Investor Global Gaungkan “Sell Indonesia”, Bagaimana Dampaknya bagi Indonesia?

kompas.id
16 jam lalu
Cover Berita

Sentimen “Sell Indonesia” kembali menguat seiring pelemahan rupiah dan koreksi IHSG. Bagaimana dampaknya terhadap investor dalam negeri dan masyarakat?

Belakangan ini, pasar keuangan Indonesia mendapat sorotan setelah muncul seruan “Sell Indonesia” dari sebagian investor global. Sentimen tersebut muncul di tengah pelemahan rupiah, tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Secara sederhana, “Sell Indonesia” merupakan istilah yang menggambarkan kecenderungan investor untuk mengurangi kepemilikan aset Indonesia, baik berupa saham, obligasi, maupun rupiah. Sentimen ini muncul ketika investor menilai risiko investasi meningkat atau prospek ekonomi dianggap kurang menarik dibanding negara lain.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bagi sebagian pelaku pasar terhadap prospek aset keuangan Indonesia, apalagi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan pergeseran arus investasi internasional. Fenomena ini bahkan menjadi sorotan sejumlah media internasional dan analis pasar yang menilai Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dalam menjaga kepercayaan investor.

Pasalnya, dalam lima bulan terakhir, bursa saham Indonesia terus mengalami tekanan yang signifikan. Secara tahun kalender berjalan, IHSG anjlok sekitar 37 persen dan menjadikannya salah satu yang terburuk di dunia. Pada sesi terakhir perdagangan Senin (8/6/2026), IHSG ditutup anjlok 252.63 poin (4,52 persen) ke level 5.342.

Sama seperti pasar saham, pasar keuangan Indonesia juga mengalami gejolak. Rupiah melemah lebih dari 7 persen tahun ini dan sempat menembus level Rp 18.000 per dolar AS pada 4 Juni lalu. Terakhir pada Senin (8/6/2026), rupiah ditutup melemah ke Rp 18.171 per dolar AS. Di pasar obligasi, tekanan juga terjadi. Investor asing tercatat telah menarik dana sekitar Rp 86 triliun dari surat utang pemerintah sejak Agustus tahun lalu.

Baca JugaPasar Keuangan Indonesia Terjangkit Krisis Kepercayaan

Mengapa sentimen “Sell Indonesia” tersebut muncul? Fenomena tersebut tampaknya tidak terlepas dari sorotan investor terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dianggap semakin meningkatkan peran negara dalam perekonomian.

Salah satunya yang menjadi sorotan adalah rencana sentralisasi ekspor komoditas strategis seperti batu bara dan kelapa sawit melalui entitas yang diawasi negara. Kebijakan tersebut memicu  pertanyaan mengenai transparansi, kepastian regulasi, dan iklim investasi jangka panjang.

Selain itu, kekhawatiran juga muncul terkait independensi kebijakan ekonomi, arah fiskal pemerintah, serta meningkatnya intervensi negara di berbagai sektor strategis. Beberapa lembaga pemeringkat dan pelaku pasar menilai ketidakpastian kebijakan menjadi faktor utama yang menekan kepercayaan investor.

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa telah merespons ulasan “Sell Indonesia” yang memicu sentimen negatif di pasar keuangan. Menurutnya, analisis yang dirilis tersebut tidak akurat karena tidak memahami kondisi fundamental ekonomi dan kesehatan fiskal Indonesia yang sebenarnya.

Menurutnya, sejumlah indikator fundamental masih menunjukkan ketahanan ekonomi yang relatif baik. Mulai dari stabilitas sektor keuangan, kondisi perbankan yang tetap terjaga, hingga aktivitas ekonomi domestik yang masih berjalan. Purbaya juga menekankan bahwa penilaian terhadap Indonesia perlu dilakukan secara komprehensif dan tidak hanya berfokus pada pergerakan jangka pendek di pasar keuangan.

Baca JugaRupiah Tembus Rp 18.000, IHSG Terjun ke Level 5.600
Dampak

Sentimen “Sell Indonesia” tersebut bisa menciptakan efek domino baik untuk investor, pelaku usaha maupun masyarakat pada umumnya. Bagi para investor, mereka akan menerima dampak berupa penurunan nilai portofolio investasi secara signifikan di tengah meluasnya gejolak ekonomi.

Aksi jual (capital flight) oleh investor asing menyebabkan IHSG terkoreksi tajam dan nilai tukar rupiah melemah ke level terendah. Bagi investor lokal yang memegang saham, reksa dana, atau obligasi, kondisi ini bisa menurunkan nilai aset secara portofolio dalam jangka pendek.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan mencatat, investor asing di pasar surat berharga negara (SBN) telah mencatatkan jual neto sebesar Rp 15,43 triliun pada kurun akhir 2025 hingga Mei 2026. Ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun lalu yang justru mencatatkan beli neto sebesar Rp 49,62 triliun.

Sementara itu, Bursa Efek Indonesia mencatat telah terjadi arus modal keluar oleh investor asing di pasar saham sebesar Rp 53,97 triliun secara tahun kalender berjalan hingga akhir Mei 2026. Angka ini lebih besar dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 45,34 triliun.

Untuk menahan pelemahan rupiah dan mencegah capital outflow lebih lanjut, Bank Indonesia (BI) biasanya merespons dengan menaikkan suku bunga acuan  atau BI Rate. Terakhir, BI Rate dinaikkan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 19-20 Mei 2026.

