Keindahan Bali tidak hanya dilihat dari panorama pantai-pantai di Denpasar, Canggu, atau Seminyak. Berjalanlah lebih dalam di ”Pulau Dewata”, keindahan tetap menemani. Seperti ketika Kompas menjelajahi Desa Les di Kabupaten Buleleng, Bali, pada Jumat (5/6/2026) pagi.
Kabupaten terluas di Bali itu dikenal sebagai ”Kota Pendidikan”. Namun, ternyata menyimpan segudang cerita menarik. Butuh 2,5 jam perjalanan darat ke wilayah ini dengan jarak lebih kurang 85 kilometer dari Denpasar.
Begitu memasuki kawasan Desa Les, perpaduan pegunungan dan pantai menyapa. Di sebelah utara desa ini adalah Laut Bali, sedangkan di bagian selatan terdapat barisan bukit-bukit. Berjalanlah ke arah selatan, semakin dalam pengunjung akan disuguhi panorama Air Terjun Yeh Mampeh.
Yeh Mampeh memang menjadi salah satu daya tarik paling kuat bagi pengunjung yang datang ke Desa Les. Namun, desa ini tidak hanya punya air terjun. Konsep wisata yang dibangun masyarakat Desa Les ini seperti tubuh manusia, pesisir laut atau nyegara adalah bagian kaki, sedangkan perbukitan atau gunung adalah kepalanya. Mereka menyebutnya dengan konsep wisata nyegara gunung.
Pengunjung bisa menjelajahinya dari bagian kaki. Pesisir laut Desa Les ini biasa digunakan masyarakat sekitar sebagai salah satu wilayah ekonomi. Ladang-ladang garam terbentang nyaris di sepanjang pantai.
Salah satu ladang garam milik keluarga Nyoman Nadiana, Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Les yang juga merupakan local champion Desa Sejahtera Astra. Nyoman, atau yang akrab disapa Don Dare, menunjukkan ladang garam milik orangtuanya, yang kini dikelola oleh anak dari sahabat orangtuanya.
Ladang ini, kata Don, sudah menjadi mata pencarian turun-temurun warga Desa Les dan sebagian besar petani di Buleleng. Cara kerjanya masih tradisional, menggunakan peralatan seperti tinjung, alat penyaring berbentuk kerucut yang terbuat dari anyaman bambu. Lalu ada tulud yang juga disebut sapu kayu, merupakan alat tradisional yang digunakan untuk meratakan garam atau tanah.
”Ini wisata edukasi untuk menyelami kearifan lokal Desa Les. Itu foto saja barcode-nya, nanti ada penjelasan lengkap,” ungkap Don.
Don kemudian menjelaskan bagaimana garam bisa dibuat dengan alat tradisional. ”Sebenarnya, ladang garam ini dibuat atas dasar cinta. Sebab, setiap ladang garam itu biasa dikerjakan oleh suami dan istrinya, penuh romansa,” katanya sambil tersenyum.
Don mengatakan, setiap petani garam bisa memproduksi 2–3 ton tiap panen pada musim kemarau dengan nilai mencapai Rp 25 juta per bulan. ”Dalam satu musim itu mereka bisa panen 2–4 kali,” ujarnya.
Selain itu, pengunjung juga bisa snorkeling di sekitar pesisir Desa Les. Tak perlu menyelam, keindahan bawah laut bisa dilihat.
Dari ladang garam, pengunjung bersama Don melanjutkan perjalanan menuju pusat desa, tempat pasar tradisional dengan berbagai jajanan pasar dan pangan lokal khas Buleleng seperti bubur mangguh, jukut blook, dan banyak panganan lain yang bisa dinikmati.
Selain jajanan pasar, ada satu tempat yang menarik dikunjungi, yakni integrated farm yang dibangun persis di sebelah tempat pembuangan sampah sementara. Tempat ini dikelola oleh Gede Arsane (44) dan tiga rekan kerjanya.
Sampah-sampah yang datang biasanya sudah terpilah antara sampah plastik dan sampah organik. Sampah organik memang menjadi pekerjaan rumah di Bali. Bayangkan saja, 60 persen sampah harian di Bali adalah sampah organik (data Pemerintah Provinsi Bali). Sampah jenis ini yang diolah oleh Arsane menjadi berbagai produk, seperti cairan eco-enzyme, pupuk kompos, pakan ternak, hingga hasil penangkaran madu trigona atau kelulut.
Di dalam kebun itu, lanjut Arsane, mereka juga membuat kolam bioflok untuk budidaya ikan lele. ”Pakannya dari sampah organik yang sudah dipilah-pilah,” katanya.
Dari pusat desa, perjalanan dilanjutkan ke wilayah perbukitan. Di tengah bukit-bukit itu pengunjung disuguhi panorama air terjun.
