Nyeri Sendi Mengganggu Kerja, Terapi Minim Invasif Dilirik

herstory.co.id
18 jam lalu
Cover Berita
HerStory, Jakarta —

Nyeri sendi kronis tidak lagi hanya menjadi masalah kesehatan yang identik dengan usia lanjut. Beauty, kondisi yang kerap muncul akibat osteoartritis atau cedera jaringan ikat kini juga menjadi tantangan bagi kelompok usia produktif karena dapat mengganggu mobilitas dan menurunkan performa aktivitas sehari-hari.

Ketika obat pereda nyeri tidak lagi memberikan hasil yang diharapkan, banyak pasien mulai dihadapkan pada pilihan tindakan operasi besar, seperti penggantian sendi buatan. 

Namun, kekhawatiran terhadap risiko pembedahan, biaya yang tinggi, hingga masa pemulihan yang panjang membuat sebagian masyarakat mencari alternatif penanganan lain yang lebih minim invasif.

Fenomena tersebut mendorong berkembangnya pendekatan kedokteran regeneratif sebagai opsi perawatan nyeri sendi. Salah satunya melalui Secretome Therapy yang diperkenalkan Jakarta Secretome Center sebagai terapi non-bedah untuk membantu pemulihan fungsi sendi.

Menurut Dr. dr. Antonius Agung Purnama, Sp.B, Msi.Med., ketakutan terhadap operasi masih menjadi salah satu alasan utama pasien menunda pengobatan.

"Banyak pasien usia produktif maupun lansia enggan berobat karena takut disarankan untuk operasi. Di Jakarta Secretome Center, kami menawarkan opsi intervensi non-bedah dengan Terapi Secretome. Molekul aktif ini langsung menyasar area kapsul sendi yang bermasalah untuk meredakan nyeri secara signifikan sekaligus memicu rekonstruksi jaringan rawan secara alami. Ini adalah sebuah revolusi pengobatan sendi yang sangat aman dan minim rasa sakit," ungkapnya.

Selama ini, kerusakan bantalan sendi atau kartilago sering dianggap sebagai kondisi permanen yang hanya dapat ditangani melalui prosedur penggantian sendi. Namun, pendekatan regeneratif berupaya merangsang proses perbaikan biologis dari dalam tubuh.

Secretome sendiri merupakan kumpulan molekul bioaktif yang diekstrak dari sel punca (stem cells) dan mengandung berbagai faktor pertumbuhan (growth factors) serta sitokin antiradang. Berbeda dengan suntikan pelumas sendi konvensional yang bekerja sebagai penyangga sementara, terapi ini dirancang untuk bekerja langsung pada area kerusakan sendi.

Beberapa manfaat yang disebutkan meliputi kemampuan meredakan peradangan, mengurangi rasa kaku dan nyeri, serta membantu menstimulasi pertumbuhan kembali jaringan rawan sendi. Prosedurnya dilakukan melalui injeksi mikro tanpa sayatan, jahitan, maupun bekas luka.

Selain itu, terapi ini juga menawarkan waktu pemulihan yang relatif singkat. Pasien tidak memerlukan rawat inap setelah tindakan dan umumnya dapat kembali menjalani aktivitas harian dengan pembatasan aktivitas fisik berat untuk sementara waktu.

Sebelum menjalani terapi, pasien terlebih dahulu menjalani konsultasi klinis, pemeriksaan fisik, dan evaluasi pencitraan medis guna menentukan kebutuhan tindakan yang sesuai. 

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan ketepatan dosis dan area injeksi sehingga terapi dapat diberikan sesuai kondisi masing-masing pasien.

Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk tetap aktif dan produktif, pilihan penanganan nyeri sendi yang minim invasif menjadi salah satu alternatif yang mulai mendapat perhatian, terutama bagi mereka yang ingin mengurangi ketergantungan pada obat pereda nyeri jangka panjang serta menghindari prosedur operasi besar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketumbar Disebut Bisa Obati Kista Pria, Benarkah atau Hanya Mitos?
• 1 jam laluviva.co.id
thumb
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Ini Kabar 6 Striker yang Gagal Direkrut AC Milan di Bursa Transfer: Ada yang Bapuk Sepanjang Musim
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Gandung Pardiman DPR Dorong Pemerintah Perkuat Sektor Pariwisata
• 20 jam lalujpnn.com
thumb
KAI Siapkan 1,17 Tiket KA Periode Libur Sekolah, Sudah Terjual 86.036
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Bupati Jember Tanggapi Pelantikan Pimpinan BGN yang Baru
• 17 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.