Mobil listrik kini mengantar Nita Sari (27) ke mana-mana. Namun, demi mobil yang kini membuatnya tak kehujanan dan kepanasan itu, ia mesti menekan pengeluaran sehari-hari.
Sebelumnya, Nita dan suami bepergian dengan sepeda motor. Setiap keluar rumah, perasaan waswas menghantui. Di akun Instagram-nya, ia menceritakan, suaminya pernah mengalami kecelakaan motor. Belum lagi hujan dan badai selama perjalanan.
Tak heran, mobil menjadi salah satu target dalam pernikahan Nita. ”Terakhir memakai mobil pribadi itu saat aku berusia delapan tahun. Sejak papa meninggal, tidak pakai mobil karena mama tak bisa menyetir. Akhirnya ke mana-mana naik motor,” tutur karyawan swasta di Jakarta Selatan ini, Jumat (15/5/2026).
Sejak menikah pada November 2025, Nita menetap di Kabupaten Tangerang, Banten. Karena itu, kebutuhan untuk memiliki mobil makin mendesak jika ia perlu ke kantor atau mengunjungi orangtua yang tinggal di Jakarta Timur.
Lima bulan setelah menikah, Nita dan suaminya berhasil mengumpulkan uang muka sebesar 50 persen untuk membeli mobil listrik seharga Rp 230-an juta. Sisanya mereka cicil selama 12 bulan dengan bunga nol persen. Mobil itu dinamai ”Item Cakep”. Penghasilan Nita dan suami dari pekerjaan utama masing-masing berkisar Rp 8 juta-Rp 10 juta per orang per bulan. Cicilan mobil Rp 9,8 juta per bulan, sedangkan cicilan rumah Rp 5 juta per bulan.
Olahan Tim Jurnalisme Data Harian Kompas, warga yang berpotensi menjangkau mobil listrik seharga Rp 200 juta setidaknya bergaji Rp 10 juta per orang per bulan. Berdasarkan pengolahan data mikro Survei Angkatan Kerja Nasional, Agustus 2025, jumlah pekerja dengan gaji senilai itu sekitar 1,6 juta orang.
Apabila pekerja bergaji di bawah Rp 10 juta per bulan ingin menjangkau mobil listrik, mereka mesti menambah sumber penghasilan. Alokasi untuk membeli mobil juga harus lebih besar sehingga berdampak pada pengetatan pengeluaran.
Si Item Cakep pun lahir dari tabungan Nita dan suami serta anggaran keuangan yang ketat. Meskipun ada dua sumber penghasilan, konsumsi rumah tangga mereka berkisar Rp 2,5 juta-Rp 3 juta per bulan. ”Jatah uang bebas sebulan Rp 1,5 juta-Rp 2 juta. Kalau habis, kami harus menahan belanja hingga bulan depan,” katanya.
Setiap keluar rumah, mereka membawa bekal dan botol minum. Alhasil, mereka dapat memangkas Rp 100.000 untuk dua orang karena tidak makan di restoran. Nita memilih membeli perabotan rumah dengan harga terjangkau dan berkualitas. Sejumlah perabotan dibeli saat ada diskon.
Nita berpose di dalam mobil listrik hasil jerih payahnya.
Mobil listrik memantik kepercayaan dirinya untuk mengambil proyek merias wajah berbayar. Koper yang dimasukkan berisi peralatan merias.
Bagi Nita, biaya mengisi daya mobil listrik lebih hemat dibandingkan bensin untuk motornya.
Hasil dari penghematan dan alokasi dana untuk membeli mobil listrik mereka simpan di rekening deposito. Ia mengatur rekening deposito itu agar dapat dicairkan dalam jangka waktu 1 bulan, 3 bulan, dan 6 bulan.
Kini, biaya untuk mengisi daya mobil listrik sekitar Rp 75.000 per minggu. Setiap dipakai dengan total jarak 40 kilometer, daya baterainya hanya turun 10 persen. Sebelumnya, biaya bensin untuk dua motor bisa menghabiskan Rp 165.000 per minggu. Tiap dua bulan sekali, dia juga mengeluarkan uang Rp 60.000 untuk ganti oli motor.
Demi menghemat biaya transportasi dan waktu perjalanan, Orin (33), warga Bekasi, Jawa Barat, berencana membeli mobil listrik untuk pergi ke kantor. Namun, kenaikan harga kebutuhan sehari-hari belakangan ini dan kewajiban membayar biaya sekolah anak membuat rencana itu tertunda hingga akhir tahun.
Selama ini, uang transportasi Orin mayoritas habis untuk ojek daring guna sampai ke kantornya di Jakarta Pusat. Dalam sehari, ia mengeluarkan biaya transportasi hingga Rp 100.000.
