GRID merupakan istilah yang sempat digunakan pada awal 1980-an untuk menyebut penyakit misterius yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Sebelum dunia mengenal HIV dan AIDS seperti sekarang, para dokter dan peneliti menghadapi kasus penyakit baru yang belum diketahui penyebabnya. Penyakit tersebut menyebabkan infeksi berat, kanker langka, hingga kematian pada sejumlah pasien yang sebelumnya sehat.
Pada masa itu, muncul berbagai spekulasi mengenai asal-usul penyakit tersebut. Sebagian media bahkan menyebutnya sebagai "gay plague" atau wabah gay karena banyak ditemukan pada pria homoseksual.
Lalu, apa itu GRID, mengapa istilah tersebut digunakan, dan bagaimana perjalanan sejarahnya hingga akhirnya dikenal sebagai HIV/AIDS?
GRID adalah singkatan dari Gay-Related Immune Deficiency, yaitu istilah yang digunakan pada awal epidemi HIV/AIDS ketika para ilmuwan belum mengetahui penyebab pasti penyakit tersebut.
Istilah ini muncul karena sebagian besar kasus awal ditemukan pada pria homoseksual di Amerika Serikat. Pada saat itu, para dokter menemukan adanya gangguan kekebalan tubuh yang menyebabkan pasien rentan mengalami pneumonia langka, infeksi oportunistik, dan kanker tertentu yang sebelumnya jarang ditemukan pada orang dengan sistem imun normal.
Karena keterbatasan data dan pengetahuan pada masa itu, penyakit tersebut dianggap hanya menyerang kelompok homoseksual. Dari sinilah lahir istilah GRID yang kemudian banyak digunakan dalam laporan medis maupun pemberitaan media.
Kisah GRID bermula pada 5 Juni 1981 ketika Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat melaporkan lima kasus pneumonia langka pada pria muda di California.
Kasus tersebut menarik perhatian dunia medis karena para pasien tidak memiliki riwayat penyakit yang dapat menjelaskan mengapa sistem kekebalan tubuh mereka mengalami kerusakan serius.
Pada tahun yang sama, dokter juga menemukan peningkatan kasus Kaposi's sarcoma, kanker langka yang menyerang pembuluh darah. Penyakit tersebut ditemukan pada puluhan pria muda yang sebelumnya sehat.
Tanggal 3 Juli 1981 menjadi salah satu momen penting ketika surat kabar The New York Times menerbitkan artikel berjudul tentang "kanker langka pada 41 homoseksual". Pemberitaan tersebut menjadi salah satu laporan media pertama mengenai penyakit yang kemudian diketahui sebagai AIDS.
Pada Januari 1982, media Prancis mulai menyebut fenomena tersebut sebagai "kanker misterius". Beberapa bulan kemudian, istilah "gay syndrome" atau sindrom gay semakin banyak digunakan dalam berbagai pemberitaan internasional.
Mengapa GRID Sempat Disebut 4H Disease?Sebelum penyebab penyakit ditemukan, para peneliti berusaha mengidentifikasi kelompok yang paling sering terdampak. Dari hasil pengamatan awal, penyakit ini banyak ditemukan pada empat kelompok masyarakat.
Karena itu, muncul istilah 4H Disease yang merujuk pada:
- Homosexuals (homoseksual)
- Heroin addicts (pengguna heroin suntik)
- Hemophiliacs (penderita hemofilia)
- Haitians (warga Haiti)
Pada 1982, para ahli kesehatan menyadari bahwa penyakit tersebut merupakan sindrom yang menyebabkan kerusakan sistem kekebalan tubuh secara progresif.
Karena itu, istilah GRID kemudian diganti menjadi AIDS atau Acquired Immunodeficiency Syndrome. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini dikenal sebagai “Sindrom Imunodefisiensi Didapat”.
Perubahan nama ini menjadi langkah penting karena menghilangkan stigma yang melekat pada kelompok tertentu sekaligus memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai penyakit tersebut.
Meskipun istilah AIDS mulai digunakan, penyebab penyakit masih belum diketahui hingga beberapa waktu kemudian.
Dari Mana Asal Virus HIV?Penelitian modern menunjukkan bahwa HIV sebenarnya telah ada jauh sebelum kasus AIDS pertama dilaporkan pada 1981.
Para ilmuwan meyakini HIV berasal dari virus yang menginfeksi simpanse di Afrika Barat pada sekitar tahun 1930-an. Virus tersebut merupakan Simian Immunodeficiency Virus (SIV), yaitu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh primata.
