Inflasi Sumsel Diperkirakan Mereda pada Juni 2026, Ini Alasannya

bisnis.com
15 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, PALEMBANG — Tekanan inflasi di Sumatra Selatan (Sumsel) pada Juni 2026 diproyeksikan mulai mereda setelah pada bulan sebelumnya tercatat sebesar 0,61% (month-to-month/mtm). Kondisi tersebut sejalan dengan stabilnya harga komoditas hortikultura.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, inflasi Mei 2026 terutama dipicu oleh kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, yakni cabai merah dengan andil 0,18%, bawang merah 0,10%, tomat 0,06%, cabai rawit 0,04%, dan ketimun 0,04%.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumsel Bambang Pramono mengungkapkan kenaikan harga komoditas hortikultura tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha.

Selain itu, pasokan yang relatif terbatas akibat gangguan produksi karena faktor cuaca turut mendorong kenaikan harga. Kondisi tersebut diperparah oleh terganggunya distribusi selama periode cuti bersama dan libur nasional pada Mei 2026.

"Serta terganggunya kelancaran distribusi selama periode cuti bersama dan libur nasional Mei 2026," kata Bambang Pramono dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6/2026).

Pada Juni 2026, laju inflasi diperkirakan tidak setinggi bulan sebelumnya. Proyeksi tersebut ditopang oleh normalisasi harga sejumlah komoditas penyumbang inflasi serta terjaganya pasokan pangan.

Baca Juga

  • Ekspor Batu Bara Sumsel Merosot, Deru Soroti Persetujuan RKAB
  • 55 SPPG di Batam Berhenti Beroperasi Sementara, Dana MBG Belum Cair
  • Begini Cara Beli Tiket Kapal Wira Jaya Logitama dari Aplikasi Bank Sumut

Meski demikian, Bambang mengingatkan adanya sejumlah faktor yang perlu diwaspadai karena berpotensi mendorong inflasi, di antaranya meningkatnya mobilitas masyarakat selama masa libur sekolah. Kondisi tersebut bertepatan dengan pencairan gaji ke-13 Aparatur Sipil Negara (ASN).

"Ditambah dengan pencairan gaji ke-13 ASN yang berpotensi mendorong konsumsi rumah tangga serta peningkatan tarif angkutan udara yang masih berlangsung dapat berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi," tuturnya.

Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumsel tetap mengandalkan strategi 4K yang mencakup keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

"Hingga akhir Mei 2026, telah dilaksanakan lebih dari 342 kegiatan operasi pasar murah, puluhan inspeksi mendadak (sidak), pemberian fasilitas subsidi ongkos angkut sebanyak 77 kali untuk komoditas pangan utama dengan total berat komoditas yang diangkut mencapai kurang lebih 47,92 ton. Selain itu, Kerjasama Antar Daerah (KAD) terus dioptimalkan," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kelakuan Mahasiswa di Semarang: Gadaikan 40 Motor Teman, Uangnya untuk Open BO
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Bank Raya (AGRO) Optimis Bisnis Digital Tumbuh Positif
• 26 menit lalukatadata.co.id
thumb
Raksasa Teknologi Rp 15 Ribu T Ini Mau IPO, Siap Cetak Sejarah Baru
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
CFX10 Jadi Indeks Aset Kripto Pertama di Indonesia
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kejagung Serahkan Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto ke Kejaksaan
• 17 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.