Kala Pasar keuangan Tentukan Kinerja Investasi Industri Asuransi Jiwa

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Hasil investasi industri asuransi jiwa mengalami tekanan yang cukup signifikan pada kuartal I/2026. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menilai hal ini karena dipengaruhi oleh fluktuasi pasar keuangan.

AAJI mencatat pada Maret 2026 hasil investasi industri asuransi jiwa minus Rp1,60 triliun. Hal ini berbanding terbalik dengan kuartal I/2025 yang masih positif sebesar Rp790 miliar.

Ketua Bidang Kerjasama Antar Lembaga, Regulator, Stakeholder’s Dalam Negeri & Internasional AAJI, Handojo G. Kusuma mengemukakan bahwa kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh volatilitas pasar keuangan.

“Baik pasar saham maupun instrumen investasi lainnya yang sensitif terhadap dinamika ekonomi global maupun domestik,” ungkapnya dalam konferensi pers kinerja industri asuransi jiwa Januari-Maret 2026 di Grha AAJI, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Dilanjutkan Handojo, bagi industri asuransi jiwa, pengelolaan investasi memang merupakan bagian penting dalam menjaga kesinambungan bisnis. 

Namun demikian, imbuhnya, pendekatan industri asuransi jiwa selalu berorientasi jangka panjang dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Baca Juga

  • AIA Financial Ungkap Faktor Pendorong Laba Industri Asuransi Jiwa Tembus Rp7,85 Triliun
  • Ini Penyebab Anomali Premi Tunggal Naik saat Premi Reguler Asuransi Jiwa Turun
  • AAJI: Total Klaim Asuransi Jiwa Sentuh Rp38,73 Triliun pada Kuartal I/2026

“Oleh karena itu, kami melihat kondisi ini sebagai bagian dari siklus pasar yang perlu dikelola secara prudent,” tegasnya.

Handojo menjelaskan, bila menilik portofolio investasi, pertumbuhan di Surat Berharga Negara (SBN) mampu memperkuat portofolio investasi industri. Pada kuartal I/2026, penempatan dana di SBN naik 15,8% (year on year/YoY) menjadi Rp248,03 triliun. 

Menurutnya, hal tersebut mencerminkan komitmen industri dalam menjaga keseimbangan antara optimalisasi hasil investasi dengan pengelolaan risiko yang sehat.

“Sekaligus menunjukkan konsistensi industri dalam menempatkan dana nasabah pada portfolio investasi yang prudent dan relatif aman,” sebutnya.

Di sisi lain, dia menekankan industri juga tetap mempertahankan diversifikasi portofolio melalui instrumen saham, deposito, reksadana, sukuk korporasi, tanah dan bangunan, hingga penyertaan langsung. 

Baginya, diversifikasi menjadi penting, khususnya di tengah kondisi pasar yang bergerak dinamis. Meski begitu, dia memahami bahwa fluktuasi pasar jangka pendek merupakan hal yang wajar dalam ekosistem investasi. 

“Namun, karena industri asuransi jiwa adalah jangka panjang, maka strategi investasi yang diterapkan juga berorientasi pada kesinambungan jangka panjang, bukan respons sesaat terhadap  pasar yang kita lihat sedang terjadi,” jelasnya.

Lebih jauh, dia menyebut instrumen SBN masih mendominasi total investasi industri asuransi jiwa pada kuartal I/2026 yakni dengan porsi 43,4%. Ini meningkat dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 39,6%. 

Sementara itu, lanjutnya, instrumen saham tetap menjadi instrumen terbesar kedua dengan porsi 19,7% dari total investasi dan diikuti reksadana sebesar 12,7% dari total investasi. Handojo berujar, komposisi tersebut menunjukkan industri tetap menerapkan strategi investasi yang terdiversifikasi.

“Dengan porsi yang kuat pada instrumen pendapatan tetap serta relatif stabil. Diversifikasi ini menjadi bagian dari upaya industri dalam menjaga kualitas portfolio investasi di tengah dinamika pasar keuangan,” ucapnya.

