Bisnis.com, JAKARTA — Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan Bank Indonesia (BI) di luar jadwal reguler dibutuhkan oleh pelaku pasar dan investor.
Menurut Airlangga, pasar membutuhkan sinyal yang kuat agar meningkatkan kepercayaan investor di tengah depresiasi rupiah. Sebab, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS).
Oleh sebab itu, hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar hari ini memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan alias BI Rate 25 basis poin (bps) ke 5,5%. BI menilai penaikan suku bunga acuan hasil RDG Mei 2026 lalu sebesar 50 bps belum berdampak besar ke penguatan rupiah.
"Memang market membutuhkan signal yang kuat dan dengan kenaikan BI rate 25 basis poin itu, market melihat Indonesia responsif terhadap gejolak ataupun situasi yang ada," ujar Airlangga kepada wartawan di kantor Gedung Ali Wardhana, Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Di sisi lain, Airlangga mengakui bahwa keputusan BI itu adalah dalam rangka mengutamakan stabilitas. Sebelum rupiah kian terdepresiasi, kebijakan moneter bank sentral pun diarahkan untuk pro pertumbuhan (pro-growth) dengan era suku bunga rendah.
Kini, usai rupiah jatuh ke level rekor terendah, otoritas moneter memutuskan untuk mengutamakan stabilitas. Apalagi, gejolak global yang tengah terjadi turut dibarengi dengan masih tingginya permintaan valas dalam negeri terkait dengan repatriasi dividen korporasi serta pembayaran utang luar negeri (ULN).
Baca Juga
- BI Rate Naik Jadi 5,5%, Sektor Berbasis Pembiayaan Berisiko Tertekan
- Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.000 per Dolar AS Usai BI Rate Naik Jadi 5,5%
- Kerek BI Rate Jadi 5,5% di Luar RDG, Perry Warjiyo Beberkan Alasannya
Airlangga pun menyebut dampak kebijakan BI ini sudah langsung terasa di pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat terkoreksi dalam, kini ditutup menguat sekitar 7,57% ke 5.746,6 berdasarkan data Tradingview.
Rupiah juga sedikit menguat ke Rp18.050 per dolar AS saat penutupan perdagangan hari ini, usai sempat menyentuh Rp18.175 per dolar AS.
"Jadi, respons dari pasar terhadap stabilisasi dari BI Rate ini cukup baik. Oleh karena itu, tentu kami terus mengutamakan stabilisasi dari ekonomi. Karena ekonomi kan memang dasarnya juga kuat," tuturnya.
Adapun kenaikan BI Rate pada RDG mingguan ini diambil di luar jadwal RDG bulanan yang seharusnya baru dilaksanakan 17-18 Mei 2026.
Padahal, pada RDG Mei 2026 lalu, BI sudah memperkuat kebijakan pro stabilitasnya ketika rupiah kian terdepresiasi. Dewan Gubernur BI memutuskan untuk mengerek suku bunga acuan 50 bps dari 4,75% ke 5,25% sehingga melampaui ekspektasi pasar.
Namun demikian, nilai tukar rupiah belum kunjung menguat. Levelnya semakin memburuk ke Rp18.100 per dolar AS. Oleh sebab itu, otoritas moneter kembali menaikkan suku bunga acuan 25 bps lantaran kebijakan sebelumnya belum berdampak besar.
Hasilnya, suku bunga acuan naik ke 5,5%. Di samping itu, suku bunga Deposit Facility turut naik 25 bps menjadi 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25%. Harapannya, kebijakan ini bisa meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran masuk investasi portfolio asing ke Indonesia.
Menurut penjelasan BI, para Dewan Gubernur setiap Selasa mengadakan RDG mingguan untuk mengevaluasi pelaksanaan bauran kebijakan yang ditetapkan dalam RDG Bulanan.
"Dalam evaluasi sejak RDG Bulanan tanggal 19-20 Mei 2026, nilai tukar Rupiah menunjukkan perkembangan yang lebih lemah dari yang diperkirakan," demikian dikutip dari keterangan resmi BI, Selasa (9/6/2026).





