MATARAM, KOMPAS.com - Suara sirine meraung-raung menandakan bencana alam akan segera terjadi di sebuah wilayah.
Warga berlarian menuju tempat evakuasi, mencoba menyelamatkan jiwa mereka masing-masing.
Tapi raungan tersebut ternyata tak dihiraukan, atau tepatnya pesan raungan sirine itu tak sampai pada mereka, warga disabilitas tuli.
Gambaran inilah yang dibayangkan oleh Lalu Ahmad Fatoni, tokoh penggerak komunitas Tulus Angen Community (TAC) di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Baca juga: Kebijakan Inklusi NTB, Bebaskan Pajak Kendaraan untuk Warga Disabilitas
Dia adalah salah satu warga disabilitas di NTB yang konsen terhadap isu penanganan bencana.
Bajang Toni sebutannya, dengan menggebu-gebu ia bercerita bagaimana jika teman tuli tak bisa membaca alarm bahaya dari sebuah sirine.
"Kalau bicara wiu-wiu (sirine) kira-kira didengar enggak sama teman tuli?" ucapnya saat ditemui Kompas.com di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Bagi Bajang Toni, ini bukan lagi sebuah khayalan, tapi pernah terjadi dalam beberapa bencana banjir.
Baca juga: Job Fair Kota Bogor 2026 Buka Lowongan Kerja untuk Penyandang Disabilitas, Catat Lokasinya
Ketika bencana banjir hanya mengandalkan alarm suara, mereka yang tuli jadi tertinggal dalam evakuasi awal.
Inilah yang menggerakkan Bajang Toni, bersama dengan komunitas disabilitas lainnya nimbrung dalam program Siap Siaga dari Kemitraan Australia Indonesia dalam pengelolaan risiko bencana.
Program ini bertujuan memperkuat kesiapan bencana sekaligus mendukung pembangunan sistem pengelolaan bencana yang inklusif.
Bergerak lewat data
Sirine suara untuk teman tuli adalah salah satu contoh dari sekian banyak jenis disabilitas yang perlu dipandang dalam sistem penanggulangan bencana.
Baca juga: Pekerja Disabilitas Sulit Menembus Dunia Kerja, Stigma Jadi Penghalang