Achievement Society dan Pergeseran Makna Kerja

harianfajar
7 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Hidayah Muhallim*

Dalam buku fenomenalnya, The Burnout Society, filsuf Byung-Chul Han menggambarkan sebuah ironi manusia modern bahwa kita tidak lagi membutuhkan mandor yang membawa cambuk untuk memaksa kita bekerja. Kita telah sukarela mencambuk diri sendiri demi target yang tiada habisnya.

Realitas seperti ini dialami para pekerja di industri teknologi, korporasi perbankan, atau profesi semacamnya. Di pagi buta, kita sudah terbiasa menyaksikan para pekerja profesional dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah, memadati jalan-jalan kota dan terpaku berjam-jam menatap layar laptop hingga larut malam.

Di tengah sunyinya malam, mereka kerap didera kecemasan akut jika grafik performanya menurun esok pagi, atau target harian, mingguan, dan bulanan tidak tercapai. Di kekinian, ketika lini masa media sosial terus mengagungkan narasi “kerja keras tanpa batas”, beristirahat sejenak justru memicu rasa bersalah yang besar. Kisah-kisah seperti itu menjadi potret buram dari transformasi radikal dalam dunia kerja.

Ketika kita menengok beberapa dekade ke belakang, lanskap sosial menempatkan “kerja” dengan cara yang lebih luhur. Tujuan utamanya adalah mencari nafkah. Namun, lebih dari sekadar urusan ekonomi, pekerjaan adalah panggung mulia untuk mendapatkan rekognisi dan status sosial.

Pekerjaan merupakan sarana utama bagi seseorang untuk menyatakan eksistensi dan identitas dirinya. Dengan bekerja, seseorang bisa menepis stigma negatif seperti pemalas, pengangguran, beban keluarga, atau sampah masyarakat. Menjadi seorang pekerja akan menaikkan derajat sosial, citra dan harga diri di tengah masyarakat.

Di era modern, dunia kerja telah bergeser drastis bahkan cenderung kehilangan sisi humanisnya. Kerja tidak lagi melulu tentang dedikasi, tetapi telah bermutasi menjadi arena pengejaran target tanpa akhir, ruang penuh tekanan, dan pemicu kecemasan massal. Fungsi kerja sebagai sarana pemenuhan nafkah, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup menjadi kabur. Alih-alih membawa kedamaian, pekerjaan justru menjadi beban yang melelahkan fisik dan mental.

Ironisnya, bekerja seringkali terasa seperti menggadaikan kebebasan diri demi selembar slip gaji plus bonus. Hustle Culture Perubahan dalam dunia kerja makin diperparah oleh lahirnya fenomena hustle culture yang mengagungkan kegilaan kerja tanpa batas.

Pekerjaan bukan lagi sekadar apa yang Anda lakukan, melainkan siapa Anda. Kita dipaksa oleh lingkungan kompetitif untuk percaya bahwa bekerja 15 jam sehari dari pagi buta hingga larut malam dianggap wajar. Di titik ini, batasan antara produktivitas dan eksploitasi diri menjadi kabur.

Jika istirahat, kita langsung dicap sebagai pemalas. Jika tidak pandai “basa-basi atau cari perhatian”, akan dicap kaku atau “jaim” (jaga image). Kondisi demikian lantas memaksa orang untuk pintar-pintar “menjilat” atasan jika ingin disukai atau dipromosikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bagi Byung-Chul Han, manusia modern telah berubah menjadi achievement society.

Orang-orang mengeksploitasi diri sendiri secara sukarela demi mengejar ilusi kesuksesan. Kita adalah bos sekaligus budak bagi diri sendiri. Ketika tubuh dan pikiran dipaksa melampaui batas secara terus-menerus, benteng pertahanan kemanusiaan kita akhirnya runtuh. Lahirlah burnout, yaitu kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional yang akut akibat stres kerja berkepanjangan.

Dalam perspektif ekonomi-politik, perbudakan tidak sepenuhnya hilang tetapi berganti nama menjadi penghisapan dan eksploitasi tanpa nilai-nilai humanis. Dalam kapitalisme klasik, model stick and carrot berlaku. Jika target tercapai, bonus manis akan menanti Anda. Namun jika target meleset, kemarahan dan hukuman menjadi bagian mutlak Anda.

Realitas ini sangat kontras dengan pemikiran Karl Marx yang memandang kerja sebagai aktivitas mulia, tempat manusia mengekspresikan diri secara produktif dan kreatif. Ketika kerja dikendalikan sepenuhnya oleh sistem yang hanya memburu keuntungan, pekerja mengalami alienasi dari hakikat kemanusiaannya sendiri. Itulah mengapa generasi sekarang melakukan perlawanan diam-diam dan memilih kerja part time atau pekerja lepas agar tidak terikat oleh struktur yang mencekik.

Mereka memilih strategi jangka pendek, masuk ke korporasi sekadar mencari pengalaman dan mengasah skill, lalu keluar untuk membangun usaha sendiri. Namun, jalur entrepreneurship ini penuh risiko. Tanpa kesiapan mental dan strategi yang matang, kebangkrutan akan menunggu dan membuat hidup kita berantakan.

Bertindak Waras

Dalam menghadapi “hukum besi” dunia kerja, kita memerlukan strategi waras untuk bertahan hidup. Pertama, dekopling identitas dengan cara memisahkan antara siapa dan apa pekerjaan Anda. Pemikir kontemporer Alain de Botton telah mengingatkan agar kita tidak membiarkan harga diri didikte oleh status pekerjaan.

Pekerjaan hanyalah instrumen bertahan hidup, bukan totalitas dari nilai eksistensi kita. Kedua, tetapkan batasan tegas. Istirahatlah secukupnya tanpa rasa bersalah karena istirahat adalah hak biologis dan martabat manusia.

Ketiga, bangun kehidupan di luar kantor sebagaimana Robert Putnam menyarankan agar kita menginvestasikan waktu pada hal-hal non-moneter yang menghasilkan kebahagiaan seperti hobi, keluarga, atau komunitas. Psikolog sosial Erich Fromm juga menyarankan agar kita beralih dari modus hidup mengejar kepemilikan materi menuju modus menikmati esensi kehidupan seutuhnya.

Keempat, persiapkan strategi sebelum melompat. Jika ingin membangun usaha, terapkan strategi “main aman” dengan mempertahankan pekerjaan utama yang stabil, sembari merintis usaha sampingan secara bertahap sampai fondasinya benarbenar kokoh.

Dunia kerja boleh saja berubah jadi semakin mekanis, namun kemanusiaan kita tidak boleh digadaikan. Pada akhirnya, keberanian terbesar di era kekinian bukanlah tentang seberapa keras kita mampu bekerja tanpa henti, melainkan seberapa berani kita berkata “cukup” demi menjaga jiwa dan kemerdekaan diri kita sendiri.(*)

*Penulis merupakan Pemerhati Sosial-Politik Kontemporer


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kedubes AS perkuat hubungan dengan RI melalui olahraga
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
Reaksi Berkelas Ajax Amsterdam usai Maarten Paes Antar Timnas Indonesia Tumbangkan Mozambik
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Harga Emas Antam Hari Ini Selasa 9 Juni 2026 Lebih Murah, Sentuh Rp2.733.000 per Gram
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Prabowo Tunjuk Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden, Istana: Komunikasi Pemerintah dengan Buruh Harus Lebih Cair
• 23 jam laludisway.id
thumb
BI Rate Naik Jadi 5,5 Persen, Ekonom Nilai Langkah Tepat Jaga Stabilitas Rupiah
• 16 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.