Imbasnya, Orin tertarik membeli mobil listrik. ”Aku sudah menghitung, biaya mobil listrik ini lebih hemat daripada angkutan umum. Selisihnya sekitar Rp 700.000 per bulan. Lumayan uang itu untuk beli beras dan kebutuhan harian lain,” ujarnya dengan mata berbinar, membayangkan nilai uang yang akan dihemat.
Waktu perjalanan dengan mobil listrik bisa jadi lebih singkat, yaitu 1-1,5 jam. Saat naik angkutan umum, Orin membutuhkan waktu dua jam perjalanan karena harus berganti moda hingga tiga kali. Waktu tunggunya terkadang lebih dari 15 menit.
Aku sudah menghitung, biaya mobil listrik ini lebih hemat. Selisihnya sekitar Rp 700.000 per bulan. Lumayan uang itu untuk beli beras dan kebutuhan harian.
Orin membandingkan biaya kepemilikan mobil listrik dan bensin.
Dari hitungannya, mobil listrik lebih irit dibandingkan mobil bensin
Rencananya, mobil listrik akan digunakan untuk bekerja
Agar rencananya terwujud, ia dan suami beberapa kali mengunjungi pameran mobil listrik untuk mencari mobil yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan keuangan keluarga. Hingga pertengahan tahun ini, ia telah mantap menetapkan satu merek mobil listrik seharga Rp 200 juta.
”Aku sudah beberapa kali test drive untuk mencobanya langsung di jalanan,” kata karyawan swasta ini, Selasa (5/5/2026).
Menurut rencana, Orin akan menjual mobil lamanya terlebih dahulu sebagai modal awal untuk membeli mobil listrik. Hasil penjualannya, ditambah tabungan, akan dibelikan mobil listrik dengan sistem tunai.
Orin dan suaminya sudah menyisihkan uang Rp 3 juta per bulan sejak 2022. ”Angka ini realistis bagi kami sebab ada alokasi lain untuk membayar kredit rumah dan tabungan pendidikan anak,” ucap ibu satu anak ini. Hanya, mewujudkan impian memiliki mobil listrik berkapasitas lima penumpang itu tak mudah bagi Orin.
”Aku masih berpikir panjang untuk membeli mobil listrik. Sekarang kebutuhan sehari-hari melonjak. Tahun ajaran ini anakku juga mulai masuk SD. Jadi, uangnya ditahan dulu untuk memenuhi kebutuhan itu,” katanya sambil tersenyum.
Di sisi lain, ada juga warga yang mendapatkan mobil listrik bak durian runtuh. Delia (47), warga Palembang, Sumatera Selatan, memperoleh mobil listrik dari suaminya sebagai hadiah ulang tahun. Mobil seharga Rp 500 jutaan itu menghuni garasinya sejak November 2025.
Serial Artikel
Laris Manis, Mobil Listrik Salip Mobil Bensin di Tiga Kategori Penjualan
Pada 2025, sejumlah jenama mobil listrik menunjukkan ”taring”-nya dan mengungguli mobil bensin. Persaingan itu tecermin dari data penjualan mobil Gaikindo.
Sebelumnya, ia tak pernah berpikir apa pun soal mobil listrik. Ia juga tak tahu jumlah uang muka dan cicilan yang dibayarkan suaminya. Mobil itu dipakainya untuk bekerja sebagai dosen di Jakabaring, Palembang. ”Saya senang menggunakan fitur kamera 360 derajat yang membuat saya bisa terhindar dari nyenggol mobil lain (saat menyetir),” ujarnya dengan senyum lebar.
Seorang pengunjung mengecek kursi depan mobil listrik yang dipamerkan di Senayan City, Jakarta, Jumat (8/5/2026).
Lebih dari 10 mobil yang dipamerkan di Senayan City, Jakarta
Petugas penjualan turut menjawab pertanyaan dari pengunjung pameran mobil listrik
Sementara itu, dalam pameran yang diadakan di Senayan City, Jakarta, Makis (17) terlihat duduk di dalam salah satu mobil listrik lebih dari lima menit. Dia memang mengincar mobil seharga Rp 350 juta tersebut untuk pergi-pulang kuliah tahun depan.
Siswa sekolah menengah atas itu pernah mencoba mobil serupa milik temannya. ”Tarikannya (mobil) memang enak banget. Rencananya, aku mau menjual mobil Camry-ku saat ini di harga Rp 300 juta untuk membeli mobil listrik ini. Selisihnya, semoga di-cover papi,” ucapnya.





