EtIndonesia.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah serangkaian serangan rudal dan drone yang dilancarkan Iran ke sejumlah negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk Kuwait dan Bahrain. Namun alih-alih hanya membalas melalui jalur militer, pemerintahan Presiden Donald Trump disebut sedang menyiapkan strategi ekonomi yang dinilai jauh lebih menyakitkan bagi Teheran.
Langkah tersebut berpotensi membuat setiap rudal dan drone yang diluncurkan Iran justru berbalik menjadi beban finansial bagi negara itu sendiri.
Menurut laporan yang dipublikasikan New York Post pada 6 Juni 2026, Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, telah menginstruksikan timnya untuk melakukan penilaian menyeluruh terhadap seluruh kerugian yang ditimbulkan akibat serangan Iran terhadap negara-negara mitra dan sekutu Washington di kawasan Timur Tengah.
Seluruh Kerugian Akan Dihitung Secara Detail
Sumber yang mengetahui proses tersebut menyebutkan bahwa pemerintah Amerika Serikat tidak hanya menghitung kerusakan fisik yang terlihat di lapangan, tetapi juga seluruh biaya yang muncul akibat serangan tersebut.
Komponen kerugian yang sedang dihitung meliputi:
- Kerusakan terminal dan fasilitas bandara;
- Infrastruktur publik yang mengalami kehancuran;
- Biaya perbaikan fasilitas vital;
- Kerugian ekonomi akibat gangguan operasional;
- Korban jiwa dan biaya kompensasi;
- Biaya perawatan korban luka;
- Pengeluaran rehabilitasi dan pemulihan pasca-serangan;
- Berbagai biaya pendukung lainnya yang timbul akibat dampak konflik.
Pejabat terkait disebut tengah menyusun perhitungan yang sangat rinci guna memastikan seluruh kerugian dapat didokumentasikan secara resmi.
Aset Iran yang Dibekukan Bisa Digunakan untuk Membayar Ganti Rugi
Bagian yang paling menarik perhatian dari kebijakan ini adalah kemungkinan penggunaan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri untuk membayar seluruh kerugian yang ditimbulkan oleh serangan-serangan tersebut.
Saat ini, dana Iran yang secara langsung berada di bawah kendali Amerika Serikat diperkirakan bernilai sekitar 2 miliar dolar AS.
Namun jumlah tersebut hanyalah sebagian kecil dari total aset Iran yang dibekukan di berbagai negara.
Berbagai estimasi menyebutkan nilai keseluruhan aset Iran yang tidak dapat diakses akibat sanksi internasional mencapai lebih dari 100 miliar dolar AS, atau setara lebih dari Rp1.600 triliun dengan kurs saat ini.
Apabila rencana Washington benar-benar diterapkan, maka dana-dana tersebut berpotensi digunakan sebagai sumber pembayaran ganti rugi bagi negara-negara yang menjadi korban serangan Iran.
Senjata Utama Washington: Sanksi Sekunder
Para analis menilai kekuatan terbesar Amerika Serikat dalam kebijakan ini bukan terletak pada jumlah aset yang dibekukan di wilayahnya sendiri, melainkan pada kemampuan Washington menerapkan sanksi sekunder.
Mekanisme ini memungkinkan Amerika Serikat menjatuhkan hukuman terhadap negara, bank, perusahaan, atau lembaga keuangan mana pun yang dianggap membantu Iran mengakses dana yang telah dibekukan.
Risikonya sangat besar.
Lembaga keuangan yang melanggar dapat kehilangan akses ke sistem pembayaran internasional berbasis dolar AS, yang hingga saat ini masih menjadi tulang punggung perdagangan dan transaksi keuangan global.
Akibatnya, banyak bank besar di Eropa maupun Asia dinilai hampir tidak memiliki pilihan selain mengikuti kebijakan yang ditetapkan Washington.
Dengan mekanisme tersebut, setiap kali Iran melakukan serangan baru yang menimbulkan kerusakan, biaya pemulihan yang muncul secara teoritis dapat diklaim sebagai dasar untuk mengambil sebagian aset Iran yang masih dibekukan di luar negeri.
Sejumlah pengamat menyebut pendekatan ini sebagai bentuk tekanan ekonomi yang belum pernah diterapkan secara terbuka dalam skala seperti sekarang.
Tuntutan Iran Berbanding Terbalik dengan Respons Washington
Perkembangan ini menjadi semakin menarik karena terjadi hanya sehari setelah pernyataan yang disampaikan oleh penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran sekaligus mantan komandan Garda Revolusi Iran, Mohsen Rezaei.
