Krisis Kepercayaan dan Lahirnya Era Baru Politik Digital

kumparan.com
15 jam lalu
Cover Berita

Ada stigma yang bising di telinga kita: generasi Gen Z dianggap mengalami krisis kepercayaan terhadap masa depan bangsa. Cap ini melekat hanya karena mereka enggan melirik panggung formal, padahal mereka tengah membangun kekuatan baru lewat gerakan politik digital.

Namun, benarkah mereka tidak peduli?

Jika kita memperluas lensa pandang, realitasnya justru terbalik. Generasi muda tidak sedang mundur dari politik; mereka sedang mendefinisikan ulang apa itu "partisipasi warga negara."

Bagi Gen Z dan Milenial, politik tidak lagi dimulai dan berakhir di bilik suara setiap lima tahun sekali. Partisipasi politik kini bersifat harian, cair, dan digital. Isu-isu krusial seperti kerusakan lingkungan, kesehatan mental, hingga kebocoran data pribadi justru dikawal ketat oleh jemari anak muda di media sosial.

Gerakan clicktivism—yang sering diremehkan sebagai sekadar modal "klik" dan "share"—nyatanya mampu menciptakan tekanan publik yang nyata. Petisi daring kini bisa membatalkan kebijakan yang timpang. Utasan kritis di media sosial mampu membongkar penyalahgunaan wewenang, dan penggalangan dana digital untuk isu sosial terkumpul dalam hitungan jam, melompati birokrasi negara yang lambat.

Keengganan mereka masuk ke politik formal bukanlah tanpa alasan, melainkan bentuk protes atas krisis kepercayaan (crisis of trust). Ketika parpol dirasa koruptif dan dihuni wajah lama, anak muda memilih menyalurkan energi mereka ke jalur non-formal: komunitas independen dan gerakan lokal. Di sana, mereka menemukan transparansi dan aksi nyata yang instan.

Melihat fenomena ini, negara tidak bisa lagi memakai cara lama untuk "merangkul" anak muda. Memaksa mereka tunduk pada gaya berpolitik abad ke-20 adalah kesia-siaan.

Sudah saatnya kita mengakui bahwa kritik di ruang digital dan advokasi komunitas adalah pilar penting demokrasi modern. Generasi muda tidak sedang tidur. Mereka bergerak dengan cara sendiri, merombak masa depan bangsa dari balik layar gawai. Karena menjadi warga negara yang baik bukan lagi soal seberapa patuh kita pada sistem, melainkan seberapa berani kita bersuara untuk memperbaikinya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Silmy Karim Jadi Tersangka Korupsi, Yusri Ihza Mahendra Bongkar Langkah Kemenkokumham Imipas
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Implementasi ESG, Gerbangtara Lanjutkan Gerakan 2.000 Pohon untuk Kaltim
• 34 menit lalutvonenews.com
thumb
Harga Komoditas: Batu Bara Naik 1,6 Persen, Nikel-Timah Turun 1,2 Persen
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Cara Atasi Kebiasaan Menunda-nunda dengan Aturan 5 Detik
• 20 jam lalubeautynesia.id
thumb
IPOT Dorong Literasi Finansial dan Pemanfaatan AI untuk Siapkan Generasi Muda Hadapi Ekonomi Digital
• 17 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.