Sektor ekraf berpeluang bertahan di situasi ekonomi global

antaranews.com
15 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Pengamat Ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita mengatakan beberapa sektor ekonomi kreatif masih bisa berpeluang bertahan di tengah ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi global.

Beberapa sektor ekraf itu di antaranya yang berbasis teknologi digital memiliki peluang bertahan paling besar, karena nilai tambah utamanya berasal dari sumber daya manusia dan kreativitas, bukan dari bahan baku impor yang besar.

“Industri seperti pengembangan gim, animasi, konten digital, film, musik digital, desain grafis, kecerdasan buatan, serta layanan kreatif berbasis teknologi relatif lebih tahan terhadap gangguan rantai pasok global,” kata Ronny kepada ANTARA melalui pesan singkat yang diterima, Selasa.

Ia mengatakan pelaku industri kreatif saat ini perlu meningkatkan daya saing globalnya dengan menanamkan tiga faktor utama pada produknya yaitu kualitas, inovasi, dan efisiensi. Maka itu diperlukan investasi pada teknologi digital, otomatisasi proses produksi untuk efisiensi, penguatan branding, dan penguasaan pemasaran berbasis data menjadi sangat penting di tengah konflik global dan hambatan ekonomi.

Baca juga: Ekraf sebut industri gim dan esport buka peluang lapangan kerja baru

Ronny mengatakan subsektor fesyen, kriya, dan produk berbasis budaya lokal juga masih memiliki prospek yang kuat apabila mampu masuk ke segmen premium dan niche market atau pasar yang lebih besar, yang disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan, preferensi, atau identitas sekelompok konsumen tertentu.

“Saat ekonomi global melambat, konsumen cenderung lebih selektif, tetapi tetap bersedia membayar lebih untuk produk yang autentik, eksklusif, dan memiliki identitas yang kuat. Di sinilah kekayaan budaya Indonesia menjadi keunggulan kompetitif yang sulit ditiru negara lain,” kata Ronny.

Ronny mengatakan banyak pelaku usaha kreatif saat ini masih terjebak pada keunggulan artistik semata, padahal pasar internasional juga menuntut konsistensi kualitas, ketepatan pengiriman, serta harga yang kompetitif.

Produk yang memiliki cerita budaya, keberlanjutan lingkungan, identitas lokal yang kuat, serta diferensiasi yang jelas akan lebih sulit ditiru dan memiliki posisi tawar yang lebih tinggi di pasar internasional. Maka itu, Ronny mengatakan ekonomi kreatif Indonesia harus memikirkan untuk menjual kreativitas dan intellectual property, bukan hanya produk fisik.

Sementara itu, industri kreatif yang terkait dengan ekonomi hijau dan keberlanjutan juga diperkirakan akan menjadi salah satu pemenang jangka panjang.

Hal ini didasari dengan tren global yang menunjukkan bahwa investor, konsumen, dan regulator semakin memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

“Produk kreatif yang mengusung konsep ramah lingkungan, ekonomi sirkular, dan penggunaan bahan berkelanjutan memiliki peluang lebih besar untuk diterima pasar internasional dalam beberapa tahun mendatang,” kata Ronny.

Menghadapi daya saing global di tengah ketidakpastian ekonomi, Ronny mengatakan perlu memperkuat nilai tambah produk karena persaingan global tidak lagi pada harga namun menuju pada kompetisi nilai.

Baca juga: Kemenekraf sambut hangat penyelenggaraan Main Event PMGO 2026

Baca juga: AI berpeluang tingkatkan produktivitas dan ekonomi kreatif

Baca juga: Menteri Ekraf: Komunitas bisa bantu kembangkan IP kuliner lokal


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
OJK Sebut Program Penjaminan Polis Perkuat Perlindungan Masyarakat di Industri Asuransi
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
Tekan Harga Tiket Pesawat, Kemenhub Dorong Penguatan Industri MRO Dalam Negeri
• 15 jam lalubisnis.com
thumb
Makanan dan Minuman untuk Detoks Tubuh
• 21 jam lalubeautynesia.id
thumb
Ada Demo Mahasiswa di Jakarta Hari ini, Awas Terjebak Macet
• 20 jam lalukompas.com
thumb
APINDO: Perlindungan Pekerja yang Terbaik adalah Pekerjaan itu Sendiri
• 5 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.