Meski berbagai langkah telah ditempuh oleh BI, termasuk menaikkan BI Rate, tetapi nilai tukar rupiah masih terus tertekan di tengah gejolak ekonomi. Bagi investor dan pelaku usaha di dalam negeri, kondisi ini bisa menyebabkan biaya kredit dan pinjaman menjadi lebih mahal.

Baca JugaAda Kronologi Apa di Balik Depresiasi Rupiah dan Terpuruknya Saham Domestik?

Dampak berikutnya adalah tekanan pada saham eksportir. Kebijakan intervensi pemerintah dan kontrol ekspor yang menjadi salah satu pemicu utama sentimen global sering kali berdampak negatif pada saham-saham perusahaan sektor komoditas. Pasalnya, tidak sedikit investor dalam negeri yang portofolionya terkonsentrasi di sektor ini terdampak secara langsung.

Meski demikian, bagi investor domestik yang memiliki likuiditas lebih dan berorientasi jangka panjang, koreksi pasar yang ekstrem bisa dimanfaatkan untuk membeli saham-saham berfundamental kuat dengan harga diskon.

Seruan “Sell Indonesia” juga bisa berdampak ke masyarakat. Pasalnya, rupiah yang sempat melemah belakangan ini tak hanya berdampak pada nilai tukar, tetapi juga berpotensi memengaruhi arah suku bunga, harga barang impor, hingga cicilan kredit. Harga barang tertentu dan impor bisa semakin mahal akibat melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS. Bahan bakar minyak atau BBM, barang elektronik, dan kebutuhan yang bergantung pada dolar juga bisa naik.

Selain itu, peluang kerja dan pertumbuhan investasi baru diperkirakan bisa melambat serta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) bisa menghadapi biaya usaha yang lebih tinggi seiring melemahnya rupiah terhadap dolar AS. Kepercayaan pasar bisa turun jika muncul ketidakpastian.

Pemulihan pasar

Meski sentimen jangka pendek tampak memburuk, banyak investor menilai fundamental jangka panjang Indonesia masih tetap kuat dan menarik. Apalagi Indonesia memiliki populasi yang besar, sumber daya yang melimpah, serta posisi strategis dalam rantai pasok global.

Di sisi lain, sebagian investor justru melihat peluang pada valuasi saham yang semakin murah dan potensi pemulihan jangka panjang. Fenomena “Sell Indonesia” bisa mendorong ekonomi lebih mandiri dan tidak tergantung pada modal asing.

Terlebih jumlah investor pasar modal Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Secara nasional, jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai 27,75 juta investor hingga akhir Mei 2026. Jumlah tersebut meningkat 36,27 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Secara year-to-date (YtD), jumlah investor itu tumbuh 36,27 persen.

Baca JugaNilai Tukar Rupiah Cerminan Gagalnya Komunikasi dan Kerja Pemerintah

Angka tersebut merupakan akumulasi investor dari berbagai instrument, mulai dari saham, reksa dana, surat utang, hingga Surat Berharga Negara (SBN). Khusus untuk instrumen saham tercatat 8,59 juta SID aktif.

Sementara itu, di luar pasar modal konvensional, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, aktivitas perdagangan aset kripto di Indonesia juga menunjukkan perkembangan positif. Nilai transaksi aset kripto nasional mencapai Rp 22,98 triliun pada April 2026, seiring meningkatnya jumlah konsumen yang berpartisipasi dalam aset keuangan digital (AKD).

Pada April 2026, jumlah konsumen aset kripto tersebut meningkat 1,57 persen secara bulanan menjadi 21,7 juta akun. Pertumbuhan jumlah investor ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem aset keuangan digital dan kripto masih terjaga di tengah volatilitas pasar.

Dari sisi usia, lebih dari 54 persen investor pasar modal berusia di bawah 30 tahun, sedangkan sekitar 25 persen lainnya berada pada rentang usia 31-40 tahun. Dengan kata lain, hampir delapan dari sepuluh investor merupakan generasi yang belum genap berusia 40 tahun.

Pertumbuhan ini berjalan seiring dengan pesatnya perkembangan platform investasi berbasis aplikasi, maraknya konten edukasi keuangan di media sosial, serta euforia bull market kripto yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Di tengah pertumbuhan investor tersebut, fenomena “Sell Indonesia” bisa menjadi alarm bagi pemerintah untuk lebih memperkuat kepercayaan pasar. Pemulihan pasar sangat bergantung pada upaya membangun kembali kepercayaan investor melalui stabilitas kebijakan dan fundamental ekonomi yang kuat.  (Litbang Kompas)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ariana Grande dan Ethan Slater Putus Usai 3 Tahun Bersama
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Polisi Selidiki Kematian Siswi SMA yang Jatuh dari Spot Foto Pantai Apparalang Bulukumba
• 21 jam lalueranasional.com
thumb
Harga Emas Antam Hari Ini Selasa 9 Juni 2026 Lebih Murah, Sentuh Rp2.733.000 per Gram
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Pimpinan Komisi IX DPR Dukung BGN Moratorium SPPG, Dorong Dapur MBG di Sekolah
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Misteri Pembunuhan Janda di Jeneponto Terungkap, Pelaku Ditangkap usai Setahun Buron
• 16 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.