Kendaraan Listrik Mengurangi Kematian Dini di China, Memindahkan Risiko ke Indonesia

kompas.id
16 jam lalu
Cover Berita

Ketika kendaraan listrik mulai membanjiri jalan-jalan China satu dekade lalu, banyak pihak memprediksi bahwa perubahan tersebut akan membawa manfaat besar bagi kualitas udara. Kini, bukti empiris menunjukkan bahwa transisi menuju kendaraan listrik terbukti membantu menurunkan tingkat polusi udara di banyak kota dan menyelamatkan ratusan ribu jiwa.

Bukti itu dilaporkan dalam penelitian di Nature Health pada Mei 2026 oleh Qianqian Yang dari Hong Kong Baptist University, dan tim. Penelitian ini menggunakan data satelit untuk menilai dampak perubahan tersebut terhadap kualitas udara di 150 kota di China.

Hasilnya menunjukkan bahwa meningkatnya penggunaan “kendaraan energi baru” yang mencakup kendaraan listrik baterai, kendaraan hibrida, dan kendaraan berbahan bakar hidrogen, telah menghasilkan penurunan signifikan beberapa polutan utama. Dibandingkan dengan saat seluruh kendaraan masih menggunakan mesin pembakaran internal, kadar karbon monoksida di kota-kota di China turun lebih dari 30 persen. Sementara itu, konsentrasi partikel halus (PM 2,5) menurun lebih dari 23 persen.

Perbaikan di China ini dinilai sangat signifikan karena polusi udara luar ruangan masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di dunia. Setiap tahun, lebih dari 4 juta orang meninggal lebih awal akibat penyakit yang berkaitan dengan paparan udara tercemar. Sekitar seperempat dari kematian tersebut sebelumnya terjadi di China, negara yang selama puluhan tahun bergulat dengan persoalan polusi akibat industrialisasi dan ledakan jumlah kendaraan bermotor.

Baca JugaBebas Bernapas Tanpa Cemas di China

Kendaraan berbahan bakar fosil merupakan salah satu sumber utama pencemaran udara perkotaan di China. Mesin pembakaran internal melepaskan karbon monoksida, PM 2,5, nitrogen oksida, dan berbagai senyawa berbahaya lain yang dapat memicu stroke, penyakit jantung, kanker paru-paru, infeksi saluran pernapasan, hingga kematian dini.

Namun, dalam dua dekade terakhir, pemerintah China menggelontorkan investasi besar melalui subsidi, insentif pajak, dan berbagai program pengembangan industri kendaraan listrik. Hasilnya terlihat jelas. Pada 2025, lebih dari separuh mobil baru yang terjual di negara itu merupakan kendaraan listrik.

Hasilnya menggembirakan sekaligus mengkhawatirkan. (Qiangqiang Yuan)

Perbaikan kualitas udara ini bukan sekadar angka statistik. Para peneliti memperkirakan bahwa penurunan polusi tersebut telah mencegah sekitar 262.000 kematian prematur. Paparan jangka panjang terhadap polusi udara diketahui meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis yang mematikan. Karena itu, berkurangnya konsentrasi polutan berarti berkurangnya beban penyakit yang harus ditanggung masyarakat.

“Hasilnya menggembirakan sekaligus mengkhawatirkan,” kata Qiangqiang Yuan, peneliti penginderaan jauh dari Universitas Wuhan dan salah satu penulis studi tersebut, yang menyertai laporannya.

Baca JugaPenambangan Nikel di Halmahera Menekan Ekonomi Warga Setempat

Pernyataan Yuan mencerminkan dua sisi dari temuan penelitian. Di satu sisi, kendaraan listrik terbukti memberikan manfaat kesehatan masyarakat yang nyata. Namun di sisi lain, tidak semua jenis polusi berkurang dengan tingkat yang sama. Lebih jauh lagi, sebagian dampak lingkungan dari revolusi kendaraan listrik justru muncul jauh dari kota-kota yang menikmati udara lebih bersih.

Polusi baru kendaraan listrik

Penelitian juga menunjukkan bahwa jenis kendaraan yang dielektrifikasi memengaruhi besarnya manfaat lingkungan yang diperoleh. “Kita hanya perlu berhati-hati dalam memperlakukan semua EV (kendaraan listrik) secara sama,” kata Emmett Hopkins, pakar perencanaan transportasi dari Climate & Community Institute di California, seperti ditulis Nature edisi 5 Juni 2026.

