Ekonom Senior, Muhamad Chatib Basri, mengungkapkan bahwa situasi ekonomi Indonesia sepanjang kuartal I 2026 menunjukkan performa yang cukup tangguh dan tidak seburuk yang dikhawatirkan banyak pihak.
Ia mengutip berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat konsumsi domestik atau rumah tangga pada tiga bulan pertama tahun ini masih relatif sehat dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,56 persen.
Mantan Menteri Keuangan tersebut menjelaskan, tingginya daya beli masyarakat pada kuartal I 2026 ini dipicu oleh adanya momentum musiman serta agresifnya stimulus fiskal dari pemerintah pusat.
"Pendorong konsumsi rumah tangga pada kuartal I 2026 antara lain momen puasa dan Lebaran. Selain itu, di first quarter pemerintah melakukan spending-nya (belanja) sekitar 20 sampai 22 persen, sehingga kemudian growth-nya naik secara signifikan," ujar Chatib Basri di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Meski mencatatkan modal awal yang baik, Chatib Basri memberikan catatan kritis terkait kelanjutan tren positif ini. Menurutnya, pemerintah akan kesulitan mempertahankan performa belanja di level 22 persen pada kuartal-kuartal berikutnya jika tidak dibarengi dengan kenaikan pos pendapatan negara.
"Syaratnya hanya satu, revenue (penerimaan) pajaknya harus bisa membiayai ini. Mudahnya di company (perusahaan) kan kalau capex (belanja modal) Bapak dan Ibu mau expand, itu revenue-nya harus naik. Kalau revenue-nya enggak naik, enggak mungkin," jelasnya.
Ia memperingatkan, jika target penerimaan sektor pajak gagal digenjot sementara pertumbuhan ekonomi mulai melandai, maka pemerintah terpaksa harus mengencangkan ikat pinggang dengan memangkas alokasi belanja modal.
"Kalau revenue pajaknya enggak naik, maka capex-nya harus diturunin di quarter berikutnya. Nah sekarang pertanyaannya, kalau growth-nya slow down, bisa enggak kemudian capex-nya di-expand? Less likely (kecil kemungkinan). Sehingga mungkin di quarter 2, 3, dan 4, growth dari government spending akan melambat," pungkasnya.





