JAKARTA, KOMPAS.com - Deru kereta yang melintas hanya beberapa meter dari area makan pembeli menjadi suara yang tak pernah benar-benar hilang di Warung Pancong Yaya.
Di sela dentingan roda besi yang bergesekan dengan rel, pelanggan terus berdatangan menikmati kue pancong yang telah bertahan lebih dari enam dekade di wilayah Menteng Sukabumi, Jakarta Pusat, tersebut.
Jumat (5/6/2026) sekitar pukul 13.00 WIB, suasana di warung yang berlokasi di Jalan Menteng Sukabumi Gang 1 itu masih relatif lengang.
Baca juga: 3 Influencer Minta Jadwal Ulang Pemeriksaan Kasus Hanania Travel
Beberapa pelanggan datang silih berganti membeli pancong dan minuman, sebagian memilih membungkus pesanannya untuk dibawa pulang.
Bangunan sederhana bercat hijau tua yang mulai pudar itu dihiasi banner berisi aneka menu pancong, mulai dari rasa original hingga varian kekinian, di antaranya tiramisu, Oreo, matcha, dan es krim.
Menjelang malam, suasana berubah drastis. Area lesehan yang berada di bagian dalam warung hampir seluruhnya terisi.
Sebagian besar pengunjung merupakan anak muda yang datang berkelompok, diselingi keluarga dan pasangan yang ingin menikmati suasana khas yang sulit ditemukan di tempat lain.
Di tengah perubahan zaman dan menjamurnya tempat nongkrong modern, Pancong Yaya tetap bertahan.
Rahasianya bukan hanya pada rasa, tetapi juga pada kemampuan menjaga warisan keluarga lintas generasi.
Berawal dari gerobak kelilingPenerus generasi ketiga Pancong Yaya, Asep Udin Juliansah (27), mengatakan usaha tersebut dirintis oleh sang kakek, Aki Darya atau yang akrab disapa Yaya, pada 65 tanun lalu.
Awalnya, Yaya berjualan pancong menggunakan gerobak keliling sebelum akhirnya menyewa tempat di sekitar wilayah tersebut.
Baca juga: KSP Dudung Sebut Daya Beli Warga Menurun Usai Tinjau Pasar Induk Kramat Jati Jaktim
Seiring berkembangnya usaha, keluarga kemudian menempati lokasi yang kini menjadi Warung Pancong Yaya.
"Awalnya kakek saya jualan pakai gerobak. Mulainya tahun 1961. Dulu keliling pakai gerobak, terus lama-lama nyewa tempat yang di sebelah sini. Setelah itu baru pindah ke lokasi yang sekarang," ujar Asep saat ditemui Kompas.com, Jumat.
Baginya, mempertahankan Pancong Yaya bukan sekadar menjalankan bisnis, melainkan menjaga warisan keluarga yang telah menjadi sumber penghidupan selama puluhan tahun.
"Yang utama itu kepercayaan dan menjaga usaha keluarga. Ini juga jadi mata pencaharian keluarga dari dulu," kata dia.
Meski mempertahankan resep dasar yang diwariskan turun-temurun, sejumlah penyesuaian dilakukan agar usaha tetap relevan.
Jika dahulu pancong dibuat menggunakan telur bebek, kini bahan tersebut diganti telur ayam demi menyesuaikan biaya produksi.
Transformasi paling besar terjadi saat Asep mulai menambah varian rasa sekitar 2020. Dari yang semula hanya beberapa pilihan, kini Pancong Yaya memiliki sekitar 20 varian rasa.
"Cocoa crunchy, es krim, tiramisu, Oreo, itu termasuk yang paling banyak dipesan sekarang," ujar dia.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengikuti perubahan selera konsumen yang menginginkan lebih banyak pilihan tanpa menghilangkan identitas utama pancong tradisional.
Baca juga: Pendaftaran Sekolah Swasta Gratis Jakarta Dibuka 15 Juni, Simak Syaratnya
Bertahan di tengah perubahan zamanPerjalanan panjang selama 65 tahun tentu tidak selalu mulus. Asep mengaku usaha keluarga itu pernah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kenaikan harga bahan baku hingga pandemi Covid-19.
Saat pandemi, keberadaan layanan pesan antar digital justru menjadi penyelamat. Pancong Yaya telah bergabung dengan platform pemesanan online sejak sekitar 2018, jauh sebelum pandemi terjadi.
"Pas Covid lebih banyak online. Sekarang sudah seimbang antara yang datang langsung dan pesan online," ujar Asep.





