Mobil Listrik Belum Terjangkau untuk Mayoritas Pekerja

kompas.id
21 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Pilihan mobil listrik kapasitas lima penumpang atau five-seater dengan harga Rp 200 juta ke bawah masih terbatas. Hanya 1,6 juta pekerja atau 1,1 persen dari total 146,54 juta pekerja yang mampu membelinya. Apabila ada opsi serupa di harga Rp 150 juta, terdapat 3,2 juta pekerja yang dapat menjangkaunya.

Hasil olahan Tim Jurnalisme Data Harian Kompas (Kompas.id), terdapat 528 mobil berbahan bakar minyak (BBM) baru seharga Rp 200 juta ke bawah yang ditawarkan di laman Mobil123.com pada 8-13 April 2026. Mobil-mobil itu terbagi dalam enam merek dan tipe yang mayoritas terdiri dari lima dan tujuh penumpang.

Di sisi lain, jumlah mobil listrik baru dengan rentang harga serupa dan ditawarkan di laman yang sama hanya 110 unit. Ada dua merek dan tipe yang ditawarkan, yakni berkapasitas empat dan lima penumpang.

Untuk membeli mobil listrik berkapasitas lima penumpang seharga Rp 200 juta, calon konsumen sebaiknya berpenghasilan minimal Rp 10 juta per bulan dengan alokasi cicilan minimal 20 persen dari gaji. Dengan alokasi tersebut, pembeli membayar uang muka (down payment/DP) sebesar 60 persen sekaligus biaya penyertanya, lalu dapat mencicil selama lima tahun Rp 1,76 juta per bulan. Apabila DP itu belum terkumpul, alokasi mesti naik 1,27 persen per tahun dan diinvestasikan di instrumen dengan imbal hasil minimal 5 persen tiap tahun.

Angka ini muncul setelah Kompas menjalankan 571 skenario DP, cicilan, tenor, dan harga mobil. Dalam menyusun skenario tersebut, Kompas meninjau skema kredit kendaraan bermotor dari enam lembaga pembiayaan perbankan.

Namun, jumlah penduduk bekerja yang bergaji minimal Rp 10 juta per bulan hanya 1,6 juta orang atau setara dengan 1,1 persen dari total pekerja di Indonesia yang berjumlah 146,54 juta pekerja. Angka itu diperoleh dari olahan Kompas terhadap data mikro Survei Angkatan Kerja Nasional periode Agustus 2025.

Memang belum ada program (mobil listrik) khusus kelas ’low cost green car’.

Apabila terdapat mobil listrik dengan harga Rp 150 juta, calon konsumen bergaji Rp 7,5 juta per bulan dapat menjangkaunya. Dengan demikian, total potensi penduduk bekerja yang bisa menjangkau mobil listrik di angka tersebut menjadi 3,2 juta orang.

Menurut Kepala Tim Kerja Kendaraan Listrik Berbasis Baterai Direktorat Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian Patia Junjungan Monangdo, mobil lima penumpang menjadi idola di Indonesia.

”Memang belum ada program (mobil listrik) khusus kelas low cost green car. Namun, dua tahun terakhir, harga mobil listrik sudah lebih terjangkau jika dibandingkan dengan 4-5 tahun lalu yang berada di angka Rp 600 juta,” katanya.

Eric (34), warga Tangerang Selatan, Banten, membayar DP Rp 120 juta untuk membeli mobil listrik dengan empat penumpang seharga Rp 196 juta pada 2023. DP itu hampir setara dengan 60 persen harga mobil. ”Cicilannya Rp 3,6 juta per bulan,” ucap Eric.

Pada 2024, Dona (53), warga Salatiga, Jawa Tengah, membeli mobil listrik seharga Rp 400 juta secara kredit. Dosen perguruan tinggi negeri itu mengaku bergaji di atas Rp 10 juta per bulan. ”Dengan DP Rp 100 juta, aku ambil cicilan selama empat tahun. Per bulannya aku mencicil Rp 6,1 juta,” ujarnya.

