jpnn.com, JAKARTA - Akademisi sekaligus Sekretaris Amirul Hajj Indonesia 2026, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., mendesak pemerintah dan otoritas Arab Saudi untuk mereformasi ekosistem haji masa depan agar lebih ramah terhadap perempuan, lansia, dan lingkungan.
Hal tersebut mengemuka dalam rapat exit meeting Amirul Hajj bersama seluruh pemangku kepentingan penyelenggaraan haji Indonesia di Arab Saudi yang digelar di Jeddah, Sabtu (6/6/2026).
BACA JUGA: Hamdalah, Kloter Pertama Haji Asal Sumsel Tiba di Palembang
Rapat dihadiri antara lain oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, Kantor Urusan Haji (KUH), Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), Inspektorat Jenderal Kementerian Haji, serta para pejabat eselon I dan II Kementerian Haji Republik Indonesia.
Dua akademisi yang tergabung dalam Amirul Hajj, yakni Rektor Universitas Indonesia Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU dan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, M.Si., menyampaikan sejumlah catatan evaluatif berdasarkan hasil pengamatan selama pelaksanaan ibadah haji tahun ini.
BACA JUGA: Kabar Haji 2026: Semua Jemaah Indonesia Sudah Tinggalkan Mina
Prof. Ilfi Nur Diana menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan haji 2026 yang secara umum berjalan baik. Namun demikian, sejumlah aspek dinilai masih memerlukan penyempurnaan sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan jamaah.
Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan haji tidak hanya diukur dari kelancaran operasional, tetapi juga dari tingkat kepuasan jamaah terhadap layanan yang diterima sejak keberangkatan hingga kepulangan ke tanah air. Layanan tersebut mencakup transportasi, akomodasi, konsumsi, kesehatan, hingga layanan pada fase puncak ibadah di ARMUZNA.
BACA JUGA: Calon Haji dari Karawang Meninggal di Dekat Masjidilharam
Salah satu perhatian utama adalah layanan bagi jamaah perempuan. Berdasarkan data penyelenggaraan haji tahun 2026, jumlah jamaah perempuan tercatat lebih banyak dibandingkan jamaah laki-laki. Kondisi tersebut dinilai perlu diimbangi dengan penambahan fasilitas pendukung, khususnya toilet di kawasan ARMUZNA.
Selain itu, isu lingkungan juga menjadi perhatian dalam evaluasi tahun ini. Menurut Prof. Ilfi, penggunaan tumbler yang telah diberikan kepada jamaah perlu didukung dengan penyediaan dispenser air minum oleh pihak syarikat agar penggunaan botol plastik sekali pakai dapat dikurangi secara signifikan.
Ia memperkirakan, jika setiap jamaah menggunakan sekitar 10 botol air minum kemasan berukuran kecil setiap hari, maka jutaan sampah plastik dapat dihasilkan dalam sehari selama pelaksanaan puncak ibadah haji. Karena itu, penyediaan dispenser air minum dan penguatan budaya ramah lingkungan menjadi salah satu rekomendasi yang diusulkan untuk penyelenggaraan haji tahun mendatang.
Sementara itu, Prof. Heri Hermansyah menyoroti sejumlah aspek layanan operasional yang masih perlu diperbaiki. Di antaranya adalah penguatan budaya antre saat menaiki armada transportasi di kawasan ARMUZNA dengan tetap memberikan prioritas kepada jamaah lansia.
Ia juga menyoroti pentingnya mitigasi terhadap potensi keterlambatan armada bus menuju ARMUZNA serta optimalisasi layanan bus shalawat setelah fase ARMUZNA berakhir. Menurutnya, layanan tersebut sangat membantu jamaah yang hendak melaksanakan tawaf ifadah maupun tawaf wada' mengingat keterbatasan transportasi umum pada periode tersebut.
Selain aspek transportasi, Prof. Heri menilai perlunya standarisasi tugas dan fungsi petugas haji. Seluruh petugas, baik yang bertugas di tingkat pusat, kloter maupun daerah, diharapkan memperoleh pelatihan yang memadai, termasuk dalam kemampuan penyelesaian masalah di lapangan.
"Sering kali kondisi di lapangan berbeda dengan teori dan prosedur yang telah disiapkan. Karena itu kemampuan problem solving menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki petugas," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Ilfi Nur Diana yang juga bertugas sebagai Sekretaris Amirul Hajj menegaskan bahwa keberhasilan penyelenggaraan haji ke depan dapat diukur melalui semakin baiknya tata kelola layanan, menurunnya temuan audit, berkurangnya keluhan jamaah, serta meningkatnya kualitas pelayanan bagi jamaah lansia dan penyandang disabilitas.
Menurutnya, evaluasi yang dilakukan setiap tahun harus menjadi bagian dari proses perbaikan berkelanjutan agar penyelenggaraan ibadah haji Indonesia semakin profesional, transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kebutuhan jemaah.(ray/jpnn)
Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean




