuji apakah mampu bersyukur dan menggunakannya untuk kebaikan atau justru terlena hingga melupakan Sang Pencipta.

“Seorang hamba di dunia di Darul Ibtila di negeri ujian. Sesungguhnya kita senantiasa dalam ujian. Bagi orang cerdas sangat tahu bahwasanya ujian itu untuk naik pangkat. Yang tidak pernah ujian tidak naik kelas,” ujar Buya Yahya yang dikutip dari YouTube pada Senin, 8 Juni 2026. 

Salah satu hal yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa orang beriman tidak boleh menangis ketika ditimpa kesulitan. Padahal, Buya Yahya menegaskan bahwa menangis merupakan reaksi manusiawi yang diperbolehkan dalam Islam.

Beliau mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW pernah menangis saat putranya, Ibrahim, wafat. Kesedihan yang dirasakan Nabi Muhammad SAW tidak membuat beliau kehilangan keimanan atau memprotes takdir Allah.

“Walinna al-'aina tadma'u walqalbu yahzan, air mata mengalir, hati sedih. Tapi aku tidak melakukan kecuali yang diridai oleh Allah Subhanahu wa taala,” tambahnya. 

Menurut Buya Yahya, yang tidak diperbolehkan bukanlah air matanya, melainkan sikap tidak menerima ketentuan Allah atau bahkan marah kepada-Nya.

“Menangis adalah sah, menangis wajar. Ada orang mendapat musibah menangis-menangis. Yang tidak boleh adalah tidak terima dengan apa yang Allah berlakukan kepadanya. Apalagi marah kepada Allah,” kata Buya. 

Buya Yahya menjelaskan bahwa seorang mukmin perlu melihat musibah dari sudut pandang yang lebih luas. Ada tiga kemungkinan kebaikan yang Allah siapkan di balik ujian yang sedang dialami.

Baca Juga :
Buya Yahya Luruskan Mitos Orang Baru Pulang Haji Harus Diam di Rumah 40 Hari, Benarkah Ada Larangannya?
Nemu Uang di Jalan, Boleh Gak Dipakai? Buya Yahya Ungkap Kesalahan yang Sering Dianggap Rezeki Nomplok
Ini Pesan Menyentuh Buya Yahya saat Bertemu Ustaz Abdul Somad

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BMKG Rilis Peringatan Dini 9 Juni 2026, 21 Wilayah Indonesia Masuk Status Waspada Hujan Lebat
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
 Strategi Hilirisasi MIND ID Jadi Penopang Kinerja di Tengah Gejolak Global
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
Business Judgment Rule, Korupsi & Maladministrasi dalam Keputusan Pejabat Publik
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Direktur Ismaya Live Pastikan Tidak Ada Whip Pink di Lokasi DWP
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Pramono Minta Maaf KTP Luar Jakarta Tak Bisa Daftar Lowongan Kerja Padat Karya
• 17 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.