HARIAN.FAJAR.CO.ID, TEHERAN—Timur Tengah memanas lagi. Amerika Serikat dan Iran saling serang dalam beberapa jam terakhir.
Menyusul jatuhnya helikopter Apache, AS telah melancarkan serangan terhadap Iran setelah Presiden Donald Trump menuduh negara itu menembak jatuh helikopter AS itu di atas Selat Hormuz.
Pasukan Amerika memulai serangan malam tadi.
“Misi ini merupakan respons proporsional terhadap agresi Iran yang tidak beralasan,” kata Komando Pusat AS (Centcom) dikutip BBC.
Ledakan dilaporkan terjadi di sepanjang pantai Teluk Persia dan Selat Hormuz.
“Ada dua pilot yang terlibat, keduanya selamat dan tidak terluka. Meskipun demikian, Amerika Serikat harus, tentu saja, menanggapi serangan ini,” tulis Trump di Truth Social terkait jatuhnya heli Apache itu.
Menurut pejabat AS, Iran menggunakan drone untuk melancarkan serangan tersebut. Tetapi tidak jelas apakah drone Iran sengaja menyerang helikopter tersebut, kata seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya kepada CBS News.
Menurut situs berita AS Axios, serangan baru tersebut berfokus pada sistem pertahanan dan radar Iran.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa ledakan terdengar di sepanjang pantai Teluk Persia, termasuk di Bandar Abbas, Qeshm, dan Sirik.
Dalam wawancara telepon dengan ABC News, Trump menyalahkan Iran atas serangan AS yang baru.
“Ini adalah tanggapan atas apa yang mereka lakukan, mereka lakukan dengan helikopter kita tadi malam, dan saya percaya tanggapannya harus sangat kuat, sangat dahsyat, dan itulah yang terjadi,” katanya.
Menteri Luar Negeri Iran mengeluarkan ancaman kepada AS setelah kejadian tersebut, mengatakan bahwa negara itu tidak akan membiarkan serangan atau ancaman apa pun terjadi.
Beberapa jam kemudian, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan telah menargetkan Armada Kelima AS di Bahrain.
“Pasukan Angkatan Laut IRGC melancarkan serangan drone pada pukul 02.30 terhadap Armada Kelima AS di Bahrain,” kata IRGC dalam sebuah pernyataan di kantor berita semi-resmi, Tasnim. (amr)





