Krisis Makin dalam di Lautan, Ini Bukti Terbarunya

cnbcindonesia.com
6 jam lalu
Cover Berita
Foto: Ilustrasi (Muhammad Luthfi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lautan berada dalam "krisis yang semakin dalam". Bahkan laporan PBB menuntut tindakan global yang mendesak.

Dalam riset yang dilakukan 600 ilmuwan internasional, setebal 1.352 halaman, suhu laut makin menghangat dan naik lebih cepat. Belum lagi lapisan es menyusut,dan ekosistem laut berada di bawah tekanan yang meningkat.


"Lautan adalah fondasi kehidupan di Bumi," kata kata Penilaian Laut Dunia (WOA) III PBB., dikutip AFP, Selasa (9/6/2026).

Pilihan Redaksi
  • Krisis Memburuk, Parlemen Beri Restu Presiden Gunakan Militer di Jalan
  • Terima Kasih Xi Jinping, Ternyata Minyak Tak Meledak karena China
  • New York Tiba-Tiba "Lockdown", Ada Apa?
  • Update Iran-Israel Saling Bombardir, Trump Ancam Netanyahu

"Tetapi kesehatannya berada dalam risiko serius karena ekosistem dan habitat mendekati atau melampaui titik kritis," tambahnya.

"Krisis yang semakin dalam, karena perubahan iklim, polusi, penangkapan ikan berlebihan, dan hilangnya keanekaragaman hayati memberikan tekanan berat pada sistem laut."

Laporan tersebut, yang sebagian besar mencakup periode antara 2018-2023, menggambarkan gambaran suram tentang keadaan lautan. Sekitar 16% dari total peningkatan kandungan panas laut yang tercatat sejak tahun 1955 telah terjadi sejak tahun 2018 saja.

Lautan telah menyerap lebih dari 90% panas berlebih dan 30% CO2 yang dilepaskan ke atmosfer akibat pembakaran bahan bakar fosil.

Saat air menghangat, air akan mengembang, membantu mendorong kenaikan permukaan laut bersamaan dengan air lelehan dari gletser dan lapisan es.

"Permukaan laut terus naik dengan laju yang semakin meningkat," kata laporan itu, lebih dari dua kali lipat dari kurang dari 2,0 milimeter per tahun sebelum tahun 2015 menjadi 4,3 mm pada tahun 2023.

"Meskipun milimeter mungkin tampak kecil, jumlahnya meningkat sangat cepat," kata Ian Butler, seorang ahli ekologi kelautan yang berbasis di Australia dan koordinator bersama kelompok ahli WOA.

Karenanya, para peneliti menuntut tindakan mendesak, melalui kerja sama multilateral yang lebih kuat.

"Kita tidak bisa terus memperlakukan laut sebagai sesuatu yang tak terbatas," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam sebuah pernyataan.

"Kita harus membangun hubungan baru dengan laut: Berdasarkan ilmu pengetahuan. Dibingkai oleh hukum internasional. Dan dibangun di atas tanggung jawab bersama," ujarnya.

Tambang Laut

Laporan tersebut menyoroti kekhawatiran yang meningkat tentang penambangan laut dalam dan menyerukan respons internasional yang terkoordinasi. Meskipun eksplorasi untuk penambangan laut dalam sudah sangat maju, belum ada perusahaan atau negara yang memulai produksi dalam skala komersial.

Para kritikus khawatir hal itu akan mencekik kehidupan laut dengan limbah. Kebisingan mesin berat akan mengganggu migrasi samudra.


(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: LPS: Edukasi Keuangan Tak Boleh Eksklusif, Harus Membumi

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Populer: Chatib Basri Dipanggil Prabowo ke Istana; Suku Bunga BI Naik Jadi 5,5%
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
5 Gempa Bumi Paling Dahsyat dalam Sejarah Indonesia
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Musisi Rock Lintas Generasi Kolaborasi dalam Album Bertema Budaya dan Patriotisme
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Bupati Karawang Ancam Cabut Izin Tempat Hiburan yang Fasilitasi Pesta Gay
• 20 jam laludetik.com
thumb
Menteri Kebudayaan Lebanon Serukan Israel Setop Serangan ke Situs Bersejarah, Area Kuno Ini Hancur
• 23 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.