Chatib Basri: Situasi Ekonomi RI Tak Seburuk yang Dibayangkan

kumparan.com
17 jam lalu
Cover Berita

Ekonom senior Chatib Basri menilai perekonomian Indonesia saat ini tidak seburuk yang dibayangkan karena pondasi konsumsi domestik dan belanja pemerintah yang kuat.

Eks Menteri Keuangan itu menjelaskan, perang AS-Israel dan Iran yang berimbas pada kenaikan harga minyak mentah memang mengancam defisit APBN 2026. Berdasarkan perhitungannya, setiap kenaikan USD 1 dari harga minyak mentah, defisit APBN melebar Rp 6,8 triliun.

Namun menurutnya, serangan AS-Israel terhadap Iran tidak akan berlangsung lama. Sebab Presiden AS Donald Trump punya kepentingan politik untuk mengamankan laju inflasi menjelang pemilu sela akhir tahun nanti.

Di sisi lain, Chatib menilai perekonomian Indonesia juga masih dalam kondisi yang baik, tecermin dari konsumsi rumah tangga dan pemerintah yang tinggi pada kuartal I 2026.

“Situasi di domestik itu tidak seburuk yang dibayangkan. Mungkin bapak dan ibu banyak yang tidak setuju sama saya. Kenapa [tidak seburuk yang dibayangkan]? Karena kalau dilihat di kuartal I, household consumption-nya itu masih relatif lumayan, didorong oleh lebaran puasa pada waktu itu,” jelas Chatib dalam acara Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa (9/6).

Sementara itu pertumbuhan konsumsi atau belanja pemerintah cukup tinggi mencapai 20-22% pada kuartal I 2026. Berdasarkan tingginya belanja pemerintah itu, Chatib menilai pemerintah tidak akan belanja sebesar ini pada kuartal II hingga kuartal IV 2026.

Jika pertumbuhan belanja pemerintah tinggi, kata Chatib, maka pemerintah perlu mencari kenaikan pendapatan seperti menaikkan penerimaan pajak. Namun ia berpandangan langkah itu sepertinya tidak akan dilakukan dalam waktu dekat.

“Sehingga mungkin di kuartal II, III, dan IV growth dari government spending-nya enggak mungkin di 22%. Maka kita akan mulai mengalami deceleration dari economic growth-nya,” ucap Chatib.

Chatib menilai kekhawatiran terbesar para investor dan turunnya kepercayaan terhadap ekonomi RI disebabkan kekhawatiran pelebaran defisit APBN melebihi 3%.

Ia menganggap hal itu tidak akan terjadi jika belanja pemerintah bisa dikendalikan pada kuartal-kuartal berikutnya. Sebab Chatib menilai tingkat penerimaan pajak akan menurun pada kuartal III dan IV.

"Pertanyaannya bisa gak government spending akan terus setinggi ini ke depan?...Sementara tax revenue-nya tumbuh di sekitar 18%, sementara spending-nya [pemerintah] 34%. Ada kemungkinan tax revenue-nya akan slowdown di quarter III dan IV, mau gak mau itu spending-nya [pemerintah] juga akan slowdown. Kalau enggak, budget deficit-nya akan lebih dari 3%," jelasnya.

“Inilah yang kemudian menimbulkan anxiety dari orang, dari investor. Mereka khawatir ini deficit-nya akan bisa sustainable atau tidak,” tutup Chatib.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Erosi Kepercayaan dan Ujian Kredibilitas
• 20 jam lalukatadata.co.id
thumb
65 Emiten Gelar Buyback Senilai Rp65,34 Triliun, Realisasi Baru 30 Persen 
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Hari Pertama Ujian Nasional Tiongkok (Gaokao) Dihantam Cuaca Ekstrem, Banjir 2 Meter Terjang Chongqing
• 17 jam laluerabaru.net
thumb
Luhut: Bansos ke Depan Tak Lagi Barang, Diberi Cash Transfer Rp5,4 Juta per Orang
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
Dua Penalti Cody Gakpo Bawa Belanda Tekuk Uzbekistan 2-1
• 23 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.