Bisnis.com, JAKARTA — Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan lagi suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke 5,50% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan disebut langsung mendapatkan respons positif oleh pasar.
Untuk diketahui, BI dalam RDG Mingguan 9 Juni 2026 menilai bahwa rupiah semakin melemah dari prakiraan meski sudah menaikkan suku bunga acuan sebelumnya pada RDG Bulanan 19-20 Mei sebesar 50 bps. Dengan demikian, kini BI telah menaikkan total 75 bps suku bunga.
Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang mengatakan bahwa keputusan bank sentral ini merupakan langkah positif dan preemptive untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Sebab, rupiah sempat melemah hingga 8% secara tahun berjalan (year-to-date/YtD) hingga 8% ke Rp18.190 per dolar AS.
"Intervensi ini krusial demi meredam risiko imported inflation beserta dampak rambatannya," jelas Hosianna kepada Bisnis, Selasa (9/6/2026).
Di sisi lain, Hosianna menyebut kenaikan BI Rate langsung direspons positif oleh pasar. Hal ini terlihat dari rupiah yang langsung menguat 0,7% ke level Rp18.070 di pasar spot.
"Selain itu, kebijakan ini diproyeksi bakal mendongkrak daya tarik imbal hasil instrumen domestik," lanjutnya.
Baca Juga
- Analis: BI Rate Berpotensi Naik 200 Bps ke 6,75% pada 2026
- Efek BI Rate hingga Rencana Buyback Himbara, Saham Bank Pesta!
- Terungkap! Alasan BI Naikkan Suku Bunga 25 Bps jadi 5,5%
Menurut Hosianna, langkah BI untuk menggelar RDG di luar jadwal reguler bulanan bukan hal baru. Langkah serupa pernah dilakukan BI pada 2018 silam untuk menaikkan BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps ke 4,75%.
Di sisi lain, Head of Macroeconomic & Financial Market Research PT Bank Permata Tbk. Faisal Rachman berpendapat bahwa kebijakan yang diambil oleh BI menandakan sikap moneter yang lebih agresif.
Selain suku bunga, BI telah memperkenalkan serangkaian kebijakan seperti menaikkan imbal hasil SRBI, biaya hedging lebih rendah, perluasan fasilitas likuiditas, serta intervensi valas yang lebih intensif.
Faisal lalu memprakirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan lebih lanjut di sisa 2026. Kebijakan ini berpeluang diambil sebab ketidakpastian global dan domestik yang kemungkinan belum mereda dalam waktu dekat.
Alhasil, peluang BI untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut tetap terbuka lebar.
"Kami memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 25 bps lagi menjadi 5,75% pada kuartal ketiga tahun 2026 sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga stabilitas ekonomi makro dan pasar keuangan di tengah ketidakpastian yang terus meningkat," terang Faisal melalui keterangan tertulis.
Dari sisi kebijakan, BI juga diramal akan mempertahankan bias kebijakan pro stabilitas guna menjaga perbedaan suku bunga yang memadai relatif terhadap Federal Fund Rate (FFR) AS.
Adapun, terkat dengan rupiah, Faisal juga memprakirakan volatilitas jangka pendek kemungkinan berlanjut. Pihaknya pun memprakirakan proyeksi nilai tukar berada di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.200 per dolar AS pada akhir 2026.
"Kami memperkirakan proyeksi Rupiah akhir tahun 2026 berada di kisaran IDR 17.900–Rp18.200 per Dolar AS, yang mencerminkan dampak gabungan dari ketidakpastian global yang berkelanjutan, tantangan makroekonomi domestik, dan komitmen berkelanjutan BI untuk menjaga stabilitas," pungkas Faisal.





