REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada kalanya seseorang tidak menolak kebenaran karena ia tidak memahami. Ia menolak karena tidak ingin memahami.
Alquran mengabadikan salah satu pengakuan paling jujur sekaligus paling tragis yang pernah diucapkan manusia. Pengakuan itu keluar dari lisan kaum Quraisy ketika Nabi Muhammad SAW mengajak mereka kepada tauhid.
Baca Juga
Islam Lebih Mengutamakan Keadilan Sosial daripada Penyamarataan Kekayaan
Ketika Rasulullah Diminta Menetapkan Harga Akibat Barang-barang Jadi Mahal
Gempa Susulan Guncang Kepulauan Sangihe, BMKG Pastikan Tidak Ada Potensi Tsunami
Wa qālū qulūbunā fī akinnatim mimmā tad‘ūnā ilaihi wa fī āżāninā waqrun wa mim baininā wa bainika hijābun fa‘mal innanā ‘āmilūn.
"Mereka berkata: Hati kami berada dalam tutupan terhadap apa yang engkau serukan kepada kami, telinga kami tersumbat, dan antara kami dan engkau ada dinding. Maka bekerjalah engkau, sesungguhnya kami pun bekerja." (QS Fussilat: 5)
Kalimat ini bukan sekadar penolakan. Ia adalah potret sebuah hati yang telah memutuskan untuk tidak menerima bahkan sebelum mendengar.
Perhatikan bagaimana mereka berbicara. Mereka tidak berkata, "Kami belum mengerti."
Mereka tidak berkata, "Berikan kami waktu untuk berpikir."
Mereka tidak berkata, "Tunjukkan bukti yang lebih jelas."
Mereka justru berkata bahwa hati mereka tertutup.
قُلُوبُنَا فِىٓ أَكِنَّةٍ
Qulūbunā fī akinnah.
"Hati kami berada dalam tutupan."
Seakan-akan mereka berkata, "Jangan berharap pesanmu masuk. Kami telah membungkus hati kami rapat-rapat."
Lalu mereka melanjutkan:
وَفِىٓ ءَاذَانِنَا وَقْرٌ
Wa fī āżāninā waqrun.
"Dan telinga kami tersumbat."
Padahal mereka mendengar. Mereka mendengar ayat-ayat Alquran dibacakan. Mereka memahami bahasa Arab lebih baik daripada kebanyakan manusia setelah mereka.