JAKARTA, KOMPAS.TV - Cadangan devisa Indonesia kembali menyusut dan memperpanjang tren penurunan selama lima bulan terakhir hingga mencapai lebih dari 11 miliar dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Permata, Yoshua Pardede, menegaskan kondisi ini belum menjadi sinyal melemahnya ketahanan eksternal Indonesia karena level cadangan devisa masih tergolong kuat dan berada di atas standar kecukupan internasional.
Namun, Yoshua mengingatkan persoalan utama bukan sekadar turunnya cadangan devisa, melainkan apakah penurunan tersebut mampu menstabilkan rupiah dan menghentikan arus keluar modal asing.
Menurutnya, Bank Indonesia sudah all out melakukan berbagai langkah stabilisasi, mulai dari intervensi pasar valas, pasar obligasi, hingga meningkatkan daya tarik instrumen SRBI. Meski begitu, rupiah masih tertekan dan investor asing masih terus keluar dari pasar keuangan domestik.
Yoshua menilai akar persoalan bukan berada pada kebijakan moneter, melainkan faktor lain yang harus segera diidentifikasi pemerintah.
Ia mengibaratkan Bank Indonesia sebagai pemadam kebakaran, sementara sumber api yang menyebabkan gejolak pasar belum sepenuhnya diselesaikan. Karena itu, pemerintah didorong untuk memperkuat transparansi, komunikasi kebijakan, dan membangun kembali kepercayaan investor agar stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar rupiah dapat terjaga.
Penulis : Prayogi-Haro
Sumber : Kompas TV
- DEVISA
- KEUANGAN
- EKONOMI





