KPK sebut 406.000 Dolar AS dari Asrul diduga bagian untuk Pansus DPR

antaranews.com
6 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengatakan 406.000 dolar Amerika Serikat dari Asrul Azis Taba (ASR) untuk Ishfah Abidal Azis alias Gus Alex (IAA) diduga menjadi bagian dari satu juta dolar AS yang disiapkan untuk Panitia Khusus Hak Angket Haji DPR RI.

“Uang sebesar 406.000 dolar AS itu tadi adalah sebagian kecil dari satu juta dolar AS,” ujar Pelaksana Tugas Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik Husein di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin (8/6) malam.

Sebelumnya, Asrul sempat menjabat Ketua Umum Kesatuan Tour Travel Haji Umrah Republik Indonesia (Kesthuri), sedangkan Ishfah merupakan Staf Khusus Yaqut Cholil Qoumas saat menjabat Menteri Agama.

Baik Asrul, Ishfah, dan Yaqut, telah ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji.

Sementara itu, Taufik menjelaskan KPK mendapatkan informasi bahwa satu juta dolar AS itu sempat disiapkan oleh pihak-pihak di Kementerian Agama untuk Pansus Haji DPR RI, tetapi tidak jadi diberikan.

“Artinya, sudah ada niatan, tetapi kemudian dari pihak Pansus belum terjadi serah terimanya,” katanya.

Ia mengatakan informasi tersebut diperoleh KPK dari sejumlah saksi kasus kuota haji, termasuk ZA yang sebelumnya disebut sebagai sosok perantara aliran uang dari Kemenag kepada Pansus Haji DPR.

“Apakah ada pihak-pihak lain yang mungkin mengetahui peristiwa ini? Kami sudah dalami. Artinya, pihak-pihak yang mengetahui pun juga sudah kami lakukan pemeriksaan, pihak-pihak yang mengetahui satu juta dolar AS ini,” ujarnya.

Sebelumnya, KPK memulai penyidikan kasus dugaan korupsi kuota haji Indonesia tahun 2023-2024 pada 9 Agustus 2025.

Pada 9 Januari 2026, KPK menetapkan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dan staf khususnya, Ishfah Abidal Aziz alias Gus Alex, sebagai tersangka.

Sementara itu, Fuad Hasan Masyhur selaku pemilik biro penyelenggara haji Maktour tidak ditetapkan sebagai tersangka, meskipun sempat dicekal ke luar negeri.

KPK kemudian menerima hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada 27 Februari 2026 yang menyebut kerugian negara dalam perkara tersebut mencapai Rp622 miliar.

Pada 12 Maret 2026, KPK menahan Yaqut di Rumah Tahanan Negara Cabang Gedung Merah Putih KPK, kemudian menahan Ishfah pada 17 Maret 2026.

KPK sempat mengalihkan status penahanan Yaqut menjadi tahanan rumah pada 19 Maret 2026 atas permohonan keluarga, namun kembali menahannya di Rutan KPK pada 24 Maret 2026.

Pada 30 Maret 2026, KPK menetapkan dua tersangka baru, yakni Direktur Operasional Maktour Ismail Adham dan mantan Ketua Umum Kesatuan Tour Travel Haji Umrah Republik Indonesia (Kesthuri) Asrul Aziz Taba.

Mereka kemudian ditahan sejak 8 Juni 2026.

Baca juga: KPK dalami peran Fuad Hasan usai tahan dua tersangka kasus kuota haji

Baca juga: KPK tahan dua tersangka kasus kuota haji, Ismail Adham dan Asrul Azis

Baca juga: KPK jadwalkan periksa dua tersangka kasus kuota haji pada Senin ini


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rupiah Perkasa terhadap Dolar AS, Bertahan di Rp18.132,4/USD
• 59 menit lalumedcom.id
thumb
Dua Direksi Mengundurkan Diri, KB Bank (BBKP) Jadwalkan RUPS
• 13 jam laluidxchannel.com
thumb
Indonesia Terancam Tarif Baru hingga 18 Persen, Pemerintah Kejar Pengecualian Ekspor
• 16 jam lalukompas.id
thumb
Pemerintah prioritaskan layanan KB gratis untuk keluarga Desil 1-2
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Persija Antusias Sambut Musim Baru Usai Rekrut STY, Mohamad Prapanca: Persiapan Tunggu Kongres PSSI
• 54 menit lalukompas.tv
Berhasil disimpan.