-
-
-
-
-
Fenomena Marapthon yang dilakukan kreator konten Reza Arap bersama AAA Clan berhasil menarik perhatian publik dan menjadi perbincangan luas di berbagai platform digital. Siaran langsung yang berlangsung dalam durasi panjang tersebut tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memunculkan tingkat keterlibatan audiens yang tinggi dan berkelanjutan. Bagi sebagian masyarakat, Marapthon mungkin terlihat sebagai tren live streaming biasa. Namun, Pengamat Komunikasi Digital Laju Institute, Mandra Pradipta atau yang akrab disapa Dipta, menilai fenomena tersebut mencerminkan perubahan yang lebih mendasar dalam cara masyarakat mengonsumsi media di era digital.
Menurut Dipta, generasi digital saat ini tidak lagi hanya mencari konten untuk ditonton, melainkan pengalaman untuk diikuti dan ruang untuk terlibat. "Fenomena Marapthon menunjukkan bahwa masyarakat digital tidak lagi sekadar menjadi penonton. Mereka ingin menjadi bagian dari sebuah pengalaman yang berlangsung secara langsung, berinteraksi dengan sesama audiens, dan ikut terlibat dalam percakapan yang terjadi secara real time," kata Dipta, Selasa, 9 Juni 2026.
Ia menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun media bekerja dengan pola yang relatif satu arah. Publik mengonsumsi informasi atau hiburan yang disajikan oleh media tanpa banyak ruang untuk berpartisipasi. Namun perkembangan platform digital telah mengubah pola tersebut secara signifikan. Menurutnya, keberhasilan sebuah konten saat ini tidak hanya ditentukan oleh kualitas produksi atau popularitas figur yang tampil, tetapi juga oleh kemampuan menciptakan keterlibatan yang membuat audiens merasa memiliki peran dalam pengalaman yang sedang berlangsung.
"Di era digital, perhatian publik lahir dari interaksi. Ketika audiens merasa dilibatkan, mereka tidak hanya mengingat kontennya, tetapi juga mengingat pengalaman yang mereka rasakan selama menjadi bagian dari percakapan tersebut," ujarnya.
Dipta menilai fenomena seperti Marapthon memperlihatkan bahwa masyarakat semakin menghargai bentuk komunikasi yang bersifat partisipatif. Audiens tidak lagi puas hanya menerima informasi atau hiburan secara pasif, melainkan ingin berinteraksi, memberikan respons, dan membangun pengalaman bersama dengan komunitas yang memiliki minat serupa.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan media digital mengalami pergeseran. Jika dahulu keberhasilan sering diukur dari jumlah audiens yang menonton, kini keterlibatan audiens menjadi indikator yang tidak kalah penting.
"Kita sedang menyaksikan perubahan besar dalam budaya media. Nilai utama sebuah konten tidak lagi hanya terletak pada apa yang ditampilkan, tetapi pada seberapa jauh konten tersebut mampu menciptakan keterlibatan yang berkelanjutan di antara audiensnya," jelasnya.
Lebih lanjut, Dipta menilai fenomena Marapthon memberikan pelajaran penting bagi kreator konten, media, organisasi, hingga lembaga publik mengenai pentingnya membangun komunikasi yang interaktif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat digital. "Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi pada akhirnya bukan hanya soal platform atau algoritma. Yang paling dicari masyarakat tetaplah pengalaman manusiawi, yaitu kebutuhan untuk terhubung, berpartisipasi, dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri," pungkasnya.