Hopkins mengingatkan bahwa kendaraan besar tetap menghasilkan polusi non-knalpot. Partikel yang berasal dari keausan ban, rem, dan permukaan jalan tetap dilepaskan ke udara, baik kendaraan tersebut menggunakan bensin maupun listrik.

Dengan kata lain, kendaraan listrik memang menghilangkan emisi knalpot, tetapi tidak sepenuhnya menghapus seluruh sumber pencemaran yang terkait dengan transportasi jalan raya.

Keberhasilan China juga memperlihatkan adanya kesenjangan geografis dan sosial. Penurunan polusi terbesar terjadi di kota-kota yang relatif makmur, memiliki tingkat adopsi kendaraan listrik tinggi, infrastruktur pengisian daya yang memadai, serta tata kelola kualitas udara yang lebih baik. Sebaliknya, kota-kota berpendapatan rendah mengalami perbaikan yang lebih lambat.

Bagi Yuan, temuan ini menjadi peringatan penting. "Hal ini tidak terduga dan mengkhawatirkan,” katanya.

Serial Artikel

Bahaya Emisi dari Keausan Ban dan Kendaraan Listrik

Meskipun kendaraan listrik dianggap bisa mengurangi emisi bahan bakar, kita akan terus memiliki masalah dengan polusi dari partikel akibat keausan ban jika tidak ada pembatasan kendaraan pribadi.

Baca Artikel

Menurutnya, transisi menuju kendaraan listrik harus dibarengi dengan kebijakan tambahan untuk membantu wilayah-wilayah yang tertinggal agar tidak semakin tertinggal dalam memperoleh manfaat kesehatan dari udara yang lebih bersih.

Hopkins juga menyoroti persoalan keadilan sosial dalam kebijakan insentif kendaraan listrik. “Sebagian besar orang tidak membeli kendaraan baru langsung dari jalur perakitan,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa subsidi kendaraan listrik sering kali lebih mudah dinikmati kelompok berpenghasilan tinggi. Bahkan, kebijakan tersebut dapat mendorong sebagian orang beralih dari berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum menjadi pengguna mobil pribadi.

Udara yang lebih bersih di Beijing, Shanghai, atau Shenzhen dibangun di atas kerusakan hutan tropis di Sulawesi atau pencemaran pesisir di Halmahera.

Pengalaman China menunjukkan bahwa kendaraan listrik dapat menjadi alat yang efektif untuk memperbaiki kualitas udara dan mengurangi dampak kesehatan akibat polusi. Ratusan ribu kematian dini yang berhasil dicegah merupakan bukti nyata bahwa elektrifikasi transportasi dapat memberikan manfaat kesehatan publik dalam skala besar.

Namun studi ini juga menegaskan bahwa kendaraan listrik bukanlah solusi tunggal. Udara yang lebih bersih di Beijing, Shanghai, atau Shenzhen dibangun di atas kerusakan hutan tropis di Sulawesi atau pencemaran pesisir di Halmahera. Transisi energi yang benar-benar berkelanjutan harus memastikan bahwa manfaat lingkungan dan kesehatan tidak diperoleh dengan memindahkan beban ekologis dan sosial kepada masyarakat di daerah penghasil bahan baku.

Memindahkan beban ke tempat lain

Permintaan global terhadap baterai kendaraan listrik, terutama di China, selama ini telah mendorong ledakan industri nikel di Sulawesi dan Maluku Utara. Nikel merupakan salah satu bahan baku utama baterai lithium-ion yang digunakan pada banyak kendaraan listrik modern.

Ekspansi tambang nikel di Indonesia telah mengubah bentang alam dalam skala besar. Hutan-hutan tropis dibuka untuk pertambangan, sungai dan pesisir mengalami sedimentasi, sementara aktivitas pengolahan bijih menghasilkan pencemaran udara dan limbah industri yang memengaruhi kualitas lingkungan sekitar.

Kajian Michaela G.Y. Lo dari University of Kent bersama tim dari Indonesia seperti Sonny Mumbunan dan Jatna Supriatna yang diterbitkan dalam jurnal One Earth pada 2024 menemukan bahwa pertumbuhan industri nikel Indonesia telah mempercepat kehilangan tutupan hutan di sejumlah wilayah Sulawesi. Penelitian tersebut mencatat bahwa meskipun pertambangan meningkatkan pendapatan daerah dan menciptakan lapangan kerja, keuntungan ekonomi itu sering kali disertai penurunan kualitas lingkungan dan berbagai aspek kesejahteraan sosial masyarakat.

