NASA dijadwalkan mengumumkan empat astronaut yang akan menjadi kru misi Artemis III pada malam ini, Selasa (9/6), pukul 22.30 WIB. Namun, pengumuman yang seharusnya menjadi momen perayaan itu justru dibayangi ketidakpastian akibat meledaknya roket New Glenn milik Blue Origin.
Administrator NASA, Jared Isaacman, mengatakan badan antariksa tersebut juga akan memberikan pembaruan terkait tingkat kesiapan untuk Artemis III saat pengumuman kru dilakukan di Johnson Space Center, Houston.
Artemis III merupakan bagian dari program Artemis yang bertujuan mengembalikan manusia ke permukaan Bulan. Meski demikian, kru astronaut yang diumumkan kali ini tidak akan langsung mendarat di Bulan.
NASA menargetkan penerbangan Artemis III berlangsung pada pertengahan 2027 sebagai misi uji coba di orbit rendah Bumi. Para astronaut akan menguji kemampuan pesawat antariksa untuk melakukan pertemuan dan penyambungan dengan satu atau dua wahana pendarat Bulan.
Wahana tersebut tengah dikembangkan oleh Blue Origin milik Jeff Bezos dan SpaceX milik Elon Musk. Pada misi Artemis IV dan Artemis V, wahana itu nantinya akan membawa astronaut dari orbit Bulan menuju permukaan satelit alami Bumi tersebut.
Namun, rencana tersebut menghadapi tantangan besar setelah roket New Glenn meledak saat uji lucnur di Cape Canaveral Space Force Station, Florida, pada 28 Mei 2026. Ledakan itu turut merusak satu-satunya landasan peluncuran yang dimiliki Blue Origin untuk menerbangkan New Glenn.
Sejumlah pakar memperkirakan proses perbaikan dapat memakan waktu berbulan-bulan. Situasi itu berpotensi mengganggu jadwal ambisius yang tengah dikejar NASA.
Jika fasilitas peluncuran New Glenn belum siap ketika Artemis III akan diterbangkan, NASA mungkin harus menunda misi tersebut. Alternatif lainnya, badan antariksa AS itu dapat mengandalkan wahana pendarat milik SpaceX saja, meski perusahaan tersebut juga menghadapi sejumlah tantangan teknis.
"Jika ada yang bisa melakukannya, mereka (SpaceX) bisa," kata Kepala Kebijakan Antariksa Planetary Society, Casey Dreier, mengutip The New York Times. "Tetapi mereka harus membuktikan banyak kemampuan yang belum pernah dicoba sebelumnya."
CEO Blue Origin, Dave Limp, menyatakan perusahaan tengah bekerja sama dengan NASA untuk menyelidiki penyebab kegagalan tersebut dan memulihkan fasilitas peluncuran.
"Kami akan terbang lagi sebelum akhir tahun ini," tulis Limp melalui media sosial.
Namun, pengalaman masa lalu menunjukkan pemulihan semacam itu bisa memakan waktu lebih lama. Ledakan roket SpaceX di Cape Canaveral pada 2016 membuat landasan peluncuran tidak digunakan selama hampir 16 bulan, sementara kecelakaan roket Orbital Sciences pada 2014 menyebabkan fasilitas peluncuran baru kembali beroperasi hampir dua tahun kemudian.
Analis riset antariksa Georgetown University, Kathleen Curlee, menilai target Blue Origin untuk kembali terbang tahun ini cukup sulit dicapai.
"Sangat sulit membayangkan mereka bisa kembali terbang sebelum akhir 2026, tetapi segala sesuatu mungkin terjadi," ujarnya.
Di tengah ketidakpastian tersebut, perhatian juga tertuju pada siapa saja yang akan dipilih NASA untuk Artemis III. Saat ini terdapat 37 astronaut aktif yang memenuhi syarat untuk ditugaskan.
Sebelumnya, NASA sempat berkomitmen membawa perempuan pertama, orang kulit berwarna pertama, dan astronaut non-Amerika pertama ke permukaan Bulan. Namun, beberapa kebijakan keberagaman tersebut mulai berubah setelah pemerintahan Presiden Donald Trump kembali menerapkan pembatasan terhadap program DEI (Diversity, Equity, and Inclusion).
Pengumuman kru Artemis III akan menjadi penanda apakah NASA masih mempertahankan representasi yang luas seperti pada misi Artemis II sebelumnya. Artemis II sendiri sukses menyelesaikan penerbangan mengelilingi Bulan selama 10 hari pada April lalu, dengan para astronautnya menjalani pelatihan selama tiga tahun sebelum diterbangkan.
Sebaliknya, kru Artemis III kemungkinan hanya memiliki waktu sekitar satu tahun untuk membangun kekompakan dan mempersiapkan diri jika target peluncuran pertengahan 2027 berhasil dipenuhi.





