Warung Pancong Yaya, Cerita Rasa Legendaris di Tepian Rel yang Bertahan 65 Tahun

kompas.com
19 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Deru kereta yang melintas hanya beberapa meter dari area makan pembeli menjadi suara yang tak pernah benar-benar hilang di Warung Pancong Yaya.

Di sela dentingan roda besi yang bergesekan dengan rel, pelanggan terus berdatangan menikmati kue pancong yang telah bertahan lebih dari enam dekade di wilayah Menteng Sukabumi, Jakarta Pusat, tersebut.

Jumat (5/6/2026) sekitar pukul 13.00 WIB, suasana di warung yang berlokasi di Jalan Menteng Sukabumi Gang 1 itu masih relatif lengang.

Baca juga: 3 Influencer Minta Jadwal Ulang Pemeriksaan Kasus Hanania Travel

Beberapa pelanggan datang silih berganti membeli pancong dan minuman, sebagian memilih membungkus pesanannya untuk dibawa pulang.

KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Sejumlah pengunjung duduk berjejer di area lesehan Warung Pancong Yaya, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).
Dari bagian depan warung, rel kereta jalur Sudirman–Manggarai tampak membentang sejajar dengan area tempat pelanggan makan.

Bangunan sederhana bercat hijau tua yang mulai pudar itu dihiasi banner berisi aneka menu pancong, mulai dari rasa original hingga varian kekinian, di antaranya tiramisu, Oreo, matcha, dan es krim.

Menjelang malam, suasana berubah drastis. Area lesehan yang berada di bagian dalam warung hampir seluruhnya terisi.

Sebagian besar pengunjung merupakan anak muda yang datang berkelompok, diselingi keluarga dan pasangan yang ingin menikmati suasana khas yang sulit ditemukan di tempat lain.

Di tengah perubahan zaman dan menjamurnya tempat nongkrong modern, Pancong Yaya tetap bertahan.

Rahasianya bukan hanya pada rasa, tetapi juga pada kemampuan menjaga warisan keluarga lintas generasi.

Berawal dari gerobak keliling

Penerus generasi ketiga Pancong Yaya, Asep Udin Juliansah (27), mengatakan usaha tersebut dirintis oleh sang kakek, Aki Darya atau yang akrab disapa Yaya, pada 65 tanun lalu.

Awalnya, Yaya berjualan pancong menggunakan gerobak keliling sebelum akhirnya menyewa tempat di sekitar wilayah tersebut.

Baca juga: KSP Dudung Sebut Daya Beli Warga Menurun Usai Tinjau Pasar Induk Kramat Jati Jaktim

Seiring berkembangnya usaha, keluarga kemudian menempati lokasi yang kini menjadi Warung Pancong Yaya.

"Awalnya kakek saya jualan pakai gerobak. Mulainya tahun 1961. Dulu keliling pakai gerobak, terus lama-lama nyewa tempat yang di sebelah sini. Setelah itu baru pindah ke lokasi yang sekarang," ujar Asep saat ditemui Kompas.com, Jumat.

KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Asep, generasi ketiga sebagai pengelola Pancong Yaya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).
Usaha tersebut kemudian diteruskan ayahnya pada era 1990-an. Sementara Asep mulai ikut mengelola usaha keluarga itu sejak 2016, tak lama setelah lulus SMP.

Baginya, mempertahankan Pancong Yaya bukan sekadar menjalankan bisnis, melainkan menjaga warisan keluarga yang telah menjadi sumber penghidupan selama puluhan tahun.

"Yang utama itu kepercayaan dan menjaga usaha keluarga. Ini juga jadi mata pencaharian keluarga dari dulu," kata dia.

Meski mempertahankan resep dasar yang diwariskan turun-temurun, sejumlah penyesuaian dilakukan agar usaha tetap relevan.

Jika dahulu pancong dibuat menggunakan telur bebek, kini bahan tersebut diganti telur ayam demi menyesuaikan biaya produksi.

Transformasi paling besar terjadi saat Asep mulai menambah varian rasa sekitar 2020. Dari yang semula hanya beberapa pilihan, kini Pancong Yaya memiliki sekitar 20 varian rasa.

"Cocoa crunchy, es krim, tiramisu, Oreo, itu termasuk yang paling banyak dipesan sekarang," ujar dia.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengikuti perubahan selera konsumen yang menginginkan lebih banyak pilihan tanpa menghilangkan identitas utama pancong tradisional.

Baca juga: Pendaftaran Sekolah Swasta Gratis Jakarta Dibuka 15 Juni, Simak Syaratnya

Bertahan di tengah perubahan zaman

Perjalanan panjang selama 65 tahun tentu tidak selalu mulus. Asep mengaku usaha keluarga itu pernah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kenaikan harga bahan baku hingga pandemi Covid-19.

Saat pandemi, keberadaan layanan pesan antar digital justru menjadi penyelamat. Pancong Yaya telah bergabung dengan platform pemesanan online sejak sekitar 2018, jauh sebelum pandemi terjadi.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

"Pas Covid lebih banyak online. Sekarang sudah seimbang antara yang datang langsung dan pesan online," ujar Asep.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Berdemonstrasi di BPK RI, KAPAK Desak Usut Dugaan Kredit Bermasalah Kalla Group di Bank Himbara
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,50% untuk Jaga Rupiah dan Tarik Modal Asing
• 32 menit lalumedcom.id
thumb
Ogah Perang Lagi dengan Iran, Trump Ingatkan Netanyahu: Jika Terus Menyerang, Anda akan Diisolasi
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kekurangan Surat Suara di Pemilu Daerah Korea Selatan Picu Protes Puluhan Ribu Orang, Presiden Lee Jae-myung Minta Maaf
• 16 jam laluerabaru.net
thumb
Update Penembakan di Kembru Papua, Korban Tewas Bertambah Jadi 12 Orang
• 19 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.