Dalam wawancara dengan CNN yang disiarkan pada 5 Juni 2026, Rezaei meminta Amerika Serikat untuk membebaskan sekitar 24 miliar dolar AS dana Iran tanpa syarat sebagai bentuk “uji ketulusan” Washington dalam proses perundingan damai.
Permintaan tersebut dimaksudkan sebagai langkah membangun kepercayaan di tengah negosiasi yang masih berlangsung.
Namun respons yang muncul dari lingkaran pemerintahan Trump justru bergerak ke arah yang berlawanan.
Alih-alih mempertimbangkan pelepasan dana, Washington disebut sedang mengkaji cara menggunakan aset-aset tersebut untuk menutupi seluruh kerugian yang timbul akibat serangan Iran terhadap negara-negara sekutu Amerika Serikat.
Sejumlah komentator politik kemudian menyindir bahwa kebijakan ini merupakan contoh nyata dari prinsip “membalas dengan cara yang sama”, di mana tindakan agresif justru menghasilkan kerugian finansial yang harus ditanggung oleh pelaku serangan.
Drone Iran Ditembak Jatuh, Radar dan Pusat Komando Diserang
Selain tekanan ekonomi, Amerika Serikat juga melanjutkan respons militernya terhadap aktivitas Iran di kawasan Teluk.
Pada 5 Juni 2026, Iran dilaporkan meluncurkan sejumlah drone serang ke arah kawasan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.
Menurut laporan militer Amerika Serikat, seluruh drone tersebut berhasil dideteksi, dicegat, dan ditembak jatuh sebelum mencapai sasaran.
Tidak lama setelah proses pencegatan berlangsung, pasukan Amerika melancarkan operasi serangan presisi terhadap sejumlah fasilitas militer Iran.
Target yang disebut terkena serangan meliputi:
- Radar pengawasan pantai Iran;
- Sistem peringatan dini;
- Pusat komando dan kendali militer;
- Fasilitas pengawasan di Pulau Qeshm;
- Instalasi militer di wilayah Goruk, pesisir selatan Iran.
Pejabat militer Amerika Serikat menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai tindakan defensif untuk melindungi jalur pelayaran internasional dan pasukan Amerika yang berada di kawasan.
Menurut sejumlah laporan, serangan itu diduga mengurangi kemampuan Iran dalam memantau aktivitas udara dan laut di sekitar Selat Hormuz.
Perbedaan Kekuatan Militer Semakin Terlihat
Meskipun hingga saat ini konflik terbuka berskala penuh antara Amerika Serikat dan Iran belum terjadi, berbagai insiden dalam beberapa pekan terakhir dinilai semakin memperlihatkan kesenjangan kemampuan militer antara kedua negara.
Para analis keamanan menilai bahwa setiap upaya eskalasi yang dilakukan Iran kini berpotensi menimbulkan konsekuensi berlapis.
Selain risiko kehilangan aset militer akibat serangan balasan Amerika Serikat, Iran juga menghadapi kemungkinan kerugian ekonomi yang semakin besar melalui mekanisme penyitaan aset dan sanksi internasional.
Menurut sejumlah pengamat, kombinasi tekanan militer dan ekonomi yang diterapkan Washington bertujuan menciptakan situasi di mana setiap tindakan agresif justru menghasilkan biaya yang lebih besar bagi Teheran.
Pelajaran yang Diamati Negara Lain
Perkembangan terbaru ini juga menarik perhatian berbagai kalangan internasional.
Beberapa analis geopolitik berpendapat bahwa strategi yang diterapkan Washington terhadap Iran kemungkinan sedang diamati secara cermat oleh negara-negara lain, termasuk Tiongkok.
Menurut mereka, pendekatan yang menggabungkan tekanan ekonomi global, sanksi finansial, dan respons militer presisi dapat menjadi contoh bagaimana Amerika Serikat menghadapi potensi konflik di kawasan strategis lainnya, termasuk di sekitar Selat Taiwan.
Meskipun demikian, para pengamat mengingatkan bahwa setiap konflik memiliki karakteristik yang berbeda dan tidak dapat dibandingkan secara langsung.
Yang jelas, perkembangan pada awal Juni 2026 menunjukkan bahwa persaingan antara Washington dan Teheran kini tidak lagi hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga memasuki arena ekonomi global, di mana nilai aset yang dipertaruhkan mencapai ratusan miliar dolar AS. (***)





