Sering Dikerok Saat Angin Duduk, Dokter Ungkap Risikonya Bisa Berujung Serangan Jantung

tabloidbintang.com
16 jam lalu
Cover Berita

TABLOIDBINTANG.COM - Masih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap angin duduk sebagai masuk angin biasa dan memilih mengatasinya dengan kerokan atau istirahat.

Kondisi tersebut padahal bisa menjadi sinyal awal penyakit jantung serius yang membutuhkan penanganan medis segera.

Pesan itu disampaikan dalam sesi media Heart Talk yang digelar Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (9/6) pagi.

Dalam kesempatan tersebut, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FASCC, menjelaskan bahwa angin duduk sebenarnya merupakan gejala khas angina pektoris, yakni kondisi ketika otot jantung tidak memperoleh pasokan darah dan oksigen yang cukup akibat penyempitan pembuluh darah.

"Angin duduk yang sering dianggap ringan dan coba diatasi dengan kerokan sebenarnya merupakan gejala khas angina pektoris, yaitu kondisi ketika otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup," ujar dr. Febtusia.

Ia menjelaskan, gejala yang perlu diwaspadai antara lain nyeri atau rasa tertekan di bagian tengah dada yang dapat menjalar ke rahang, bahu, hingga lengan. Keluhan bahkan bisa muncul saat seseorang sedang beristirahat.

"Terutama bila nyeri terasa seperti ditekan di bagian tengah dada, menjalar ke rahang atau lengan, atau muncul bahkan saat beristirahat, kondisi tersebut dapat menjadi tanda peringatan angina tidak stabil atau infark miokard akut," jelasnya panjang lebar.

Meningkatkan edukasi kesehatan berbasis sains

Menurut dr. Febtusia, keterlambatan mengenali gejala menjadi salah satu penyebab pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi yang sudah memburuk. 

Jika penyumbatan pembuluh darah jantung terjadi total, risiko serangan jantung hingga kematian mendadak meningkat drastis.

"Jika dibiarkan hingga pembuluh darah benar-benar tersumbat, kondisi ini dapat berujung langsung pada infark miokard akut atau kematian mendadak. Pasien perlu segera mendatangi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan diagnosis yang tepat," beri tahunya.

Pada sesi yang sama, dr. Wicak Prasetiadi, Head of Brand & Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia, menyoroti pentingnya mengendalikan kadar LDL-C atau kolesterol jahat sebagai langkah utama mencegah penyakit kardiovaskular.

Menurutnya, target kadar LDL-C ideal bagi pasien berisiko tinggi adalah di bawah 55 mg/dL. Untuk pasien yang sulit mencapai target tersebut dengan statin tunggal, kombinasi statin dan ezetimibe dapat menjadi alternatif karena bekerja melalui dua jalur berbeda dalam menurunkan kolesterol.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa kepatuhan minum obat masih menjadi tantangan besar. Semakin banyak obat yang harus dikonsumsi setiap hari, semakin rendah tingkat kepatuhan pasien menjalani terapi jangka panjang.

Sementara itu, Head of Indonesia Business Division Daewoong Pharmaceutical, Baik In Hyun, menegaskan komitmen perusahaan untuk terus meningkatkan edukasi kesehatan berbasis sains di Indonesia.

"Melalui kolaborasi dengan PERKI ini, kami akan terus bekerja sama dengan para tenaga medis untuk menyebarkan informasi kesehatan yang akurat, berbasis sains, dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat Indonesia," ujar Baik In Hyun.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dolar Nyaris Rp18.200, Purbaya: Kita Serahkan Semua ke BI Jaga Rupiah
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Muskab VIII Kabupaten Bekasi Digelar Tanpa Persetujuan, Kadin Jabar Segera Tunjuk Karteker
• 36 menit lalujpnn.com
thumb
Riwayat Pendidikan Chatib Basri yang Digadang Jadi Menkeu Pengganti Purbaya, Jebolan UI dan Beasiswa Australia
• 4 jam laludisway.id
thumb
Tok! DPR Sahkan Revisi UU Polri Jadj Undang-Undang, Ini 8 Pokok Bahasannya
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Presiden Prabowo Terima Kajian DEN, Survei Ungkap Dampak Positif Program MBG bagi UMKM dan Tenaga Kerja Lokal
• 5 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.