EtIndonesia.com Data yang dirilis oleh World Health Organization (WHO) pada Sabtu (6/6) menunjukkan bahwa wabah Ebola mematikan yang sedang melanda Afrika Tengah terus meluas. Jumlah kasus terkonfirmasi kini mendekati 500 orang. Model prediksi Amerika Serikat bahkan memperkirakan jumlah kasus Ebola di kawasan tersebut pada akhirnya dapat melonjak hingga lebih dari 20.000 kasus.
Menurut laporan epidemi terbaru WHO, sejak wabah diumumkan tiga minggu lalu, Democratic Republic of the Congo (Republik Demokratik Kongo) telah mencatat 452 kasus terkonfirmasi, dengan 82 kematian. Sementara itu, negara tetangga, Uganda, melaporkan 19 kasus terkonfirmasi dengan 2 kematian.
Gabungan kedua negara tersebut menunjukkan peningkatan sekitar 100 kasus baru dan 20 kematian tambahan dibandingkan hari sebelumnya.
WHO telah menetapkan wabah ini sebagai Keadaan Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC), dan situasinya masih terus memburuk.
Pada Jumat 5 Juni, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merilis hasil pemodelan komputer yang memperkirakan jumlah kasus akhir dapat berkisar antara 10.000 hingga lebih dari 20.000 kasus. Jika prediksi tersebut terbukti akurat, skala wabah ini dapat mendekati wabah Ebola di Afrika Barat pada tahun 2014–2016 yang menewaskan lebih dari 11.000 orang.
Namun, sejumlah ahli mengingatkan agar angka-angka prediksi tersebut tidak ditafsirkan secara berlebihan. Meski demikian, mereka mengakui bahwa wabah saat ini memang bergerak ke arah yang mengkhawatirkan.
Belum Ada Vaksin atau Pengobatan KhususHingga saat ini, belum tersedia pengobatan maupun vaksin khusus yang secara spesifik ditujukan untuk galur (strain) utama virus yang menjadi penyebab wabah kali ini.
Beberapa pakar menduga penyebaran virus sebenarnya sudah dimulai sejak Februari tahun ini. Namun, pada tahap awal, otoritas kesehatan setempat diduga melakukan pengujian terhadap galur Ebola yang berbeda dari galur yang kini menjadi sumber utama wabah.
Konflik Bersenjata Menghambat PenanggulanganUpaya pengendalian wabah menjadi jauh lebih sulit karena situasi keamanan yang tidak stabil di wilayah terdampak.
Konflik bersenjata antara pemerintah Democratic Republic of the Congo dan kelompok pemberontak yang didukung oleh Rwanda, serta serangan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata Allied Democratic Forces (ADF) yang dikaitkan dengan Islamic State, telah memperumit upaya penanganan wabah.
Pemerintah setempat menyatakan bahwa kekerasan tersebut telah menyebabkan banyak warga terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka.
Amerika Serikat Perketat Pengawasan PerbatasanPara ahli di Amerika Serikat menilai virus Ebola tidak mungkin menyebar luas di negara tersebut.
Salah satu alasannya adalah kebijakan pemerintah AS yang melarang warga non-AS memasuki negara itu, serta melarang pemegang kartu penduduk tetap (green card) yang dalam 21 hari terakhir pernah mengunjungi Republik Demokratik Kongo, Uganda, atau South Sudan untuk masuk ke Amerika Serikat.
Sementara itu, warga negara AS yang baru kembali dari negara-negara tersebut diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan dan diarahkan untuk masuk melalui empat bandara internasional yang telah ditunjuk secara khusus.
Sumber : NTDTV.com





