Ironi Migas: Metana Bernilai Ekonomi Dibiarkan Lepas ke Atmosfer, Panaskan Bumi

katadata.co.id
22 jam lalu
Cover Berita

Organisasi nirlaba bidang energi dan transformasi hijau Ecadin menilai, pengelolaan metana di sektor minyak dan gas (migas) bisa jadi untung. 

Menurut Chief Operating Officer Ecadin Candra Sri Sutama, mengontrol atau mengurangi emisi metana di sektor migas lebih mudah dan murah dibandingkan di sektor pertanian atau limbah.

“Mengurangi emisi metana di migas itu tidak mengakibatkan biaya tambahan, malah bisa memberi tambahan pendapatan untuk sektor migas karena gas metana itu dijual, menghasilkan devisa, menghasilkan uang untuk industri itu sendiri,” kata Candra, dalam Media Briefing ‘Methane Management in Oil and Gas’, pada Senin (8/6).

Metana merupakan gas rumah kaca yang memiliki daya pemanasan sekitar 80 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO2). Meski umur metana di atmosfer jauh lebih pendek dibandingkan CO2, gas ini diperkirakan telah menyumbang hampir 30 persen kenaikan suhu global sejak era praindustri.

Laporan Global Methane Tracker 2026 dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan sektor bahan bakar fosil menyumbang sekitar 35 persen emisi metana yang berasal dari aktivitas manusia. IEA memperkirakan produksi minyak, gas bumi, dan batu bara melepaskan sekitar 124 juta ton metana setiap tahun.

Chandra menjelaskan, setidaknya ada tiga jalur lolosnya metana ke atmosfer di sektor migas, yaitu kebocoran tak disengaja dari segel rusak, katup bocor, atau pipa longgar; pelepasan disengaja untuk perawatan dan keselamatan; serta pembakaran metana yang tidak sempurna. 

Padahal, metana bernilai ekonomi karena bisa dijual untuk produk liquefied natural gas (LNG). LNG adalah gas alam yang dicairkan dengan komponen utama berupa metana. “Bisa dijual, LNG itu metana,” ujar dia. 

“Kami pernah menghitung kasar sekali, kebocoran metana yang saat ini ada di Indonesia itu kurang lebih sama dengan produksi (LNG) beberapa sumur,” ucapnya menambahkan.

Sebab itu, alih-alih menggali sumur baru, bahan baku utama LNG sebetulnya bisa diperoleh dengan mencegah kebocoran metana di sektor migas.

Sejauh ini, industri migas Indonesia disebut belum memanfaatkan metana yang bocor ke atmosfer sebagai sumber energi dan upaya menekan emisi. Padahal, pembeli dan investor migas global sudah banyak menagih transparansi emisi. Misalnya Jepang dan Korea Selatan yang disiplin soal pengurangan emisi.

Para pemodal juga cenderung memberi penilaian risiko lebih rendah dan pembiayaan lebih murah untuk produsen yang data emisinya terukur dan terbuka. 

Ecadin merekomendasikan tiga hal untuk pengelolaan metana sektor migas: mengatur dan menegakkan aturan, mengukur, dan memonetisasi.

Soal pengukuran, Ecadin menyebut metodenya masih bergantung pada formula matematis, bukan pengukuran langsung di lapangan. Akibatnya, data metana tidak pasti. Rekomendasinta, pengukuran dengan pemantauan satelit dan pengukuran langsung. 

Ecadin turut mengkampanyekan penghentian flaring atau membakar gas ikutan yang tidak diperlukan selama produksi minyak dan gas bumi. “Di-flare kan berarti menjadi karbon dioksida, sasaran kami adalah mengurangi flaring tersebut, kecuali mendesak,” kata Candra.

“Fokusnya adalah bagaimana kebocoran-kebocoran itu dikurangi, supaya produksinya maksimal, pendapatannya maksimal tidak ada yang hilang ke udara,” ujarnya. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemprov Jateng Geser Anggaran Rp200 Miliar untuk Perbaikan Jalan
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Anak SD Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja: Krisis Kesehatan yang Kita Abaikan
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Adu Visi dan Inovasi, Calon Pimpinan OPD Bojonegoro Ikuti Uji Gagasan
• 5 jam laluberitajatim.com
thumb
Harga Emas Antam, UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini Selasa 9 Juni 2026
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
Timnas Indonesia menang 1-0 atas Mozambik di GBK
• 49 menit laluantaranews.com
Berhasil disimpan.