Insentif kredit

Selain mengadakan mobil listrik dengan harga terjangkau di pasar, kelonggaran fasilitas pembiayaan atau kredit juga dapat menopang keterjangkauan. Oleh karena itu, Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development Indef Abra Talattov menilai, Bank Indonesia (BI) perlu memberikan insentif makroprudensial bagi perbankan yang menyalurkan kredit bagi mobil listrik.

Dia mencontohkan, relaksasi nilai giro wajib minimum bagi perbankan yang mencapai target penyaluran kredit mobil listrik di angka tertentu dapat menjadi insentif. ”Dengan demikian, perbankan makin banyak menyalurkan pembiayaan untuk mobil listrik,” katanya.

Upaya perbankan meningkatkan penyaluran kredit mobil listrik dapat berupa besaran DP lebih rendah, tenor lebih panjang, bunga yang lebih menarik bagi konsumen, atau potongan biaya administrasi. Namun, kebijakan BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada pertengahan Mei 2026 menjadi 5,25 persen dapat memengaruhi usaha tersebut.

Meskipun demikian, sejumlah perbankan tidak langsung menaikkan bunga kredit kendaraan bermotor (KKB) sebagai respons atas kenaikan suku bunga BI, termasuk untuk mobil listrik. Direktur Mandiri Utama Finance Dapot Parasian S Sinaga menyatakan, anak usaha Bank Mandiri itu tidak serta-merta melakukan penyesuaian suku bunga KKB. ”Transmisi suku bunga acuan ke sektor pembiayaan biasanya membutuhkan waktu,” katanya, Jumat (29/5/2026).

Serial Artikel

Seberapa Irit Mobil Listrik?

”Kompas” kembali mengulik iritnya mobil listrik dibandingkan jenis lainnya dari segi harga unit baru yang kian lebih terjangkau serta biaya kepemilikan total.

Baca Artikel

EVP Corporate Communication BCA Hera F Haryn mengatakan, kenaikan suku bunga acuan BI tidak secara otomatis mendorong penyesuaian suku bunga KKB BCA. Kondisi pasar dan likuiditas bank juga menjadi pertimbangan BCA dalam penyesuaian tersebut.

Tren positif

Di tengah isu tekanan harga minyak global saat ini, perbankan melihat peluang terkait pembelian mobil listrik dengan fasilitas kredit. ”Nilai mobil listrik menguat karena biaya operasional hariannya lebih efisien dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil. Tren ini menjadi peluang pertumbuhan yang menjanjikan,” ujar Dapot.

Dia menambahkan, dukungan insentif pemerintah untuk mobil listrik juga menjadi daya tarik. Oleh karena itu, perusahaan akan mendorong pembiayaan mobil listrik lewat sejumlah promosi, misalnya DP 10 persen bagi pembiayaan mobil listrik.

Saat ini, nasabah pembiayaan kendaraan listrik di perusahaan didominasi oleh segmen menengah-atas, yakni kalangan profesional dan wirausaha yang tertarik pada teknologi canggih, desain modern, serta performa berkendara yang ditawarkan mobil listrik. ”Namun, ada pergeseran seiring makin banyak pilihan mobil listrik entry-level di pasar Indonesia dengan harga kompetitif. Model-model ini membuka peluang bagi segmen kelas menengah,” katanya.

Group Head Consumer & SME Lending Permata Bank Haryanto menyebutkan, penyaluran KKB mobil listrik melalui Permata Bank berada di segmen mass affluent atau kelas menengah-atas. Dia menilai, mobil listrik di Indonesia berpotensi tumbuh positif karena meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PBSI Batal Turunkan Fajar/Fikri dan Raymond/Joaquin di Australian Open 2026, Apa yang Terjadi?
• 21 jam laluharianfajar
thumb
Jadwal Semifinal Piala AFF U-19 2026: Panas di Perbatasan Hingga Reuni Timnas Indonesia U-19 dengan Australia
• 15 menit lalutvonenews.com
thumb
Terungkap Motif Menantu Tega Racuni Mertua dengan Sate Ayam di Boyolali
• 19 jam lalurctiplus.com
thumb
Polisi Bongkar Begal Modus Kenalan Wanita di Jakbar
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Daftar Harga BBM Pertamina per 10 Juni 2026: Pertamax Rp16.250, Pertalite Tetap Rp10.000
• 2 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.