Pantau - Pakar biodiversitas Universitas Sumatera Utara (USU) Onrizal menegaskan pengendalian ikan red devil atau Amphilophus labiatus penting dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem Danau Toba serta melindungi keberlanjutan sektor perikanan masyarakat di kawasan tersebut.
Ikan Invasif Berpotensi Tekan Populasi Ikan LokalOnrizal mengatakan, "Red devil bukan spesies asli Danau Toba. Dalam kondisi lingkungan yang sesuai, ikan itu dapat berkembang pesat dan berpotensi menekan populasi ikan lokal," ujarnya di Medan, Selasa.
Peneliti Center for Tropical Ecology and Biodiversity Conservation itu menjelaskan ikan red devil berasal dari Amerika Tengah dan diduga masuk ke Danau Toba melalui perdagangan ikan hias yang kemudian terlepas atau sengaja dilepaskan ke perairan umum.
Ia menyebut kondisi Danau Toba yang luas, ketersediaan pakan yang memadai, serta minimnya predator alami membuat spesies tersebut mampu berkembang dan beradaptasi dengan baik.
Menurutnya, ikan red devil memiliki sifat agresif, mempertahankan wilayah teritorial, serta melindungi sarang dan anak-anaknya.
"Dalam ekosistem danau, karakter seperti itu dapat menekan ikan lokal melalui kompetisi makanan, perebutan ruang hidup, dan kemungkinan pemangsa terhadap anakan ikan lain," ungkapnya.
Dampak Ekonomi dan Strategi PengendalianOnrizal menilai keberadaan ikan red devil tidak hanya berdampak pada aspek ekologis, tetapi juga ekonomi masyarakat sekitar Danau Toba.
Ia menjelaskan dominasi red devil dalam hasil tangkapan nelayan berpotensi menurunkan nilai ekonomi perikanan karena harga jual spesies tersebut lebih rendah dibandingkan sejumlah ikan konsumsi yang menjadi sumber penghasilan utama masyarakat.
Karena itu, ia menilai pengendalian populasi perlu dilakukan secara terencana meski pemberantasan total dinilai sulit mengingat luasnya perairan Danau Toba dan populasi ikan yang sudah mapan.
"Strategi yang lebih realistis adalah pengendalian populasi dan pembatasan penyebaran," katanya.
Onrizal menyarankan pengendalian dilakukan melalui penangkapan intensif di lokasi pemijahan dan wilayah dengan konsentrasi populasi tinggi.
Ia juga mengatakan hasil tangkapan ikan red devil dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan maupun produk olahan tanpa mendorong pembudidayaan atau penyebarannya ke perairan lain.
Pada bagian akhir, Onrizal mendorong pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan kelompok nelayan untuk menyusun program pengendalian terpadu berbasis data guna memetakan sebaran populasi, dampak terhadap ikan lokal, serta efektivitas langkah pengendalian yang dilakukan.




