Jakarta (ANTARA) - Energy Academy Indonesia (ECADIN) menyebut mitigasi emisi metana di sektor migas lebih cepat dan mudah untuk dikontrol.
"Mengapa kita fokusnya ke sektor energi, terutama di minyak dan gas? Karena yang pertama, lebih mudah untuk mengontrol atau mengurangi emisi di sektor minyak dan gas," ujar COO ECADIN Candra Sutama dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Selasa.
Menurut Candra, sektor minyak dan gas itu adalah sektor yang sangat teknikal. Mereka memiliki banyak metode dan alat serta pengetahuan untuk mengurangi emisinya sendiri dan operator minyak dan gas sendiri jumlahnya terbatas.
Jadi kalau misalnya bekerja dengan salah satu perusahaan migas, otomatis perusahaan tersebut akan menerapkan metode ke seluruh perusahaannya. Sehingga lebih cepat dan lebih mudah untuk mengurangi metana di sektor minyak dan gas.
Selanjutnya, menurut Candra, mengurangi emisi metana di minyak dan gas itu tidak mengakibatkan biaya tambahan, malah bisa memberikan tambahan pendapatan untuk sektor minyak dan gas karena gas metana itu dijual menghasilkan devisa, menghasilkan uang untuk industri sendiri.
"Sehingga ada dua sisi yang satu melindungi bumi, melindungi manusia, yang kedua menghasilkan uang untuk mereka sendiri," kata Candra.
Metana merupakan komponen utama gas alam dan salah satu gas rumah kaca: tak berwarna, tak berbau, sehingga kebocorannya hampir mustahil terlihat mata. Karakternya bekerja cepat dan keras, hanya bertahan singkat di atmosfer, tetapi jauh lebih kuat memerangkap panas pada periode awal.
Metana adalah gas rumah kaca sangat kuat yang memberikan 30 persen kontribusi terhadap pemanasan global. Efeknya 80 kali lebih kuat daripada karbon dioksida dalam 20 tahun pertama.
Di Indonesia, emisi metana dihasilkan dari sektor pertanian seperti ternak dan sawah, kemudian energi yakni batu bara, minyak dan gas, serta sektor limbah atau sampah seperti sampah makanan.
"Mengapa kita fokusnya ke sektor energi, terutama di minyak dan gas? Karena yang pertama, lebih mudah untuk mengontrol atau mengurangi emisi di sektor minyak dan gas," ujar COO ECADIN Candra Sutama dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Selasa.
Menurut Candra, sektor minyak dan gas itu adalah sektor yang sangat teknikal. Mereka memiliki banyak metode dan alat serta pengetahuan untuk mengurangi emisinya sendiri dan operator minyak dan gas sendiri jumlahnya terbatas.
Jadi kalau misalnya bekerja dengan salah satu perusahaan migas, otomatis perusahaan tersebut akan menerapkan metode ke seluruh perusahaannya. Sehingga lebih cepat dan lebih mudah untuk mengurangi metana di sektor minyak dan gas.
Selanjutnya, menurut Candra, mengurangi emisi metana di minyak dan gas itu tidak mengakibatkan biaya tambahan, malah bisa memberikan tambahan pendapatan untuk sektor minyak dan gas karena gas metana itu dijual menghasilkan devisa, menghasilkan uang untuk industri sendiri.
"Sehingga ada dua sisi yang satu melindungi bumi, melindungi manusia, yang kedua menghasilkan uang untuk mereka sendiri," kata Candra.
Metana merupakan komponen utama gas alam dan salah satu gas rumah kaca: tak berwarna, tak berbau, sehingga kebocorannya hampir mustahil terlihat mata. Karakternya bekerja cepat dan keras, hanya bertahan singkat di atmosfer, tetapi jauh lebih kuat memerangkap panas pada periode awal.
Metana adalah gas rumah kaca sangat kuat yang memberikan 30 persen kontribusi terhadap pemanasan global. Efeknya 80 kali lebih kuat daripada karbon dioksida dalam 20 tahun pertama.
Di Indonesia, emisi metana dihasilkan dari sektor pertanian seperti ternak dan sawah, kemudian energi yakni batu bara, minyak dan gas, serta sektor limbah atau sampah seperti sampah makanan.





