Tambora hingga Johar Baru Zona Merah Kebakaran Jakarta

kompas.com
14 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta mengungkap sejumlah wilayah yang masuk kategori zona merah atau red zone kebakaran di Jakarta.

Wilayah-wilayah tersebut dinilai rawan karena berulang kali mengalami kebakaran dalam beberapa tahun terakhir.

Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta Bayu Meghantara mengatakan, kawasan yang masuk zona merah umumnya merupakan permukiman padat penduduk.

“Ada beberapa titik merah atau red zone yang mengalami siklus kebakaran berulang. Kawasan permukiman padat seperti Tambora di Jakarta Barat, Johar Baru dan Tanah Abang di Jakarta Pusat, serta wilayah pesisir seperti Cilincing dan Pademangan di Jakarta Utara,” ujar Bayu saat berbincang dengan Kompas.com, Selasa (9/6/2026).

Baca juga: Mobil Damkar Tertimpa Beton Gedung DLH Jakarta, Pemprov Evaluasi SOP Keselamatan Kerja

Menurut Bayu, kebakaran terus berulang di kawasan tersebut karena kondisi lingkungannya tidak banyak berubah meski sudah pernah mengalami kebakaran.

Setelah rumah-rumah dibangun kembali secara mandiri oleh warga, bentuk permukiman umumnya tetap sama seperti sebelumnya, yakni menjadi kawasan padat penduduk.

“Kawasan ini kerap mengalami kejadian berulang dalam rentang waktu beberapa tahun sekali karena karakteristik lingkungannya yang tidak banyak berubah setelah rekonstruksi mandiri oleh warga,” katanya.

Ia menjelaskan, sebagian besar kawasan tersebut memiliki ciri yang sama, yakni rumah berdiri rapat tanpa jarak, gang sempit, dan minim ruang terbuka.

Kondisi itu membuat api lebih mudah menyebar ketika terjadi kebakaran.

Selain itu, petugas pemadam kebakaran juga kesulitan menjangkau lokasi karena akses jalan yang terbatas.

“Petugas harus menyambung selang biasa disebut rolling hose hingga ratusan meter dari mobil pemadam kebakaran ke titik api. Hal ini memakan waktu krusial dan menurunkan tekanan air,” ungkapnya.

Baca juga: Pramono: Gak Mungkin Transjakarta Blok M-Bandara Rp 3.500, yang Lain Aja Rp 100.000

Menurut Bayu, sumber api seperti korsleting listrik atau kebocoran gas memang sering menjadi penyebab awal kebakaran.

Namun, yang membuat kebakaran menjadi besar adalah kondisi lingkungan permukiman itu sendiri.

“Akar persoalan terbesar yang membuat Jakarta sering menghadapi kebakaran besar adalah kondisi lingkungan permukiman dan tata ruang. Listrik atau gas hanya menjadi pemicu awal yang bisa terjadi di mana saja,” kata Bayu.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia menilai rumah-rumah yang berhimpitan, penggunaan material yang mudah terbakar, serta minimnya akses jalan dan sumber air membuat api cepat membesar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenpar usulkan pendampingan penanganan sampah hotel, restoran, kafe
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Usai Lebaran, Angkutan Udara dan Laut Kaltim Sepi Penumpang
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
4 Idol K-Pop yang Mengikuti Banyak Program Survival Show
• 4 jam lalubeautynesia.id
thumb
5 Berita Terpopuler: Kabar Gembira dari Bu Rini, Ada 6 Poin Keputusan, PPPK Paruh Waktu Bisa Diangkat P3K Bertahap?
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
Dara Arafah hingga Sarah Gibson Minta Penjadwalan Ulang di Kasus Hanania
• 16 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.