Kesenjangan sosial masyarakat di wilayah Sedati, Sidoarjo, menggerakkan hati Muslimaturrahmah, perempuan lulusan Ilmu Gizi Universitas Brawijaya untuk membentuk komunitas bernama Cerita Sehat Indonesia. Komunitas ini dibentuk pada tahun 2021.
Ide ini sebenarnya sudah muncul saat Muslimaturrahmah masih aktif dalam kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Ia kerap turun ke desa-desa untuk membantu pemeriksaan kesehatan kepada lansia dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.
Keyakinannya untuk membentuk komunitas itu pun semakin kuat setelah ia menyelesaikan kuliahnya.
"Selesai menjabat, saya dan beberapa teman berinisiatif secara pribadi tetap turun ke desa. Kami cuma bawa tensi, cek kesehatan dasar, lalu membagikan vitamin dan buah-buahan," kata Mus --sapaan akrabnya-- kepada kumparan, Senin (8/6).
Dari kegiatan itu, Mus mulai ketagihan. Ia lalu mengajak teman-temannya yang berbeda profesi, mulai dari bidan, perawat, hingga dokter untuk ikut turun ke lapangan.
Selepas lulus kuliah, Mus memantapkan diri untuk mendirikan Cerita Sehat Indonesia dengan kolaborasi antarprofesi kesehatan yang berjalan mandiri.
Aksi pertama Mus bersama empat orang lainnya menyasar para nelayan di wilayah Sedati, Sidoarjo.
"Itu paling lima anak, jadi ada yang dokter gigi, perawat, bidan sama gizi. Di situ kita cuma bagi-bagi snack sehat, habis itu dari situlah banyak teman-teman yang tertarik buat ikut," ucapnya.
Setelah aksi tersebut, Mus dan teman-temannya kembali tergerak untuk membantu pengecekan kesehatan kepada kaum ODGJ hingga lansia.
"Setelah itu vakum beberapa bulan terus kita bikin kegiatan lagi yang langsung ke ODGJ yang di bawah naungan Dinsos. Nah, itu kita dimintai bantuan buat cek kesehatan," katanya.
"Akhirnya dari situlah bergerak. Sasaran kita berbagai macam. Ada ODGJ, kaum marjinal atau pemulung, habis itu nelayan, petani, lansia, sama anak-anak," tambahnya.
Dengan kegiatan tersebut, Mus semakin antusias. Ia dan teman-temannya memutuskan membuka open recruitment untuk bergerak dalam bidang sosial dan kesehatan masyarakat secara swadaya.
Relawan Patungan
Setiap kali mengadakan aksi bulanan, para relawan yang bergabung akan patungan sebesar Rp 45 ribu. Uang iuran sukarela tersebut digunakan untuk membeli alat kesehatan sekali pakai, seperti jarum suntik dan strip cek darah, serta untuk konsumsi relawan itu sendiri.
"Dari urunan volunteer yang ikut urunan, nah itu yang dibelanjain. Belum tahu link-nya ke mana buat minta terkait sponsor-sponsor gitu. Tapi alhamdulillah teman-teman kan udah ada yang kerja di pabrik kesehatan. Nah, biasanya ngasih vitamin, ngasih donasi, open donasi juga kita," ujarnya.
Meski berbasis iuran, semangat para nakes ini tidak pernah surut. Dari yang awalnya hanya berlima, kini jumlah relawan melonjak drastis hingga lebih dari 190 nakes.
Anggotanya mencakup mahasiswa hingga nakes mulai dari dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, apoteker, analis kesehatan, hingga ahli gizi yang tersebar di Jawa Timur, Yogyakarta, bahkan hingga luar negeri.
"Sementara masih menyasar masyarakat di sekitar Jawa Timur," kata dia.
Dilirik Kampus-kampus Besar
Cerita Sehat Indonesia kini juga mulai dilirik dunia akademik. Kampus-kampus besar seperti ITS, UNAIR, UPN, UNESA, dan UB juga mengajak kolaborasi komunitas ini sebagai wadah Praktik Kerja Lapangan (PKL).
"Terus habis itu buat tugas kelompok diwajibin sama dosen. Dan kita juga udah sampai ke pengabdian masyarakatnya dosen-dosen di kampus," lanjutnya.
Hingga saat ini, kata Mus, diperkirakan sudah ada lebih dari 50.000 masyarakat yang merasakan manfaat dari aksi nyata komunitas ini.
Kini, program Cerita Sehat Indonesia telah berkembang dan fokus pada berbagai macam pemeriksaan kesehatan gratis, mulai dari pengecekan tensi, gula darah, asam urat, kolesterol, suhu tubuh, hingga saturasi oksigen.
"Kemudian kita juga ada pengecekan oksimeter sama termometer. Nah, kemudian juga kita ada pengecekan status gizi. Terus kita juga ngasih vitamin yang memang dijual bebas di apotek-apotek. Di situ juga konsultasi sama nakes secara gratis. Jadi berbagai macam profesi. Misalnya di situ ada dokter, bidan, perawat boleh semuanya ditanyain kayak gitu. Itu yang poin pemeriksaan kesehatan," ujarnya.
"Terus ada namanya edukasi gizi. Itu kita fokus banget ke bidang bagaimana mulai dari si ibu hamil sampai anak-anak umur SMA lah kayak gitu. Itu edukasi gizi itu gimana caranya kita bisa memberikan ilmunya," imbuhnya.
Arti di Balik Nama 'Cerita Sehat'
Nama "Cerita Sehat" bukanlah sekadar kombinasi kata. Mus menjelaskan, kata "Cerita" menggambarkan ruang aman bagi masyarakat yang mereka bantu untuk menumpahkan keluh kesah dan kisah hidupnya. Sementara "Sehat" mewakili aksi nyata yang dibawa oleh komunitas ini.
"Kami hadir bukan cuma untuk memeriksa tubuh mereka yang sakit, tapi juga menjadi pendengar yang baik. Saling bercerita, saling menerima kisah," kata dia.
Ia mengatakan, momen paling menyentuh dialami para relawan yakni saat mereka mengunjungi panti lansia dan yayasan ODGJ di Mojokerto.
Kehadiran mereka layaknya anak kandung yang dirindukan. Para lansia di panti dengan antusias menceritakan kisah hidup mereka sembari memeriksakan kesehatan.
Pengalaman di yayasan ODGJ pun tak kalah berkesan. Karena keterbatasan komunikasi, para pasien ODGJ sering kali tidak bisa mengeluhkan rasa sakitnya hingga penyakitnya memburuk.
"Waktu itu ada yang kakinya bengkak parah, dan pengurus yayasan tidak paham medis. Kami hadir memberikan rekomendasi ke teman-teman yang kerja di rumah sakit agar dibantu. Mereka senang sekali, bahkan tiba-tiba memeluk kami dan mendoakan kami," ucapnya.
Di balik ketangguhan Mus membesarkan komunitas ini, ada motivasi personal yang sangat menyentuh hati.
Sebagai seorang anak yang telah ditinggal berpulang oleh sang ayah, Cerita Sehat adalah ladang pahala yang ia persembahkan untuk orang tuanya.
"Setiap kegiatan, saya selalu menekankan ke teman-teman relawan: niatkan ini untuk mencari pahala dan mengalirkan doa bagi keluarga kita di rumah. Kita meluangkan waktu, tenaga, dan uang secara sukarela agar ilmu saat kuliah tidak sia-sia," ujarnya.
Ke depan, Mus dan ratusan nakes di Cerita Sehat Indonesia memiliki mimpi besar. Mereka berharap komunitas ini bisa merambah ke daerah-daerah lain di Indonesia.