Secara rinci, instrumen deposito industri asuransi jiwa pada Maret 2026 sebesar Rp33,32 triliun, saham sebesar Rp112,64 triliun, sukuk korporasi sebesar Rp53,43 triliun, reksadana sebesar Rp72,45 triliun, bangunan dan tanah sebesar Rp16,21 triliun, penyertaan langsung Rp30,31 triliun, dan lain-lain sebesar Rp5,32 triliun.

Strategi Tingkatkan Kinerja Investasi 

PT Asuransi Ciputra Indonesia atau Ciputra Life menyampaikan fokus utama perusahaan dalam meningkatkan kinerja investasi pada tahun ini adalah menjaga kualitas portofolio, mengoptimalkan pendapatan investasi, serta memastikan likuiditas tetap berada pada level yang sehat.

Di saat yang sama, perusahaan akan terus memantau perkembangan pasar dan melakukan penyesuaian strategi secara selektif guna menangkap peluang investasi yang muncul.

“Dengan pendekatan tersebut, kami optimistis dapat mempertahankan kinerja investasi yang solid, berkelanjutan, dan selaras dengan komitmen perusahaan dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” kata Direktur Utama Ciputra Life, Hengky Djojosantoso kepada Bisnis, Jumat (5/6/2026).

Saat ini, portofolio Ciputra Life didominasi oleh instrumen pendapatan tetap, terutama obligasi pemerintah dan diikuti oleh obligasi korporasi dengan kualitas rating kredit yang baik. Menilik laporan keuangannya, hasil investasi perusahaan pada Maret 2026 naik 66,8% YoY menjadi Rp16,60 miliar.

Hengky mengatakan Ciputra Life memproyeksikan instrumen fixed income masih akan menjadi kontributor utama terhadap hasil kinerja investasi perusahaan sepanjang 2026. Peningkatan suku bunga berpotensi menyebabkan koreksi harga, tetapi di sisi lain akan memberikan potensi yield yang lebih tinggi.

“Sehingga secara keseluruhan instrumen pendapatan tetap, tetap merupakan instrumen investasi yang paling menarik dengan profil risiko yang terkelola,” tegasnya.

Dengan demikian, imbuhnya, perusahaan optimistis dapat mempertahankan kinerja investasi yang solid, berkelanjutan, dan selaras dengan komitmen perusahaan dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.

Sementara itu, pengamat asuransi  Wahju Rohmanti memproyeksikan pada akhir 2026, hasil investasi industri asuransi jiwa akan positif meski pertumbuhannya tipis. Ini pun dengan syarat jika perusahaan asuransi mampu memanfaatkan opportunity kenaikan suku bunga atau berhasil melakukan realokasi (switching) dan pemerintah berhasil mencegah resesi ekonomi. 

“Namun, proyeksi pesimis saya adalah hasil investasi perusahaan asuransi jiwa akan minus, melihat pada data sampai dengan kuartal I/2026 ini dan pelemahan pasar modal terus terjadi, demikian juga indikator-indikator ekonomi semakin memburuk,” jelasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ada SPPG di Serpong Tutup Karena Suspend, Bagaimana Gaji Pegawai?
• 17 jam laludisway.id
thumb
Ruben Onsu Sebut Sarwendah Gak Pikirin Mental Anak saat Menghinanya: Saya Bapak dari Anaknya
• 3 jam laluviva.co.id
thumb
Jasa Armada (IPCM) Siapkan Modal Rp74 Miliar Buat Kapal Baru di 2026
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
Lucunya Bikin Gemas, Bayi Panda Raksasa Satrio Resmi Diperkenalkan ke Publik
• 31 menit laludetik.com
thumb
Akademisi Amirul Hajj Soroti Layanan Perempuan, Lansia, dan Lingkungan dalam Evaluasi Haji 2026
• 23 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.