Sebelum sampai ke air terjun, pengunjung bisa melakukan ritual melukat, pemandian atau pembersihan tubuh di Yeh Anakan. Perjalanan dilanjutkan selama lebih kurang 20 menit untuk sampai ke Air Terjun Yeh Mampeh.
Berdiamlah sejenak. Dengarkan suara air yang membentur batu-batu kali di bawahnya. Tutuplah mata, lalu resapi suara-suara itu. Ketenangan akan menyelimuti.
Astra melihat Desa Sejahtera Astra Desa Les memiliki potensi besar untuk terus berkembang sebagai desa wisata berbasis masyarakat yang tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan identitas budaya lokal.
Saat itu, beberapa turis asing sedang menikmati air terjun sambil duduk di atas batu besar. Sebagian lagi duduk di tengah air yang mengalir sambil mengamati kejernihan air itu.
”Inilah wisata nyegara gunung khas Desa Les, Buleleng,” ujar Don penuh semangat.
Pada 2024 Desa Les dinobatkan sebagai desa wisata terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia oleh Kementerian Pariwisata. Desa ini dinilai sebagai desa dengan destinasi wisata hijau atau green tourism.
Perjalanan menjadi desa terbaik tidak datang begitu saja. Kepala Desa Les Gede Adi Wistara menjelaskan, untuk menjadi desa wisata, masyarakat Desa Les tidak sendiri. Ada banyak tangan yang membantu, termasuk Astra International.
Desa Les, lanjut Wistara, juga dinobatkan dan diberi nama menjadi Desa Sejahtera Astra Desa Les. Mereka menjadi bagian dari Desa Sejahtera Astra sejak 2018. Mereka lalu mendapatkan bimbingan dan pendampingan untuk mengubah potensi desa agar berdampak pada ekonomi, sosial, dan keberlanjutan.
”Ada empat sektor yang menjadi fokus, yakni kewirausahaan, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan,” ungkap Wistara.
Wistara mengungkapkan, potensi wisata harus dibangun sejalan dengan budaya. Dengan begitu, wisata tetap menjadi daya tarik tanpa mengorbankan tradisi dan kearifan lokal masyarakat Desa Les. Sementara itu, di bidang pendidikan, Desa Sejahtera Astra memberikan sejumlah bantuan untuk menghidupkan kembali taman kanak-kanak yang dalam materi ajarnya mengajarkan anak-anak mengelola sampah.
”Mereka membangun tebe, tempat khusus yang digali untuk menjadi tempat pembuangan sampah organik, sedangkan sampah plastik dibuang ke tempat sampah biasa. Jadi, ini dimulai sejak masih dini,” ungkap Wistara.
Head of Corporate Communications Astra Windy Riswantyo menjelaskan, program Desa Sejahtera Astra dijalankan melalui empat bidang kontribusi sosial Astra, yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan. Keempat bidang itu menjadi dasar dalam pembangunan program pemberdayaan masyarakat.
Di bidang kesehatan, lanjut Windy, Astra fokus pada peningkatan kesehatan ibu dan anak melalui peningkatan layanan kesehatan masyarakat serta penurunan masalah malanutrisi. Di bidang pendidikan, Astra fokus pada penguatan kualitas pendidikan dasar dan kesiapan generasi muda melalui peningkatan kualitas sekolah serta penguatan karakter dan kompetensi siswa.
Di bidang kewirausahaan, Astra mendorong transformasi ekonomi perdesaan melalui penguatan usaha masyarakat serta peningkatan produktivitas, pemasaran, dan kualitas produk.
”Di bidang lingkungan, Astra mendorong aksi iklim berbasis komunitas, termasuk perilaku adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta peningkatan kesiapsiagaan terhadap bencana,” kata Windy.
Windy menambahkan, Astra bersama Grup Astra saat ini telah berkolaborasi dengan lebih dari 1.500 Desa Sejahtera Astra di 35 provinsi di seluruh Indonesia.
”Astra melihat Desa Sejahtera Astra Desa Les memiliki potensi besar untuk terus berkembang sebagai desa wisata berbasis masyarakat yang tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan identitas budaya lokal,” ungkap Windy.
Desa Les di Kabupaten Buleleng ini hanya satu dari 160 desa wisata yang ada di Bali. Kabupaten Buleleng memang wilayah dengan desa wisata paling banyak. Dari total 160 desa wisata di Bali, sebanyak 81 desa wisata berada di kabupaten ini.
Jadi, selain Desa Sejahtera Astra Desa Les, masih ada banyak desa wisata lain yang harus dijelajahi. Jangan pernah berhenti menjelajahi desa wisata di Bali karena memang tidak ada habisnya.