Dengan kata lain, transisi menuju energi yang lebih bersih tidak selalu berarti proses produksi energinya bebas dari dampak ekologis. Hal ini juga dikuatkan oleh riset para peneliti dari University of Queensland (UQ) di jurnal Nature Communications tahun 2025. Laporan ini menunjukkan dampak buruk tambang nikel terhadap lingkungan.

Evelyn Mervine dari Fakultas Lingkungan UQ dan tim menganalisis data dari 481 lokasi tambang nikel internasional dan menemukan jejak emisi dari lahan penambangan nikel bisa empat hingga 500 kali lebih besar dari yang dilaporkan sebelumnya. Termasuk yang dikaji adalah nikel di kawasan Indonesia.

Serial Artikel

Nikel Menopang Energi Terbarukan, tetapi Penambangannya Merusak Lingkungan

Perusahaan pertambangan diminta menghindari tambang baru di area yang memiliki ”karbon yang tidak dapat dipulihkan”, yaitu hutan hujan tua dan hutan bakau.

Baca Artikel

Berbagai laporan dari organisasi masyarat sipil juga mengungkap perubahan masif di kawasan industri nikel Morowali, Sulawesi Tengah, dan Weda Bay di Halmahera. Desa-desa yang sebelumnya bergantung pada pertanian, perikanan, dan hasil hutan kini berada di tengah lanskap industri yang dipenuhi tambang terbuka, smelter, jalan angkut, dan pelabuhan mineral.

Sejumlah penelitian ini mencatat munculnya konflik lahan, hilangnya akses masyarakat terhadap sumber daya alam, tekanan terhadap wilayah adat, serta meningkatnya ketimpangan sosial akibat arus investasi yang sangat besar. Selain memicu deforestasi, ekspansi nikel juga memicu pencemaran pesisir, hilangnya mata pencaharian nelayan, hingga meningkatnya risiko kesehatan masyarakat di sekitar kawasan industri.

Desa-desa yang sebelumnya bergantung pada pertanian, perikanan, dan hasil hutan kini berada di tengah lanskap industri yang dipenuhi tambang terbuka.

Laporan dari Nexus3 Foundation dan Universitas Tadulako, pada 2025 menunjukkan, ikan di Teluk Weda yang mengandung beragam logam berat. Bahkan, arsenik dan merkuri ditemukan dalam darah warga Gemaf dan Lelilef, di Teluk Weda dengan kadar melebihi ambang aman.

Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai bentuk “kekerasan sosial-ekologis”, yaitu ketika biaya lingkungan dan sosial dari pembangunan tidak ditanggung secara merata oleh seluruh pihak yang menikmati manfaatnya.

Karena itu, sejumlah investor global mulai mendesak perusahaan tambang dan produsen kendaraan listrik untuk memperkuat standar lingkungan dan hak asasi manusia dalam rantai pasok mereka. Mereka memperingatkan bahwa deforestasi, pencemaran, dan konflik sosial dapat menjadi ancaman serius bagi kredibilitas industri kendaraan listrik sebagai solusi hijau.

Paradoks ini tidak berarti kendaraan listrik gagal memberikan manfaat. Sebaliknya, temuan di China menunjukkan bahwa elektrifikasi transportasi memang mampu menyelamatkan banyak nyawa melalui pengurangan polusi udara.

Namun keberhasilan tersebut mengingatkan bahwa keberlanjutan tidak dapat diukur hanya dari emisi knalpot di jalan raya. Jejak lingkungan dari bahan baku, energi, dan proses manufaktur juga harus diperhitungkan.

Dengan kata lain, tantangan abad ke-21 bukan hanya menciptakan kendaraan yang lebih bersih, melainkan membangun seluruh rantai pasok energi yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Fakta-fakta Bocah 9 Tahun di Bogor Tewas Diserang 30 Anjing Pemburu
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Apple Akhirnya Luncurkan Siri AI Setelah Lama Tertunda
• 20 jam laluidxchannel.com
thumb
Sambut HUT-499, Pemprov DKI Rangkul Warga Lewat JFF dan Jakarta Fair
• 16 jam laludetik.com
thumb
Pakar dorong evaluasi otonomi daerah perkuat tata kelola
• 53 menit laluantaranews.com
thumb
Penjualan Daihatsu Justru Melonjak 25 Persen di Mei 2026
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.