Indonesia Membutuhkan Stabilitas Politik di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Global

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

DUNIA sedang bergerak dalam arus ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Berbagai krisis hadir secara bersamaan dan saling memperkuat, mulai dari perang dagang, konflik geopolitik, inflasi global, krisis energi, perubahan iklim, hingga gangguan rantai pasok internasional. 

Perkara tersebut, oleh banyak pengamat dibilang sebagai era polikrisis.

Bersamaan pula hal ini menunjukkan, bahwa ancaman terhadap suatu negara tidak lagi datang dari satu sumber tunggal.

Dalam situasi seperti ini, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari luas wilayah, jumlah penduduk, atau kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya.

Melainkan pula dari kemampuannya menjaga stabilitas di dalam negeri.

Dari sinilah juga Indonesia memiliki dimensi tantangan yang lebih kompleks.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, yang berada di persimpangan Samudra Hindia dan Pasifik, Indonesia menempati posisi strategis yang menjadi perhatian banyak kekuatan global.

Posisi ini menghadirkan pula peluang ekonomi dan politik yang besar, tetapi pada saat yang sama juga membawa risiko yang tidak kecil. 

Dalam sejarah hubungan internasional, letak geografis yang strategis sering kali menjadi aset sekaligus kerentanan.

Baca juga: Mentalitas Mohon Izin

Karena itu, keunggulan geografis hanya akan bermakna –apabila ditopang oleh ketahanan nasional yang kokoh dan kemampuan negara menjaga stabilitas politik, ekonomi, serta sosial secara berkelanjutan.

Di tengah rivalitas kekuatan besar yang semakin tajam, stabilitas politik domestik menjadi instrumen pertahanan nonmiliter yang sangat penting.

Stabilitas memungkinkan pemerintah mengambil keputusan strategis secara cepat, menjaga kepercayaan publik, memberikan kepastian bagi pelaku usaha, dan merespons perubahan global tanpa terjebak dalam tarik-menarik kepentingan jangka pendek. 

Sebaliknya, ketika ruang politik dipenuhi polarisasi dan konflik yang berkepanjangan, energi bangsa akan terkuras untuk menyelesaikan persoalan internal, sementara tantangan eksternal terus bergerak tanpa menunggu.

Dalam konteks itulah stabilitas politik tidak boleh dipahami sekadar sebagai kebutuhan administratif pemerintahan, melainkan sebagai fondasi utama ketahanan nasional.

Masa Depan Ketahanan Nasional

Indonesia saat ini berada pada fase pembangunan yang membutuhkan konsistensi kebijakan dalam jangka panjang.

Hilirisasi industri mineral, pembangunan infrastruktur, transformasi digital, transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan, serta penguatan ketahanan pangan, merupakan agenda strategis yang tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. 

Program-program tersebut membutuhkan kepastian regulasi, koordinasi antarlembaga yang solid, dan dukungan politik yang berkelanjutan.

Dalam konteks ituah, stabilitas politik bukan sekadar soal menjaga ketertiban.

Melainkan, menjadi prasyarat utama agar arah pembangunan nasional tidak mudah berubah akibat dinamika politik jangka pendek yang sering kali bersifat pragmatis.

Stabilitas politik memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjalankan berbagai kebijakan fiskal dan sosial secara efektif.

Ketika tekanan ekonomi global meningkat, negara harus mampu melindungi kelompok rentan melalui bantuan sosial, menjaga daya beli masyarakat, dan memberikan stimulus bagi sektor-sektor produktif. 

Semua itu memerlukan dukungan politik yang memadai agar kebijakan dapat dijalankan secara cepat dan tepat sasaran.

Stabilitas politik yang sehat memungkinkan negara hadir sebagai pelindung masyarakat ketika situasi ekonomi sedang menghadapi tekanan, sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap arah kebijakan yang ditempuh pemerintah.

Karena itu, konsolidasi politik yang sehat seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman bagi demokrasi.

Sebaliknya, ia merupakan bagian penting dari upaya memperkuat kapasitas negara dalam menghadapi tantangan zaman. 

Demokrasi yang matang bukanlah demokrasi yang terus-menerus terjebak dalam konflik, melainkan demokrasi yang mampu menghasilkan stabilitas, efektivitas pemerintahan, dan keberlanjutan pembangunan.

Baca juga: Antara Vitinha, Marselino Ferdinan, dan Cermin Retak Ekosistem Sepak Bola Indonesia

Di era ketidakpastian global yang semakin kompleks, stabilitas politik bukan hanya menjadi kebutuhan pemerintah, tetapi menjadi modal strategis bangsa. Ini untuk menjaga ketahanan nasional, dan memastikan bahwa Indonesia tetap mampu melangkah maju di tengah berbagai gelombang perubahan dunia.

Indonesia Menjaga Sentralitas ASEAN

Bersamaan pula Asia Tenggara dewasa ini berada pada titik persimpangan sejarah yang penting.

Kawasan yang selama beberapa dekade dikenal relatif stabil, kini menjadi salah satu pusat persaingan geopolitik dunia. 

Kepentingan ekonomi, politik, dan keamanan berbagai kekuatan besar bertemu di kawasan ini, mulai dari Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, India, hingga Uni Eropa.

Posisi strategis ini menghadirkan peluang besar bagi negara-negara ASEAN untuk mempercepat pembangunan dan memperluas kerja sama internasional. 

Namun, di saat yang sama, persaingan antar kekuatan besar juga berpotensi menempatkan kawasan ini sebagai arena kontestasi pengaruh.

Hal ini dapat mengganggu stabilitas regional, apabila tidak dikelola dengan bijaksana.

Berbagai dinamika yang berkembang, dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan betapa kompleksnya tantangan yang dihadapi ASEAN.

Ketegangan di Laut China Selatan masih menjadi sumber kekhawatiran bagi keamanan kawasan, sementara krisis politik di Myanmar terus menguji efektivitas mekanisme regional dalam menjaga stabilitas dan perdamaian. 

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Di luar itu, ancaman keamanan nontradisional seperti kejahatan lintas negara, ketahanan pangan, keamanan energi, dan perubahan iklim semakin menuntut adanya kerja sama yang lebih erat antarnegara anggota.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dasco Gelar Pertemuan dengan Mensesneg hingga Dony Oskaria, Bahas soal Saham BUMN
• 21 jam lalubisnis.com
thumb
AS Kembali Serang Iran, Respons Jatuhnya Heli Serbu Apache
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Dinas ESDM Jatim Siapkan Penghentian Sementara Tambang di Sayutan Magetan, Sumber Air Warga Jadi Sorotan
• 9 jam laluberitajatim.com
thumb
SOFA Resmi Masuk Proyek PSEL Danantara, Kantongi 10% Saham Konsorsium
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
Reza Aditya Bantah Konflik dengan Ratu Sofya untuk Dongkrak Film: Saya Tidak Pernah Cari Sensasi
• 22 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.