Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengkaji standar colokan fast charging untuk motor listrik, yang nantinya dapat digunakan lintas merek. Sehingga tujuan mendorong adopsi motor listrik yang lebih masif bisa tercapai.
Cara ini menurut BRIN juga lebih realistis, dibanding mendorong standardisasi baterai yang selama ini belum menjadi mandatori. Termasuk SNI 8872, yang menetapkan persyaratan keselamatan sistem penyimpanan energi listrik yang dapat diisi ulang pada sepeda motor atau skuter listrik.
Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN Eka Rakhman Priandana bilang, standardisasi baterai berpotensi menimbulkan konsekuensi besar bagi pabrikan karena mengharuskan perubahan banyak pada komponen kendaraan.
"Kalau menstandardisasi baterai, itu semua harus disesuaikan. Nggak cuma baterai, tapi berdampak pada bentuk dan packing baterai," buka Eka saat ditemui kumparan di kantor BRIN, Tangerang, beberapa waktu lalu.
Menurutnya ukuran dan spesifikasi baterai yang diseragamkan, akan memaksa produsen menyesuaikan berbagai komponen lain yang sudah dirancang mengikuti karakter baterai masing-masing kendaraan.
"Kalau ukuran baterai berubah, berarti kontroler atau inverternya motor juga harus disesuaikan. Kalau terlalu besar dia nggak ngangkat, tapi yang terlalu kecil takut cepat panas, karena inverternya berubah, maka motornya juga disesuaikan juga," lanjutnya.
Eka menilai perubahan tersebut akan berdampak langsung terhadap biaya pengembangan produk bagi manufaktur. Bahkan karakter masing-masing motor listrik berpotensi hilang apabila seluruh kendaraan dipaksa menggunakan baterai dengan dimensi dan spesifikasi yang sama.
Ia memberi contoh motor listrik yang sejak awal dirancang untuk performa tinggi, atau mengangkut beban berat bisa kehilangan keunggulannya apabila harus menggunakan baterai standar dengan ukuran dan kapasitas yang seragam.
"Begitu masuk ke sepeda motor yang awalnya didesain tenaga besar, dapat baterai standar yang ternyata lebih kecil ukurannya, maka dia tidak bisa jalan jauh. Dia tidak bisa mengangkut banyak, apalagi awalnya dia digunakan untuk mode ngebut, diganti baterai standar nggak bisa ngebut lagi," katanya.
Keuntungan standardisasi colokan fast chargingDengan adanya standardisasi colokan fast charging, produsen pada dasarnya hanya perlu mengganti soket pengisian daya yang digunakan saat ini, dengan model colokan baru yang tengah disiapkan BRIN.
"Kalau plug ini otomatis tidak mengubah bentuk maupun karakteristik motor, rumah bekas colokan yang lama itu diperlebar sedikit untuk port yang baru dan mengubah itu murah sekali," terang Eka.
Saat ini BRIN jelas Eka telah mengusulkan rancangan Standar Nasional Indonesia untuk colokan fast charging motor listrik kepada Badan Standardisasi Nasional (BSN). Tahap berikutnya adalah pengujian sampel produk sebelum dibahas lebih lanjut bersama industri dan pemerintah.





