Bisnis.com, BATAM - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus mendorong penguatan industri maintenance, repair and overhaul (MRO) dalam negeri sebagai upaya menjaga keselamatan penerbangan sekaligus menahan laju kenaikan harga tiket pesawat.
Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kemenhub Sokhib Al Rokhman mengatakan, biaya perawatan atau maintenance pesawat saat ini menyumbang sekitar 16% hingga 20% dari total biaya operasional yang memengaruhi harga tiket.
"Strategi kita dalam meningkatkan kapabilitas dan kapasitas industri MRO di Indonesia yang pertama adalah meningkatkan keselamatan penerbangan," kata Sokhib saat hadir di Indonesia MRO Submit (IMROS) di Batam, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, pemerintah telah mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi tekanan biaya di industri penerbangan, di antaranya pembebasan larangan dan pembatasan (lartas) impor komponen pesawat serta usulan penerapan bea masuk 0% untuk suku cadang pesawat.
"Yang kedua meningkatkan konektivitas, salah satunya bagaimana harga tiket pesawat itu terjangkau kepada masyarakat," ujarnya.
Ia menjelaskan, kebijakan pembebasan lartas terhadap komponen pesawat yang sebelumnya dibatasi diharapkan dapat mempercepat proses pengadaan suku cadang dan menekan biaya perawatan pesawat.
Baca Juga
- Rencana MRO Hercules di Kertajati, Kemenhub Buka Suara
- Kemenhan Sebut MRO Kertajati Bukan Sebagai Pangkalan Militer AS
- Merger Dua BPR di Cirebon, Bupati Imron: Kendali Pemkab Berisiko Susut
Selain itu, pemerintah juga tengah menunggu penyelesaian regulasi terkait penerapan bea masuk 0% yang saat ini masih dibahas bersama kementerian terkait.
"Bagaimana dampaknya? Tentu tekanan terhadap industri penerbangan saat ini luar biasa dengan kondisi global. Maka kita berupaya menahan harga tiket ini agar tidak naik lagi. Biaya maintenance saat ini sekitar 16% bahkan bisa sampai 20%," ujarnya.
Meski berupaya menekan biaya operasional, Sokhib menegaskan standar keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama.
"Meski demikian kualitas tidak boleh turun. Safety tetap harus terjamin, tetapi daya beli masyarakat juga harus bisa kita layani dengan baik," tambahnya.
Sementara itu, Chairman Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA) Andi Fahrurrozi mengatakan, pemerintah sebenarnya telah memberikan pembebasan lartas untuk sebagian komponen pesawat sejak 2 tahun terakhir. Selain itu, menurutnya, proses penerapan bea masuk 0% saat ini tinggal menunggu terbitnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK).
"Saat ini masih dalam tahap sinkronisasi dan kami menunggu PMK agar bisa segera membantu industri aviasi, terutama sektor MRO," katanya.
Andi menjelaskan industri MRO nasional terbagi dalam empat segmen utama, yakni airframe maintenance, line maintenance, perawatan komponen, dan perawatan mesin (engine maintenance). Untuk sektor airframe maintenance, Indonesia dinilai sudah sangat kuat. Bahkan lebih dari 90% pekerjaan perawatan badan pesawat telah dikerjakan di dalam negeri.
"Airframe itu lebih dari 90% sudah dikuasai lokal, bahkan bisa mencapai 95%. Sementara line maintenance sudah 100% dikerjakan di Indonesia," ujarnya.
Namun, menurutnya tantangan terbesar masih berada pada perawatan komponen dan mesin pesawat yang membutuhkan investasi besar serta teknologi tinggi.
Menurutnya, sekitar 70% pekerjaan perawatan komponen dan mesin pesawat masih dilakukan di luar negeri. Kondisi tersebut membuat industri penerbangan nasional masih bergantung pada fasilitas MRO asing.
"Kalau dalam 5 tahun ke depan tidak ada investasi untuk engine jenis baru, maka ketergantungan ke luar negeri akan tetap tinggi. Ini menjadi tantangan industri MRO Indonesia," ujar Andi.
Karena itu, IAMSA dan pelaku industri kini fokus mendorong pengembangan fasilitas perawatan komponen dan mesin pesawat di dalam negeri guna meningkatkan kemandirian industri penerbangan nasional sekaligus menekan biaya operasional maskapai.
Di sisi lain, kapasitas perawatan badan pesawat terus bertambah. Sejumlah perusahaan MRO, termasuk GMF, telah melakukan ekspansi hanggar untuk mengakomodasi meningkatnya kebutuhan perawatan armada.
"Untuk airframe, Indonesia sangat kuat dan sangat potensial. Banyak anggota IAMSA yang terus menambah kapasitas hanggar baru," ujarnya.





