Di tengah masih rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia, kemunculan Putri Alya Sidik penulis cilik menjadi angin segar bagi dunia pendidikan dan literasi nasional.
Pelajar Sekolah Dasar berusia sembilan tahun itu meluncurkan tiga buku berbahasa Inggris yang tergabung dalam serial Diary of Alya pada sebuah acara di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Buku perdana Alya mendapat perhatian berbagai kalangan. Kata pengantar ditulis oleh Meutya Hafid Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia.
Dukungan juga datang dari sejumlah tokoh, di antaranya Prof. Seto Mulyadi, Prof. Effendi Gazali, serta Inul Daratista penyanyi dan pengusaha.
Kehadiran Alya menambah daftar penulis cilik Indonesia yang masih relatif sedikit jumlahnya. Fenomena ini sekaligus mengingatkan kembali pada tantangan besar yang dihadapi bangsa dalam membangun budaya membaca dan menulis.
Berdasarkan data UNESCO tahun 2020, tingkat literasi Indonesia masih berada di kelompok bawah dunia. Minat baca masyarakat tercatat hanya 0,001 atau sekitar satu dari seribu penduduk yang memiliki kebiasaan membaca secara rutin.
Budaya menulis bahkan dinilai lebih rendah karena masyarakat Indonesia selama ini lebih dekat dengan tradisi lisan dan audiovisual.
Perkembangan teknologi komunikasi turut memengaruhi pola konsumsi informasi masyarakat. Data UNICEF tahun 2024 mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 221 juta orang.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sebanyak 39,71 persen anak usia dini telah menggunakan telepon seluler dan 35,57 persen telah mengakses internet.
Pemerintah sendiri telah mengambil langkah untuk menciptakan ruang digital yang lebih sehat bagi anak-anak.
Meutya Hafid Menteri Komunikasi dan Digital mendorong pembatasan penggunaan internet bagi anak serta penguatan budaya membaca dan menulis sejak usia dini.
Dalam peluncuran buku tersebut, Prof. Seto Mulyadi pakar psikologi pendidikan anak menjelaskan sejumlah faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat kegemaran membaca dan menulis di Indonesia.
“Minat membaca anak masih rendah karena keteladanan dan dorongan dari lingkungan keluarga belum kuat. Padahal, kebiasaan membaca harus dibangun sejak dini dan dimulai dari rumah,” ujar Kak Seto.
Menurutnya, literasi digital yang berkembang saat ini juga menghadirkan tantangan tersendiri.
“Anak-anak semakin terbiasa mengonsumsi informasi secara instan melalui media digital. Kondisi ini perlu diimbangi dengan aktivitas membaca yang mampu melatih daya pikir kritis dan kemampuan memahami informasi secara mendalam,” katanya.
Selain itu, Kak Seto menilai aktivitas menulis masih sering dipandang sebagai kewajiban akademis semata.
“Menulis jangan hanya menjadi tugas sekolah. Anak-anak perlu diberi ruang untuk berimajinasi, bercerita, dan mengekspresikan gagasan mereka secara bebas,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa akses terhadap buku yang belum merata, khususnya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), serta belum tumbuhnya budaya membaca di lingkungan keluarga menjadi faktor yang turut memengaruhi kondisi literasi nasional.
Pandangan tersebut sejalan dengan yang disampaikan Gregoria Ira, Vice Principal Delima School Jakarta. Menurutnya, sekolah perlu menghadirkan pendekatan pembelajaran yang mampu menumbuhkan kecintaan anak terhadap membaca dan menulis di tengah derasnya arus konten digital.
“Kurikulum dan buku teks saja tidak cukup. Sekolah harus menciptakan pengalaman belajar yang membuat anak menikmati proses membaca dan menulis sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujar Ira.
“Anak yang terbiasa membaca dan menulis cenderung lebih mudah menyerap materi pelajaran apa pun. Membaca dan menulis adalah fondasi paling krusial dalam perkembangan anak,” imbuhnya.
Menurut Ira, kemampuan membaca dan menulis bukan hanya keterampilan akademis, tetapi juga sarana utama dalam membentuk cara berpikir, berkomunikasi, dan memahami dunia.(faz/ipg)