Penularan dari hewan ke manusia diperkirakan terjadi ketika manusia berburu simpanse dan terpapar darah hewan yang terinfeksi. Setelah berhasil beradaptasi di tubuh manusia, virus tersebut mengalami mutasi dan berkembang menjadi HIV.
Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa HIV kemungkinan telah beredar di kalangan manusia sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Bahkan, sampel darah yang diteliti kemudian menunjukkan adanya infeksi HIV pada manusia sejak 1959.
Sedikitnya terdapat lebih dari 40 spesies primata Afrika yang diketahui membawa virus SIV. Beberapa di antaranya menularkan virus kepada manusia dalam peristiwa yang berbeda hingga menghasilkan HIV-1 dan HIV-2.
Bagaimana HIV Menyebar ke Seluruh Dunia?Setelah muncul di Afrika, HIV menyebar secara bertahap ke berbagai negara melalui mobilitas manusia yang semakin tinggi.
Pada awal 1980-an, kasus pertama banyak ditemukan di Amerika Utara. Setelah itu, penyakit menyebar ke Eropa dan berbagai wilayah lain.
Kasus berikutnya ditemukan pada penerima transfusi darah, penderita hemofilia, serta pengguna narkoba suntik. Temuan ini menunjukkan bahwa darah merupakan salah satu jalur utama penularan HIV.
Di Asia, epidemi HIV mulai terdeteksi sekitar tahun 1986 hingga 1987. Thailand menjadi salah satu negara pertama yang melaporkan kasus dalam jumlah besar sebelum kemudian menyebar ke negara-negara Asia Tenggara lainnya, dimana perilaku homoseksual banyak terjadi di negeri gajah putih ini.
Bagaimana HIV Ditemukan?Terobosan besar terjadi pada Mei 1983 ketika tim ilmuwan Institut Pasteur di Perancis berhasil mengidentifikasi retrovirus yang menjadi penyebab AIDS.
Penemuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science dan menjadi tonggak penting dalam sejarah kesehatan dunia.
Berkat penemuan itu, berbagai spekulasi yang berkembang selama bertahun-tahun akhirnya terjawab. Para ilmuwan dapat memahami bagaimana virus menular, menyerang sistem kekebalan tubuh, serta mengembangkan metode diagnosis dan pengobatan yang lebih efektif.
Atas kontribusinya dalam menemukan HIV, Françoise Barré-Sinoussi dan Luc Montagnier menerima Penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 2008.
Perkembangan Penting dalam Penanganan HIVSetelah HIV ditemukan, berbagai kemajuan penting terus terjadi dalam upaya pengendalian penyakit ini.
Beberapa tonggak penting dalam sejarah HIV meliputi:
- 1985: Konferensi AIDS Internasional pertama digelar.
- 1986: Ditemukan bahwa HIV dapat ditularkan dari ibu ke anak melalui ASI.
- 1987: Obat antiretroviral pertama, AZT, disetujui untuk digunakan.
- 1988: Hari AIDS Sedunia pertama diperingati setiap 1 Desember.
- 1991: Pita merah menjadi simbol internasional kepedulian terhadap HIV/AIDS.
- 1996: Terapi kombinasi antiretroviral mulai menurunkan angka kematian akibat AIDS secara signifikan.
- 2011: Timothy Ray Brown atau "Berlin Patient" dinyatakan sembuh dari HIV setelah menjalani transplantasi sel punca.
- 2012: Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat menyetujui penggunaan PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis) sebagai metode pencegahan HIV bagi kelompok berisiko tinggi.
- 2014: UNAIDS meluncurkan target 90-90-90 untuk mempercepat pengendalian epidemi HIV global.
Masih banyak orang yang menganggap HIV dan AIDS merupakan hal yang sama. Padahal, keduanya memiliki arti berbeda.
HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Sementara itu, AIDS merupakan stadium lanjut dari infeksi HIV ketika sistem imun telah mengalami kerusakan berat.
Artinya, seseorang yang mengidap AIDS pasti terinfeksi HIV. Namun, seseorang yang hidup dengan HIV belum tentu mengalami AIDS.
Saat ini, berkat terapi antiretroviral (antiretroviral therapy atau ART), orang dengan HIV dapat hidup sehat, produktif, dan memiliki harapan hidup yang mendekati populasi umum tanpa harus berkembang menjadi AIDS.




